Saturday, September 02, 2006

MENIMBANG PERLAKUAN TERHADAP LUMPUR SIDOARJO

Di tengah-tengah ketidak-tahuan kita kapan semburan Lumpur Panas Sidoarjo itu akan berhenti, pada dasarnya hanya ada dua varian utama pilihan cara memperlakukan genangan Lumpur Sidoarjo, yaitu (1) dengan mempertahankan lumpur itu tetap di darat, dan (2) dengan mengalirkan lumpur itu ke laut. Sementara keputusan belum diambil oleh Pemerintah, berlangsung pertarungan polemik antara keduabelah pihak pendukung masing-masing alternatif itu.

Para pendukung alternatif pertama (lumpur tetap di darat) pada dasarnya beralasan bahwa pembuangan lumpur ke laut akan merusak / merubah lingkungan, merugikan masyarakat nelayan, dan penduduk di daerah pesisir.

Sementara itu, para pendukung alternatif kedua (lumpur dialirkan ke laut) pada dasarnya beralasan bahwa mempertahankan lumpur di darat sama seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak di musim hujan yang akan datang di bulan Oktober.

Sekarang mari kita berhitung secara kasar tentang untung rugi dari kedua alternatif tersebut.

-----------

Keuntungan lumpur tetap di Darat
1). Tidak menambah persoalan baru di kawasan Selat Madura.

Keuntungan mengalirkan lumpur ke Laut
1). Membatasi (mengurangi) volume lumpur di darat. Bila kita berhasil membatasi (syukur bisa mengurangi), berati kita bisa membatasi atau mengurangi persoalan berkaitan dengan genangan lumpur itu. Kerugian materil yang telah terjadi akan terbatas sampai batas genangannya yang sekarang.
2). Mendapatkan kepastian penanganan masalah lumpur. Dengan adanya kepastian arah tindakan, maka tidakan-tidakan yang dilakukan dapat lebih pasti dan terfokus.
3). Memanfaatkan “bantuan” laut untuk menyelesaikan persoalan semburan lumpur ini. Laut adalah tempat pengendapan terakhir segala sesuatu yang ada di darat (Hukum Alam, semua yang mempelajari geologi tahu ini).
4). Persoalan yang terjadi akan hanya terbatas di kawasan pesisir tertentu sesuai dengan kondisi dinamika perairan. Kita bisa mengatakan bahwa daerah pesisir merupakan sisi tertutup dan laut adalah sisi terbuka. Jadi kalau pun semburan lumpur terus berlangsung dalam jangka waktu lama, persoalan tetap terbatas di daerah pesisir tertentu, dan lumpur tambahan akan terus mengalir ke laut dan diendapkan dengan pola tertentu.
5). Bisa lebih mudah mengatasi ancaman bahaya jebolnya tanggul dari genangan lumpur yang telah ada. Dengan catatan bahwa lumpur yang dialirkan ke laut dapat mengimbangi pertambahan atau lebih besar daripada volume lumpur yang disemburkan ke luar dari dalam Bumi.


-----------
Kerugian lumpur tetap di Darat
1). Sampai sekarang volume lumpur terus bertambah, karena semburan belum berhenti. Mempertahan lumpur tetap di darat berarti dua hal: (1) menambah tinggi tanggul – yang berarti meningkatkan ancaman bahaya tanggul jebol, dan (2) menambah luas kawasan genangan – yang berarti akan makin luas kawasan yang akan tergenang. Dengan makin luas kawasan genangan berarti: makin banyak kerugian yang akan kita alami dalam bentuk kerusakan daerah pemukiman, jalan, industri dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi perekonomian dan kondisi soaial. Karena kita tidak tahu kapan semburan lumpur berhenti, maka kita juga tidak tahu sampai kapan tanggul harus terus dibuat atau dipertinggi. Persoalan lumur ini bisa mengurung diri kita sendiri. (Tidak ada kepastian upaya penanganan)
2). Musim hujan akan segera tiba di bulan Oktober, dan ini tidak dapat ditawar-tawar lagi karena fenomena alam. Dengan kualitas tanggul yang lemah seperti sekarang ini (tanggul sementara) bahaya tanggul jebol di musim hujan sangat mungkin terjadi. Sekarang pun dikala tidak hujan tanggul itu sering jebol. Membuat tanggul yang kuat membutuhkan waktu. Apakah cukup waktu kita membuat anggul yang kuat sampai bulan Oktober? (Tidak ada kepastian keamanan jiwa).
3). Dengan kemungkinan genangan lumpur yang makin luas, ancaman kerugian materi juga akan terus bertambah sesuai dengan seberapa luas pertambahan lumpur. Bila semburan lumpur berlangsung sangat lama, maka selama itu pula kerugian materi akan terus bertambah sesuai dengan volume lumpur yang disemburkan. (Tidak ada kepastian keamanan materi).

Kerugian mengalirkan lumpur ke Laut
1). Menambah atau membuka front persoalan baru di kawasan pesisir Selat Madura. Dengan adanya front baru ini, berarti diperlukan berbagai tindakan tambahan, seperti mempelajari kondisi dinamika perairan, konfigurasi dasar laut, dan berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir. Namun demikian, semua hal yang perlu dilakukan terkait dengan pembukaan front baru ini dapat dilakukan dengan suatu kepastian.
2). Terjadi perubahan kondisi lingkungan, seperti sedimentasi yang hebat di daerah pesisir dan kekeruhan perairan, di kawasan tertentu. Untuk sementara perubahan kondisi lingkungan memang merugikan, tetapi dengan berjalannya waktu, akan terjadi penyesuaian secara alamiah, dan ada kemungkinan kondisi dapat berbalik menjadi menguntungkan. Perubahan kondisi lingkungan karena kekeruhan ini, hanya akan menimbulkan kerugian bila ada aktifitas manusia di daerah tersebut. Bila aktifitas manusia tidak ada, maka perubahan kondisi lingkungan itu tidak jadi masalah. Andaikan ada aktifitas manusia yang terkena, bisa dipindahkan (perlu survei lapangan untuk menilai situasi ini). Apabila sedimentasi yang terjadi sangat tinggi, mungkin kita bisa mendapatkan daratan baru.
3). Perlu kegiatan monitoring selama lumpur masih terus dialirkan ke laut.

-----------

Demikian gambaran sekilas tentang keuntungan dan kerugian dari pilihan mempertahankan lumpur tetap di darat, atau mengalirkan lumpur ke laut. Dengan mengungkapkan hal itu, harapannya adalah bahwa kita bisa berpikir dan mengambil keputusan dengan baik dan segera. Serta, tidak terjebak di dalam polemik yang makin merumitkan persoalan, sementara bahaya yang mengancam bakin besar dan makin dekat.


Salam dari Ancol, 2 September 2006

Wahyu

Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi permintaan Bapak Sad Agus.
Terima kasih banyak untuk komentarnya.

1 comment:

heru said...

makin lama di kalkulasi makin bahaya bagi warga sekitar sana..
menurut saya: buang saja ke laut...
:)

salam,
.heru.