Sampai hari ini, masalah tuntutan ganti rugi oleh warga Perum Tanggul Angin Sejahtera 1 belum jelas. Apa yang akan dilakukan warga? Mari kita simak laporan suarasurabaya.net berikut ini:
02 Maret 2007, 17:59:04, Laporan Ratna Puspita Sari
Senin, Warga PerumTAS 1 Aksi Lagi
ssnet Warga korban lumpur asal Perum TAS 1, rencanakan kembali unjuk rasa pada Senin (05/03), di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
AGUSTINUS SAXON diantara perwakilan warga pada RULLY reporter Suara Surabaya mengatakan, mereka akan konvoi dengan menggunakan sepeda motor mulai dari Pasar Baru Porong, pada pukul 07.00 WIB. Jumlah massa yang dikerahkan sekitar empat ribu orang.
AGUSTINUS mengatakan, ribuan pengunjukrasa ini dimungkinkan juga akan dilanjutkan dengan aksi blokade jalan, seperti kejadian unjuk rasa pada 22 Februari lalu. Hanya AGUSTINUS masih belum bisa memastikan lokasi tempat unjuk rasa, semua tergantung situasi di lapangan.
Dalam unjuk rasa pekan depan, yang dituntut warga masih mengenai kepastian ganti rugi. Mereka menuntut ganti rugi diberikan secara tunai atau cash and carry bukan ganti rumah dalam konsep restlement.
************
Kita belum tahu apakah rencana demontrasi itu akan terlaksana atau tidak. Bila terlaksana, sangat mungkin akan timbul lagi kemacetan lalu lintas. Banyak warga lain yang turut dirugikan dengankemacetan itu.
Pada demontrasi yang lalu, polisi membubarkan mereka. Apakah hal itu harus terulang lagi? Ada bayangan kekhawatiran akan hal itu berkembang menjadi lebih buruk, misalnya warga menjadi lebih beringas karena merasa diabaikan atau dipermainkan atau tidak diperdulikan. Atau, ada kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kerusuhan yang meminta korban jiwa.
Apapun yang terjadi, semua itu adalah tanggungjawab Pemerintah, karena salah satu fungsi Pemerintah adalah untuk kesejahterasan masyarakat. Terombang-ambingnya nasib mereka adalah simbol dari ketidakmampuan Pemerintah menyelesaikan persoalan.
Semburan lumpur di Sidoarjo itu belum dapat dihentikan, dan juga belum dikatahui kapan berakhirnya. Usaha untuk menghentikannya pun masih terus dilakukan. Namun, adalah kenyataan bahwa ada sebagian penduduk yang sangat menderita karena situasi yang tidak menentu itu. Apakah mereka juga harus hidup dalam ketidak menentuan? Sampai kapan?
Karena itu, sekarang bukan saatnya lagi mencari apa penyebab semburan lumpur itu dan bagaimana mana mengatasinya, atau berdebat tentang siapa yang bertanggungjawab aatas semburan itu. Yang penting dilakukan adaah bagaimana agar tidak ada warga yang menderita karena semburan itu. Dan Itu tanggungjawab Pemerintah.
Salam dari Ancol, 4 Februari 2007
Wahyu
Sunday, March 04, 2007
Monday, February 26, 2007
Menanti Perundingan Lumpur Sidoarjo
Setelah pemblokiran jalan tol dan rel kereta api dibubarkan polisi, pada Sabtu 24 Febuari 2006 sore dikabarkan oleh SuaraSurabaya.net bahwa warga Perum TAS I akan berunding membahas bantuan dari Lembaga bantuan Hukum (LBH) Surabaya yang menyatakan bersedia akan melakukan pendampingan terhadap korban luapan lumpur Lapindo warga TAS untuk upaya litigasi. AGUSTINUS diantara tim perunding warga korban lumpur mengatakan, tawaran LBH sementara ini akan dibicarakan malam ini di penampungan Pasar Baru Porong. Selain membicarakan tawaran LBH nantinya dalam perundingan ini akan membahas persiapan-persiapan menjelang rencana perwakilan yang akan ditemui JUSSUF KALLA Wakil Presiden (Wapres) di Surabaya. Menurut rencana, Senin (26/02) lusa, Wapres akan menemui perwakilan warga untuk membicarakan tuntutan cash and carry. Jika Senin lusa pemerintah yang diwakili Wapres tidak bisa memberikan kepastian tentang ganti rugi cash and carry, bisa saja warga akan melakukan blokade yang sama seperti sebelumnya. Rencananya yang akan diblokade jalan menuju Bandara Internasional Juanda. Demikian berita dari ssnet, 24 Februari 2007, 18:47:48.
Sebenarnya, yang dituntut warga adalah ganti rugi (ganti atas kerugian yang diderita). Sederhana. Tetapi persoalan menjadi rumit karena siapa yang harus membayarkan ganti rugi itu. PT Lapindo Brantas tidak mencantumkan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) dalam daftar wilayah yang mendapatkan ganti rugi, walaupun perumahan itu juga tenggelam dalam Lumpur. Manajer Sumber Daya Manusia PT Lapindo Sebastian Ja’afar saat dialog dengan 16 perwakilan Perumtas mengatakan, Pedoman soal ganti rugi hanya pada peta yang dikirimkan Timnas (tim nasional penganggulangan lumpur Lapindo) pada 4 Desember lalu.” Pada peta itu, desa-desa yang mendapat ganti rugi adalah Jatirejo, Siring, Renokenongo dan Kedungbendo (non perum TAS). Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi mengatakan, “Sejak pipa meledak Perumtas mulai terkena lumpur, jadi peta yang dibuat timnas sebenarnya tidak sesuai,” kata Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi.
Sementara Lapindo tetap berpegang pada hasil kesepakatan sebelumnya, dan warga tetap pada tuntutannya karena kenyataannya memang mereka tergenang lumpur, ternyata Pemerintah tidak mengambil tindakan apapun. Karena itu bisa dimengerti bila warga Perum TAS merasa terombang-ambing tanpa kepastian nasib., dan kemudian mereka memakai bahasa yang lebih keras untuk menyuarakan tuntutan mereka. Itulah yang kemudian mencetuskan kegiatan pemblokiran jalan tol dan rel kereta api beberapa hari yang lalu.
Secara hukum, Lapindo tidak dapat disalahkan, karena mereka telah memenuhi kesepakatan. Namun, kenyataan di lapangan, Perum TAS tergenang lumpur dan warganya sekarang tinggal di pengungsian. Melihat desa-desa lain mendapat ganti rugi, maka wajar bila warga Perum TAS juga menuntut ganti rugi. Seharusnya, menghadapi situasi ini pemerintah turun tangan.
Pembuatan peta kawasan yang akan mendapat ganti rugi, yang disepakati pada tanggal 4 Desember 2006, sangat tergesa-gesa, dan belum memperhitungkan kondisi semburan lumpur yang belum dapat dipastikan kapan berhentinya. Itu suatu keteledoran. Seharusnya keteledoran itu menjadi tanggungjawab pemerintah, karena pemerintah melalui Timnas yang menyodorkan peta itu kepada Lapindo untuk disepakati.
Di waktu-waktu yang akan datang. Bila upaya menghentikan atau mengurangi semburan lumpur dengan bola-bola benton gagal. Sangat mungkin bila kawasan genangan lumpur akan makin meluas melampaui luas kawasan genangan yang sekarang. Seharusnya, kemungkinan ini diperhitungkan dalam menetapkan kawasan yang mendapat ganti rugi atau dalam menentukan tindakan lain terkait dengan upaya penanganan semburan Lumpur Sidoarjo.
Salam dari Ancol, 26 Febuari 2007
Wahyu
Sebenarnya, yang dituntut warga adalah ganti rugi (ganti atas kerugian yang diderita). Sederhana. Tetapi persoalan menjadi rumit karena siapa yang harus membayarkan ganti rugi itu. PT Lapindo Brantas tidak mencantumkan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) dalam daftar wilayah yang mendapatkan ganti rugi, walaupun perumahan itu juga tenggelam dalam Lumpur. Manajer Sumber Daya Manusia PT Lapindo Sebastian Ja’afar saat dialog dengan 16 perwakilan Perumtas mengatakan, Pedoman soal ganti rugi hanya pada peta yang dikirimkan Timnas (tim nasional penganggulangan lumpur Lapindo) pada 4 Desember lalu.” Pada peta itu, desa-desa yang mendapat ganti rugi adalah Jatirejo, Siring, Renokenongo dan Kedungbendo (non perum TAS). Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi mengatakan, “Sejak pipa meledak Perumtas mulai terkena lumpur, jadi peta yang dibuat timnas sebenarnya tidak sesuai,” kata Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi.
Sementara Lapindo tetap berpegang pada hasil kesepakatan sebelumnya, dan warga tetap pada tuntutannya karena kenyataannya memang mereka tergenang lumpur, ternyata Pemerintah tidak mengambil tindakan apapun. Karena itu bisa dimengerti bila warga Perum TAS merasa terombang-ambing tanpa kepastian nasib., dan kemudian mereka memakai bahasa yang lebih keras untuk menyuarakan tuntutan mereka. Itulah yang kemudian mencetuskan kegiatan pemblokiran jalan tol dan rel kereta api beberapa hari yang lalu.
Secara hukum, Lapindo tidak dapat disalahkan, karena mereka telah memenuhi kesepakatan. Namun, kenyataan di lapangan, Perum TAS tergenang lumpur dan warganya sekarang tinggal di pengungsian. Melihat desa-desa lain mendapat ganti rugi, maka wajar bila warga Perum TAS juga menuntut ganti rugi. Seharusnya, menghadapi situasi ini pemerintah turun tangan.
Pembuatan peta kawasan yang akan mendapat ganti rugi, yang disepakati pada tanggal 4 Desember 2006, sangat tergesa-gesa, dan belum memperhitungkan kondisi semburan lumpur yang belum dapat dipastikan kapan berhentinya. Itu suatu keteledoran. Seharusnya keteledoran itu menjadi tanggungjawab pemerintah, karena pemerintah melalui Timnas yang menyodorkan peta itu kepada Lapindo untuk disepakati.
Di waktu-waktu yang akan datang. Bila upaya menghentikan atau mengurangi semburan lumpur dengan bola-bola benton gagal. Sangat mungkin bila kawasan genangan lumpur akan makin meluas melampaui luas kawasan genangan yang sekarang. Seharusnya, kemungkinan ini diperhitungkan dalam menetapkan kawasan yang mendapat ganti rugi atau dalam menentukan tindakan lain terkait dengan upaya penanganan semburan Lumpur Sidoarjo.
Salam dari Ancol, 26 Febuari 2007
Wahyu
Monday, February 19, 2007
Banjir Jakarta 2007: mencegah atau memperbaiki?
"Mencegah lebih baik daripada mengobati".
Kata pepatah ini sudah sering kita dengar dan diamini orang bila mendengarnya. Tetapi, ternyata sulit sekali untuk dilaksanakan.
Sore ini detik.com memberitakan bahwa banjir di awal Febuari 2007 yang lalu menyebabkan kerugian sebesar kira-kira Rp. 8,8 Triliun.
http://www.detikfinance.com/index.php/kanal.read/tahun/2007/
bulan/02/tgl/19/time/155940/idnews/744049/idkanal/4
Angka itu bukan angka yang kecil. Dan, banyak yang dapat bisa kita perbuat dengan uang sebesar itu. Sekarang coba kita ingat lagi, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk program penanggulangan banjir dari Pemda DKI?
Pada tanggal 10 Febuari 2007 yang lalu, setelah banjir, Tempo Interaktif mengabarkan bahwa pemerintah menambah dana sebesar Rp. 2,7 Triliun untuk menyelesaikan Proyek Banjir Kanal Timur, dengan harapan proyek itu dapat selesai dalam 2 tahun.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/02/10/brk,20070210-92915,id.html
Dengan kondisi seperti itu, boleh kan bila kita bertanya, "Mengapa uang sebanyak itu tidak diberikan sejak Proyek BKT dicetuskan?"
Secara sederhana, kalau uang sebanyak itu diberikan pada tahun 2003, setelah banjir tahun 2002. Sangat mungkin Jakarta tidak kebanjiran seperi di awal Febuari 2007 lalu. Katakanlah, bila kala itu diberikan sebesar 3 triliun, tentu masih "tidak kehilangan" sebesar 5 triliun.
Adakah yang salah dalam cara "kita" berpikir? Bukankah itu berarti kita memilih "rugi" daripada "tidak rugi"?
Entah sampai kapan pola berpikir seperti itu masih terus dianut oleh pengambil keputusan.
Memang, dalam kondisi "tidak ada bencana" nilai 3 triliun "terasa sangat tinggi". Apalagi bila hanya untuk membuat kanal yang akan dilalui air setahun sekali. Tidak ada keuntungan materi yang langsung dari kanal-kanal itu. Hal ini berbeda dengan membangun pusat-pusat perdagangan dan bisnis.
Semoga Banjir Jakarta 2007 dapat menjadi pelajaran, sehingga kita bisa memilih "tidak rugi".
Salam dari Ancol, 19 Febuari 2007
Wahyu
Kata pepatah ini sudah sering kita dengar dan diamini orang bila mendengarnya. Tetapi, ternyata sulit sekali untuk dilaksanakan.
Sore ini detik.com memberitakan bahwa banjir di awal Febuari 2007 yang lalu menyebabkan kerugian sebesar kira-kira Rp. 8,8 Triliun.
http://www.detikfinance.com/index.php/kanal.read/tahun/2007/
bulan/02/tgl/19/time/155940/idnews/744049/idkanal/4
Angka itu bukan angka yang kecil. Dan, banyak yang dapat bisa kita perbuat dengan uang sebesar itu. Sekarang coba kita ingat lagi, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk program penanggulangan banjir dari Pemda DKI?
Pada tanggal 10 Febuari 2007 yang lalu, setelah banjir, Tempo Interaktif mengabarkan bahwa pemerintah menambah dana sebesar Rp. 2,7 Triliun untuk menyelesaikan Proyek Banjir Kanal Timur, dengan harapan proyek itu dapat selesai dalam 2 tahun.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/02/10/brk,20070210-92915,id.html
Dengan kondisi seperti itu, boleh kan bila kita bertanya, "Mengapa uang sebanyak itu tidak diberikan sejak Proyek BKT dicetuskan?"
Secara sederhana, kalau uang sebanyak itu diberikan pada tahun 2003, setelah banjir tahun 2002. Sangat mungkin Jakarta tidak kebanjiran seperi di awal Febuari 2007 lalu. Katakanlah, bila kala itu diberikan sebesar 3 triliun, tentu masih "tidak kehilangan" sebesar 5 triliun.
Adakah yang salah dalam cara "kita" berpikir? Bukankah itu berarti kita memilih "rugi" daripada "tidak rugi"?
Entah sampai kapan pola berpikir seperti itu masih terus dianut oleh pengambil keputusan.
Memang, dalam kondisi "tidak ada bencana" nilai 3 triliun "terasa sangat tinggi". Apalagi bila hanya untuk membuat kanal yang akan dilalui air setahun sekali. Tidak ada keuntungan materi yang langsung dari kanal-kanal itu. Hal ini berbeda dengan membangun pusat-pusat perdagangan dan bisnis.
Semoga Banjir Jakarta 2007 dapat menjadi pelajaran, sehingga kita bisa memilih "tidak rugi".
Salam dari Ancol, 19 Febuari 2007
Wahyu
Thursday, February 08, 2007
Peta Masalah Lingkungan di Kota Pesisir Megapolitan Jakarta
Banjir yang melanda Kota Pesisir Megapolitan Jakarta adalah konsekuensi logis dari lokasi kota yang terletak di kawasan yang secara geologis dikenal sebagai Dataran Banjir. Dataran banjir itu sendiri secara genetik adalah suatu areal di kedua sisi sungai yang terbentuk oleh pengendapan sedimen yang terjadi oleh mekanisme banjir. Jadi, banjir itu sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah pembentukan dataran Jakarta. Dapat dikatakan, tanpa banjir di masa lalu (waktu geologis) dataran Jakarta tidak akan pernah ada.
Kini, di atas kawasan yang tempat banjir itu berkembang Kota Megapolitan Jakarta. Seyogyanya, pembangunan kota itu dilakukan dengan memperhitungkan karakter lokasinya itu. Namun, tampaknya hal itu telah diabaikan, dan sekarang kita melihat bahwa Jakarta mengalami persoalan rumit dengan banjir.
Persoalan lingkungan yang utama di Jakarta memang banjir, tetapi sebenarnya tidak hanya itu. Banyak persoalan lingkungan yang muncul di Jakarta seirama dengan berkembangnya Kota Jakarta dan kawasan sekitarnya. Di bawah ini adalah gambaran peta persoalan lingkungan yang ada di Jakarta.
Kini, di atas kawasan yang tempat banjir itu berkembang Kota Megapolitan Jakarta. Seyogyanya, pembangunan kota itu dilakukan dengan memperhitungkan karakter lokasinya itu. Namun, tampaknya hal itu telah diabaikan, dan sekarang kita melihat bahwa Jakarta mengalami persoalan rumit dengan banjir.
Persoalan lingkungan yang utama di Jakarta memang banjir, tetapi sebenarnya tidak hanya itu. Banyak persoalan lingkungan yang muncul di Jakarta seirama dengan berkembangnya Kota Jakarta dan kawasan sekitarnya. Di bawah ini adalah gambaran peta persoalan lingkungan yang ada di Jakarta.

Dari peta persoalan tersebut tampak bahwa, meskipun ada sebab-sebab alamiah, persoalan lingkungan di Jakarta berkaitan erat dengan aktifitas manusia. Oleh karena itu, upaya menyelesaikan persoalan banjir harus melalui dua pendekatan, yaitu: 1) pendekatan yang berkaitan dengan karakteristik lingkungan dataran banjir, dan 2) pendekatan berkaitan dengan aktifitas manusia.
Salam dari Ancol, 8 Febuari 2007
Wahyu
Saturday, February 03, 2007
Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta
Banjir benar-benar telah melanda Jakarta. Bila kemaren Jum'at 2 Febuari 2007 Jakarta dinyatakan Siaga III, maka pada hari ini telah dinyatakan Siaga I dalam menghadapi masalah banjir. Banjir kali ini mengingatkan kita pada banjir pada tahun 2002 yang lalu. Siklus banjir lima tahunan telah datang.
Dengan banjir ini, berbagai upaya mengatasi masalah banjir yang telah dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun (2002 - 2007) seakan tidak ada artinya. Berbagai pernyataan yang muncul sebelumnya tentang kesiapan menghadapi banjir, telah terbukti hanya isapan jempol belaka.
Persoalan banjir di Jakarta tidak mungkin diselesaikan oleh Jakarta sendiri. Sama-sama kita ketahui bahwa air yang datang melanda Jakarta datang dari Bogor. Kenyataan ini adalah hal yang tidak mungkin di nafikan. Setiap musim hujan tiba, volume air yang datang dari Bogor tidak sanggup ditampung oleh sistem aliran sungai yang melintas di Jakarta. Keadaan ini terekspresikan dengan hadirnya Banjir.
Berbagai ide untuk menyelesaikan masalah banjir di jakarta ini sebenarnya telah dikemukakan. Perlunya upaya yang terpadu untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta juga telah diungkapkan sejak lama oleh para ahli. Tetapi semua usulan yang diajukan itu kandas.
Mengapa???
Mari kita simak artikel di bawah ini yang saya kutip dari Kompas Cyber Media, Sabtu, 3 Febuari 2007.
******************
Banjir Jakarta Perlu Solusi Terintegrasi
(Pembuka artikal dihilangkan)
Pada tahun 2001, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merilis foto satelit mengenai perubahan penggunaan lahan di Bogor, terutama di daerah tangkapan air (catchment area) hulu Sungai Ciliwung, dari kawasan hijau yang diisi vegetasi menjadi kawasan terbangun. Setahun kemudian, banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya.
Data LAPAN, kawasan terbangun di daerah itu, yang pada 1992 hanya 101.363 hektar, pada 2006 naik dua kali lipat menjadi 225.171 hektar. Sedangkan kawasan tidak terbangun yang semula 665.035 hektar menyusut menjadi 541.227 hektar.
Menurut Bambang S Tedjasukmana, Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN, di Bogor, permukiman meluas di sepanjang daerah tangkapan air Sungai Ciliwung. Limpahan penduduk dan aktivitas dari Jakarta menyebabkan perumahan, kawasan jasa dan perdagangan, serta industri terus menyebar ke Citeureup, sampai ke Depok.
Di hulu, air hujan yang seharusnya terserap ke tanah justru mengalir ke sungai. Tidak ada lagi pepohonan yang menyimpan air di dalam tanah. Tidak ada lagi tanah yang terbuka untuk menyimpan air.
Kawasan yang semula diperuntukkan untuk kawasan hijau telah berganti fungsi karena tuntutan perkembangan ekonomi kota. Fungsi konservasi lingkungan tidak lagi diperhatikan.
Di hilir, daerah aliran sungai yang masuk ke Jakarta pun dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya. Bahkan, beberapa bagian badan sungai menyempit karena banyaknya rumah yang didirikan di atas sungai.
Pengamatan Kompas, Sungai Ciliwung yang dulu lebarnya mencapai 40 meter, kini menyempit antara 13 meter sampai 20 meter. Kedalaman sungai di beberapa lokasi juga tinggal dua meter.
Dengan kondisi itu, hujan dengan intensitas sedang di kawasan hulu atau bahkan hujan di dalam Kota Jakarta pun akan membuat Sungai Ciliwung langsung meluap. Banjir pun tidak terhindarkan di Jakarta.
Langkah terintegrasi
Menurut peneliti hidrologi dan rekayasa lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, masalah banjir yang kompleks dari hulu sampai hilir membutuhkan penanganan yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir juga.
"Menangani banjir di hilir tanpa memperbaiki kawasan hulu akan menjadi pekerjaan sia-sia karena limpahan air banjir dari hulu akan selalu lebih besar dari daya tampung sungai," ujarnya.
Pada kondisi normal, kata Firdaus, debit air yang masuk Sungai Ciliwung sampai di Pintu Air Manggarai mencapai 28 meter kubik per detik. Sedangkan pada saat hujan lebat dan banjir, debit air melonjak sampai 200 meter kubik per detik.
Fluktuasi debit air yang sangat tajam itu menandakan rendahnya daya serap air di hulu dan kecilnya daya tampung di hilir.
Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf mengemukakan, perbaikan kawasan hulu dengan reboisasi atau pembatasan pengalihan penggunaan lahan sulit dilakukan. Otonomi daerah membuat pemerintah kabupaten dan kota di kawasan hulu lebih memilih peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari pemberian izin untuk perumahan atau kawasan komersial.
Oleh karena itu, ujar Wisnu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajukan dua usul pencegahan banjir di hulu. Kedua usulan itu adalah sudetan Sungai Ciliwung yang dihubungkan ke Sungai Cisadane dan membangun bendungan Ciawi di hulu Sungai Ciliwung. Kedua usulan itu bertujuan untuk mengatur debit air yang akan masuk ke hilir Sungai Ciliwung.
Sudetan Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane dimaksudkan untuk mengalihkan debit air banjir Ciliwung ke sungai yang mengalir ke Tangerang itu. Daerah resapan air Cisadane yang relatif masih hijau dan badan sungai yang belum menyempit dinilai sanggup menampung limpahan air banjir dari Sungai Ciliwung.
Sayangnya, proyek yang rencananya akan didanai oleh Jepang itu ditolak oleh para pemuka masyarakat dan Pemerintah Kota Tangerang. Tanpa dilimpahi air dari Ciliwung, Sungai Cisadane pun sering menimbulkan banjir di Tangerang. Mengingat otonomi daerah, Pemprov Jakarta tidak dapat memaksakan kehendaknya dan rencana itu batal.
Rencana membangun bendungan Ciawi juga gagal. Pemprov DKI Jakarta yang bersedia membayar Rp 200 miliar untuk pembebasan lahan seluas 200 hektar justru tidak dapat menggunakan dananya. Dana APBD tidak dapat digunakan untuk pembangunan di luar wilayah administrasi, kecuali diberikan dalam bentuk hibah ke Pemerintah Kabupaten Bogor.
Namun, karena tidak ada jaminan dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menggunakan dana hibah guna membangun bendungan Ciawi, rencana itu akhirnya tidak pernah terwujud.
Di sisi hilir, kata Wisnu, Jakarta sangat mengandalkan Banjir Kanal Timur. Saluran yang saat ini sedang dalam masa pembebasan lahan diprediksikan dapat menampung limpahan air dari lima sungai utama di Jakarta dan melindungi kawasan seluas 270 kilometer persegi.
Banjir Kanal Timur akan melengkapi Banjir Kanal Barat untuk menampung air dari 40 persen wilayah Jakarta yang lebih rendah dari permukaan laut. Air itu akan dialirkan dengan cepat ke laut dengan menggunakan sistem polder dan pompa.
Solusi
Direktur Tata Ruang dan Perumahan Bappenas Salysra Widya mengutarakan, permasalahan egoisme wilayah dalam menyusun langkah mengatasi banjir dapat dijembatani oleh pemerintah pusat. Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dapat duduk bersama dengan pemerintah pusat untuk merealisasikan ide rekayasa sungai dan pembatasan peralihan penggunaan lahan di kawasan daerah resapan air.
Namun, Pemprov DKI Jakarta perlu memberikan kompensasi tertentu kepada pemerintah-pemerintah daerah yang bersangkutan agar mereka tetap dapat memperoleh PAD jika menjalankan rencana itu. Dengan demikian, semua daerah saling diuntungkan meskipun Jakarta harus mengeluarkan dana besar untuk itu.
Solusi di hulu harus berkesinambungan, antara pembatasan penggunaan lahan, reboisasi intensif, dan pembangunan bendungan. Jika hanya satu langkah yang dilaksanakan, langkah lain akan menjadi kurang efektif.
Di hilir, selain pembuatan Banjir Kanal Timur, Firdaus mengusulkan pembuatan penampungan air bawah tanah dalam skala besar atau deep tunnel reservoir. Penampungan air bawah tanah, seperti yang diterapkan Chicago (Amerika Serikat) dan Singapura mampu menampung sekitar 200 juta meter kubik air dan dapat bertahan 125 tahun.
Ide penampungan air bawah tanah adalah menampung semua limpahan air banjir dan limbah cair dari sanitasi lingkungan ke dalam bendungan bawah tanah. Air tampungan itu dapat diolah dan digunakan sebagai cadangan air baku bagi Jakarta.
Saat ini, kata Firdaus, Indonesia menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim tersebut menyebabkan musim hujan lebih pendek, tetapi curah hujan lebih tinggi.
Jika air tersebut tidak disimpan dalam penampungan yang besar, Jakarta akan terancam kekeringan dan banjir dalam waktu yang bergantian sepanjang tahun. Bencana yang akan semakin memiskinkan Indonesia.
Biaya pembuatan penampungan air bawah tanah itu, menurut Firdaus, diperkirakan "hanya" memerlukan Rp 12 triliun. Jumlah tersebut masih terjangkau oleh APBD DKI Jakarta 2007 yang mencapai Rp 21,5 triliun. (Emilius Caesar Alexey)
******************
Sekarang, mari kita simak solusi yang diajukan itu. Apakah solusi membuat penampungan air bawah tanah akan berhasil?
Rasanya perlu kita pelajari lebih jauh kemungkinannya. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan Banjir Kanal Timur mungkin dapat kita cermati.
Selain itu, kurangnya disiplin kita atau ketidak-mampuan kita dalam mengelola sampah dapat menjadi masalah tersendiri bila penampungan itu nantinya dapat terwujud.
Salam dari Ancol, Sabtu, 3 Febuari 2007
Wahyu
Dengan banjir ini, berbagai upaya mengatasi masalah banjir yang telah dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun (2002 - 2007) seakan tidak ada artinya. Berbagai pernyataan yang muncul sebelumnya tentang kesiapan menghadapi banjir, telah terbukti hanya isapan jempol belaka.
Persoalan banjir di Jakarta tidak mungkin diselesaikan oleh Jakarta sendiri. Sama-sama kita ketahui bahwa air yang datang melanda Jakarta datang dari Bogor. Kenyataan ini adalah hal yang tidak mungkin di nafikan. Setiap musim hujan tiba, volume air yang datang dari Bogor tidak sanggup ditampung oleh sistem aliran sungai yang melintas di Jakarta. Keadaan ini terekspresikan dengan hadirnya Banjir.
Berbagai ide untuk menyelesaikan masalah banjir di jakarta ini sebenarnya telah dikemukakan. Perlunya upaya yang terpadu untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta juga telah diungkapkan sejak lama oleh para ahli. Tetapi semua usulan yang diajukan itu kandas.
Mengapa???
Mari kita simak artikel di bawah ini yang saya kutip dari Kompas Cyber Media, Sabtu, 3 Febuari 2007.
******************
Banjir Jakarta Perlu Solusi Terintegrasi
(Pembuka artikal dihilangkan)
Pada tahun 2001, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merilis foto satelit mengenai perubahan penggunaan lahan di Bogor, terutama di daerah tangkapan air (catchment area) hulu Sungai Ciliwung, dari kawasan hijau yang diisi vegetasi menjadi kawasan terbangun. Setahun kemudian, banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya.
Data LAPAN, kawasan terbangun di daerah itu, yang pada 1992 hanya 101.363 hektar, pada 2006 naik dua kali lipat menjadi 225.171 hektar. Sedangkan kawasan tidak terbangun yang semula 665.035 hektar menyusut menjadi 541.227 hektar.
Menurut Bambang S Tedjasukmana, Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN, di Bogor, permukiman meluas di sepanjang daerah tangkapan air Sungai Ciliwung. Limpahan penduduk dan aktivitas dari Jakarta menyebabkan perumahan, kawasan jasa dan perdagangan, serta industri terus menyebar ke Citeureup, sampai ke Depok.
Di hulu, air hujan yang seharusnya terserap ke tanah justru mengalir ke sungai. Tidak ada lagi pepohonan yang menyimpan air di dalam tanah. Tidak ada lagi tanah yang terbuka untuk menyimpan air.
Kawasan yang semula diperuntukkan untuk kawasan hijau telah berganti fungsi karena tuntutan perkembangan ekonomi kota. Fungsi konservasi lingkungan tidak lagi diperhatikan.
Di hilir, daerah aliran sungai yang masuk ke Jakarta pun dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya. Bahkan, beberapa bagian badan sungai menyempit karena banyaknya rumah yang didirikan di atas sungai.
Pengamatan Kompas, Sungai Ciliwung yang dulu lebarnya mencapai 40 meter, kini menyempit antara 13 meter sampai 20 meter. Kedalaman sungai di beberapa lokasi juga tinggal dua meter.
Dengan kondisi itu, hujan dengan intensitas sedang di kawasan hulu atau bahkan hujan di dalam Kota Jakarta pun akan membuat Sungai Ciliwung langsung meluap. Banjir pun tidak terhindarkan di Jakarta.
Langkah terintegrasi
Menurut peneliti hidrologi dan rekayasa lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, masalah banjir yang kompleks dari hulu sampai hilir membutuhkan penanganan yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir juga.
"Menangani banjir di hilir tanpa memperbaiki kawasan hulu akan menjadi pekerjaan sia-sia karena limpahan air banjir dari hulu akan selalu lebih besar dari daya tampung sungai," ujarnya.
Pada kondisi normal, kata Firdaus, debit air yang masuk Sungai Ciliwung sampai di Pintu Air Manggarai mencapai 28 meter kubik per detik. Sedangkan pada saat hujan lebat dan banjir, debit air melonjak sampai 200 meter kubik per detik.
Fluktuasi debit air yang sangat tajam itu menandakan rendahnya daya serap air di hulu dan kecilnya daya tampung di hilir.
Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf mengemukakan, perbaikan kawasan hulu dengan reboisasi atau pembatasan pengalihan penggunaan lahan sulit dilakukan. Otonomi daerah membuat pemerintah kabupaten dan kota di kawasan hulu lebih memilih peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari pemberian izin untuk perumahan atau kawasan komersial.
Oleh karena itu, ujar Wisnu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajukan dua usul pencegahan banjir di hulu. Kedua usulan itu adalah sudetan Sungai Ciliwung yang dihubungkan ke Sungai Cisadane dan membangun bendungan Ciawi di hulu Sungai Ciliwung. Kedua usulan itu bertujuan untuk mengatur debit air yang akan masuk ke hilir Sungai Ciliwung.
Sudetan Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane dimaksudkan untuk mengalihkan debit air banjir Ciliwung ke sungai yang mengalir ke Tangerang itu. Daerah resapan air Cisadane yang relatif masih hijau dan badan sungai yang belum menyempit dinilai sanggup menampung limpahan air banjir dari Sungai Ciliwung.
Sayangnya, proyek yang rencananya akan didanai oleh Jepang itu ditolak oleh para pemuka masyarakat dan Pemerintah Kota Tangerang. Tanpa dilimpahi air dari Ciliwung, Sungai Cisadane pun sering menimbulkan banjir di Tangerang. Mengingat otonomi daerah, Pemprov Jakarta tidak dapat memaksakan kehendaknya dan rencana itu batal.
Rencana membangun bendungan Ciawi juga gagal. Pemprov DKI Jakarta yang bersedia membayar Rp 200 miliar untuk pembebasan lahan seluas 200 hektar justru tidak dapat menggunakan dananya. Dana APBD tidak dapat digunakan untuk pembangunan di luar wilayah administrasi, kecuali diberikan dalam bentuk hibah ke Pemerintah Kabupaten Bogor.
Namun, karena tidak ada jaminan dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menggunakan dana hibah guna membangun bendungan Ciawi, rencana itu akhirnya tidak pernah terwujud.
Di sisi hilir, kata Wisnu, Jakarta sangat mengandalkan Banjir Kanal Timur. Saluran yang saat ini sedang dalam masa pembebasan lahan diprediksikan dapat menampung limpahan air dari lima sungai utama di Jakarta dan melindungi kawasan seluas 270 kilometer persegi.
Banjir Kanal Timur akan melengkapi Banjir Kanal Barat untuk menampung air dari 40 persen wilayah Jakarta yang lebih rendah dari permukaan laut. Air itu akan dialirkan dengan cepat ke laut dengan menggunakan sistem polder dan pompa.
Solusi
Direktur Tata Ruang dan Perumahan Bappenas Salysra Widya mengutarakan, permasalahan egoisme wilayah dalam menyusun langkah mengatasi banjir dapat dijembatani oleh pemerintah pusat. Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dapat duduk bersama dengan pemerintah pusat untuk merealisasikan ide rekayasa sungai dan pembatasan peralihan penggunaan lahan di kawasan daerah resapan air.
Namun, Pemprov DKI Jakarta perlu memberikan kompensasi tertentu kepada pemerintah-pemerintah daerah yang bersangkutan agar mereka tetap dapat memperoleh PAD jika menjalankan rencana itu. Dengan demikian, semua daerah saling diuntungkan meskipun Jakarta harus mengeluarkan dana besar untuk itu.
Solusi di hulu harus berkesinambungan, antara pembatasan penggunaan lahan, reboisasi intensif, dan pembangunan bendungan. Jika hanya satu langkah yang dilaksanakan, langkah lain akan menjadi kurang efektif.
Di hilir, selain pembuatan Banjir Kanal Timur, Firdaus mengusulkan pembuatan penampungan air bawah tanah dalam skala besar atau deep tunnel reservoir. Penampungan air bawah tanah, seperti yang diterapkan Chicago (Amerika Serikat) dan Singapura mampu menampung sekitar 200 juta meter kubik air dan dapat bertahan 125 tahun.
Ide penampungan air bawah tanah adalah menampung semua limpahan air banjir dan limbah cair dari sanitasi lingkungan ke dalam bendungan bawah tanah. Air tampungan itu dapat diolah dan digunakan sebagai cadangan air baku bagi Jakarta.
Saat ini, kata Firdaus, Indonesia menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim tersebut menyebabkan musim hujan lebih pendek, tetapi curah hujan lebih tinggi.
Jika air tersebut tidak disimpan dalam penampungan yang besar, Jakarta akan terancam kekeringan dan banjir dalam waktu yang bergantian sepanjang tahun. Bencana yang akan semakin memiskinkan Indonesia.
Biaya pembuatan penampungan air bawah tanah itu, menurut Firdaus, diperkirakan "hanya" memerlukan Rp 12 triliun. Jumlah tersebut masih terjangkau oleh APBD DKI Jakarta 2007 yang mencapai Rp 21,5 triliun. (Emilius Caesar Alexey)
******************
Sekarang, mari kita simak solusi yang diajukan itu. Apakah solusi membuat penampungan air bawah tanah akan berhasil?
Rasanya perlu kita pelajari lebih jauh kemungkinannya. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan Banjir Kanal Timur mungkin dapat kita cermati.
Selain itu, kurangnya disiplin kita atau ketidak-mampuan kita dalam mengelola sampah dapat menjadi masalah tersendiri bila penampungan itu nantinya dapat terwujud.
Salam dari Ancol, Sabtu, 3 Febuari 2007
Wahyu
Wednesday, January 10, 2007
Pelajaran dari Gempa dan Tsunami Aceh 26 Desember 2004
Gempa dan Tsunami yang terjadi di lepas pantai barat Aceh, Sumatera pada tanggal 24 Desember 2004, dua tahun yang lalu, memang memilukan. Meskipun demikian, ada pelajaran ilmiah berharga yang dapat diperoleh dari peristiwa besar itu. Tulisan di bawah ini adalah ringkasan dari hasil-hasil membaca alam yang dilakukan oleh para ilmuwan itu.
Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 : Setelah Dua Tahun Berselang
Oleh: Awang Harun Satyana (aharun@bpmigas.com)
Dua tahun telah kita lewati sejak gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menggetarkan seluruh planet Bumi dan merenggut nyawa hampir seperempat juta penduduknya. Dalam sejarah moderen bangsa Indonesia, inilah gempa dan tsunami bahkan mungkin bencana terdahsyat yang pernah dialami bangsa Indonesia. Setelah dua tahun berselang sejak gempa dan tsunami dahsyat melanda Aceh, Sumatra Utara, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika bagian timur, para ahli kini telah mendapatkan banyak data dan analisis baru yang menghasilkan evaluasi lebih akurat tentang bencana global ini. Berikut adalah ringkasan data, analisis, dan interpretasi baru tersebut yang didasarkan kepada banyak publikasi terbaru (Wikipedia, New Scientist, NASA, Science, dan lain-lain). Semoga bermanfaat.
Gempa ini terjadi pada 26 Desember 2004 pukul 00:58:53 GMT atau waktu lokal 07:58:53 (WIB). Lokasi episentrum gempa adalah di pantai barat Sumatra di sebelah utara Pulau Simeulue pada koordinat 3.316°N, 95.854°E (3°19′N 95°51.24′E), sekitar 160 km barat Sumatra. Pusat gempa berada pada kedalaman 30 km di bawah muka laut rata-rata (semula dilaporkan pada kedalaman 10 km). Gempa ini dilaporkan berkekuatan (moment magnitude) MW 9.0. Dalam bulan Februari 2005 magnitude ini dikoreksi menjadi 9.3. (McKee, 2005 : "Power of tsunami earthquake heavily underestimated." New Scientist – 9 Februari 2005, hal. 5). Studi yang paling baru dalam tahun 2006 menyebut gempa ini mempunyai kekuatan MW 9.1 – 9.3. Dr. Hiroo Kanamori, ahli gempa terkenal dari California Institute of Technology menyebut gempa ini punya magnitude MW = 9.2. (EERI Publication 2006-06, hal. 14). Selain terutama di Aceh dan Sumatra bagian utara, gempa ini dirasakan sampai sejauh : Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura dan Maladewa.
Gempa ini selain menempati posisi gempa berkekuatan terbesar kedua setelah gempa Chili 1960 yang mencapai 9.5 Skala Richter (ujung Skala Richter ada di situ), gempa Aceh menempati peringkat pertama sebagai gempa dengan waktu (durasi) penyesaran yang paling lama yaitu sampai 500-600 detik (10 menit). Dan, gempa ini cukup besar untuk membuat seluruh bola Bumi bergetar dengan amplitude getaran di atas satu cm (Walton, 2005 "Scientists : Sumatra quake longest ever recorded." CNN – 20 Mei 2005). Gempa ini juga telah memicu gempa-gempa lain di seluruh dunia sampai sejauh Alaska (West, Sanches, McNutt, 2005 : "Periodically Triggered Seismicity at Mount Wrangell, Alaska, after the Sumatra Earthquake." Science. Vol. 308, No. 5725, hal. 1144-1146, 20 Mei 2005).
Gempa Aceh telah menimbulkan serangkaian tsunami yang merusak pantai-pantai di Aceh, Sumatra Utara, Sri Lanka, India, Thailand and negara-negara lainnya dengan tinggi gelombang sampai 30 meter yang menyebabkan kerusakan parah dan kehancuran serta kematian sampai sejauh pantai timur Africa. Korban tewas akibat tsunami ini dilaporkan terjadi di Rooi Els di Afrika Selatan pada jarak 8.000 km dari pusat gempa. Perkiraan awal korban tsunami ini untuk seluruh dunia adalah di atas 275.000 orang, belum termasuk ribuan korban hilang. Tetapi, analisis terbaru menyebutkan total korban tsunami adalah 229. 866 orang (186.983 tewas and 42.883 hilang) (Kantor PBB untuk Tsunami Recovery, 2006). Bencana gempa dan tsunami ini disebut sebagai bencana paling buruk dalam sejarah moderen. Bencana ini juga telah mengundang simpati banyak negara di dunia, terbukti dengan komitmen bantuan sebesar total lebih dari 7,0 milyar dolar Amerika Serikat (Wikipedia, 2006).
Karakteristik Gempa 26 Desember 2004
Gempa ini juga luar biasa dalam cakupan geografisnya. Diperkirakan sepanjang 1200 km jalur sesar tergeser sekitar 15 meter sepanjang zone penunjaman tempat lempeng samudra Hindia menyusup di bawah lempeng benua Burma (bagian Lempeng Eurasia). Pergeseran sesar tidak terjadi sekonyong-konyong tetapi dalam dua fase selama beberapa menit. Data akustik dan seismograf menunjukkan bahwa fase pertama meliputi pembentukan zone runtuhan sepanjang 400 km dan lebar 100 km, pada kedalaman 30 km di bawah dasar laut. Ini adalah runtuhan terpanjang yang pernah dihasilkan gempa. Runtuhan berjalan memanjang dengan kecepatan 2,8 km/detik atau 10.000 km/jam. Runtuhan mulai terjadi di lepas pantai Aceh dan maju ke arah baratlaut selama 100 detik sebelum kemudian runtuhan berbelok searah jarum jam ke utara menuju pulau-pulau Andaman dan Nikobar. Saat pembelokan tersebut, runtuhan terhenti sesaat selama 100 detik. Fase kedua yaitu runtuhan ke arah utara ini berjalan dengan kecepatan lebih rendah yaitu 2,1 km/detik atau 7600 km/jam. Lalu runtuhan terus berlanjut ke utara selama lima menit sampai ke batas lempeng tempat penyesaran naik ini berubah menjadi penyesaran mendatar. Perubahan ini mengurangi kecepatan perpindahan massa air di lautan sehingga mengurangi amplitude tsunami yang terjadi di bagian utara Samudra Hindia (Kostel dan Tobin, 2005: "The Sound of a Distant Rumble: Researchers Track Underwater Noise Generated by December 26 Earthquake." - Lamont-Doherty Earth Observatory, 20 Juli 2005; Wikipedia, 2006).
Gempa susulan dengan magnitudo sampai 6,6 terus terjadi di wilayah ini (lepas pantai pulau-pulau Andaman dan Nikobar) sampai empat bulan setelah gempa utama. Gempa besar lain yang terjadi di sekitar Pulau Nias pada 28 Maret 2005 dengan magnitude 8,7 (MarketWatch, 2005 "8.7 quake jars Sumatra, at least 300 dead." Investors.com.) menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli : apakah ini aftershock gempa 26 Desember 2004 ataukah “triggered earthquake†(gempa yang disebabkan oleh gempa sebelumnya) (McKernon, 2005, Science and Engineering at The University of Edinburgh School of Geosciences). Gempa Nias terjadi pada jalur sesar yang sama dengan lokasi gempa 26 Desember 2004.
Gempa besar di Aceh ini terjadi hanya tiga hari setelah sebuah gempa besar bermagnitude 8,1 melanda sebuah wilayah tak berpenghuni di sebelah barat Kepulauan Auckland (milik Selandia Baru) dan di sebelah utara Kepulauan Macquarie (milik Australia) di Antarktika. Hal ini di luar kebiasaan sebab berdasarkan statistik selama ini gempa dengan kekuatan di atas 8,0 hanya terjadi satu kali dalam setahun (USGS Earthquake Hazards Program: FAQ; Skinner et al., 2004, Dynamic Earth, hal. 359), tetapi kedua gempa bermagnitude > 8,0 ini hanya terpisah tiga hari. Beberapa ahli seismologi berspekulasi tentang hubungan gempa Antarktika dan gempa Aceh ini. Gempa Antarktika mungkin telah berperan sebagai katalisator gempa Aceh karena kedua gempa ini terjadi masing-masing di ujung sisi selatan dan utara Lempeng Indo-Australia. Tetapi, USGS mengatakan tak ada bukti meyakinkan bahwa kedua gempa ini berhubungan. Yang jelas, gempa Aceh terjadi tepat setahun (sampai jam kejadian pun sama) setelah gempa bermagnitude 6,6 yang menewaskan 30.000 orang di kota Bam, Iran pada 26 Desember 2003 (Wikipedia, 2006). Yang unik juga, adalah bahwa gempa Aceh (magnitude 9,3) terjadi sehari setelah Hari Natal (25 Desember 2004) dan gempa Nias (magnitude 8,7) terjadi sehari setelah Hari Paska (27 Maret 2005).
Kedua gempa (Gempa Aceh dan Gempa Nias) telah mengaktifkan gunungapi-gunungapi di sekitarnya pada jalur busur volkanik Sunda di Pegunungan Barisan. Gunung Leuser di Aceh diaktifkan oleh Gempa Aceh, begitu juga erupsi Gunung Talang pada April 2005. Gempa Nias mengaktifkan sejenak kaldera purba Toba, sehingga kita tahu bahwa kaldera purba sama sekali belum mati, hanya tidur panjang (Rinaldo, 2005: "Thousands flee as Indonesian volcano spews into life." Hindustan Times, 12 April 12 2005; Johnston, 2005: “ Indonesian Volcanoes Erupt; Thousands Evacuatedâ€, VOA News).
Berapa kekuatan gempa 26 Desember 2006 ini ? Energi total yang dilepaskan adalah sekitar 3.35 exajoules (3.35×1018 joules). Ini ekivalen dengan lebih daripada 930 tera (10 pangkat 12) watt jam atau 0.8 gigatons TNT, atau sama dengan seluruh energi yang digunakan di Amerika Serikat selama 11 hari. Gempa ini juga telah mengakibatkan osilasi permukaan Bumi setinggi 20-30 cm, sama dengan efek pasang naik akibat gravitasi Matahari dan Bulan. Gelombang kejut gempa dirasakan di seluruh muka planet Bumi sampai sejauh Oklahoma di AS yang mencatat gerak vertikal setinggi 3 mm (Staff Writer, "Earthquake felt in Oklahoma, too." MuskogeePhoenix.com. December 28, 2004). Seluruh permukaan Bumi diperkirakan telah terangkat sampai setinggi 1 cm.
Pergeseran massa kerak Bumi dan lepasnya energi yang demikian besar akibat gempan ini telah sedikit mengubah periode rotasi Bumi. Nilai pastinya belum ditentukan, tetapi model-model yang dibuat memperlihatkan bahwa gempa ini telah memendekkan panjang hari sebanyak 2,68 mikrodetik atau sepersemilyar panjang satu hari karena berkurangnya kepepatan (oblateness) bola Bumi (Cook-Anderson dan Beasley : "NASA Details Earthquake Effects on the Earth." NASA press release, January 10, 2005). Gempa juga telah menyebabkan Bumi sedikit terhuyung (gerak “wobble†– seperti pendekar mabuk) pada porosnya berarah 145° BT (Schechner, 2004, "Earthquakes vs. the Earth's Rotation" Slate. December 27, 2004) atau terhuyung sampai 5 atau 6 cm (Staff Writer, 2004 "Italian scientists say Asian quakes cause Earth's axis shifted." Xinhua. December 29, 2004). Tetapi, karena efek gerak pasang akibat gravitasi Bulan selalu menambah panjang hari sebanyak 15 mikrodetik setiap tahunnya, maka efek akibat perubahan gerak dan periode rotasi Bumi oleh gempa Aceh segera menghilang.
Akibat yang lebih spektakular muncul secara lokal. Terdapat gerakan secara mendatar sepanjang 10 meter dan 4-5 meter secara vertikal sepanjang jalur sesar akibat gempa ini. Spekulasi awal menyebutkan bahwa pulau-pulau kecil di sebelah baratdaya Sumatra, yang berposisi di atas lempeng Burma telah bergerak ke arah baratdaya sampai sejauh 20-36 meter. Tetapi, berdasarkan data yang lebih akurat, yang dikeluarkan sebulan setelah gempa, menunjukkan bahwa gerakan itu hanya 20 cm (Staff Writer. "Quake moved Sumatra by only 20 centimeters: Danish scientists", Agence France Presse, January 31, 2005). Karena gerakan ini vertikal juga lateral (oblique), maka terdapat wilayah pantai yang tenggelam di bawah muka laut. Kepulauan Andaman-Nikobar telah bergeser ke baratdaya sejauh 1,25 meter dan telah tenggelam hampir 1 meter (Bagla, 2005, "After the Earth Moved", Science Now, January 28, 2005).
Dalam bulan Februari 2005, kapal riset Royal Navy HMS Scott melakukan survey di dasar laut di sekitar wilayah gempa, yang kedalaman lautnya bervariasi dari 1,000 m - 5,000 m di sebelah barat Sumatra. Survey yang dilakukan dengan menggunakan high-resolution, multi-beam sonar system ini menunjukkan bahwa gempa telah menimbulkan perubahan besar topograpfi dasar laut. Kegiatan tektonik sepanjang waktu geologi pada sesar ini telah membuat punggungan sesar naik/anjak (thrust ridges) setinggi 1500 meter, yang runtuh di beberapa tempat selama gempa terjadi menghasilkan longsoran seluas beberapa km persegi. Sebuah kawasan longsoran teramati terdiri atas blok batuan sepanjang 2 km setinggi 100 meter. Kekuatan air yang dipindahkan akibat perubahan topografi dasar laut ini telah menyeret blok batuan seberat jutaan ton tersebut sejauh 10 km. Palung samudra selebar beberapa km tersingkap dalam jalur gempa ini (Knight, 2005: "Asian tsunami seabed pictured with sonar" New Scientist - February 10, 2005).
Karakteristik Tsunami 26 Desember 2004
Gempa yang terjadi telah mengangkat dasar laut beberapa meter, memindahkan air laut sebanyak sekitar 30 km3 memicu gelombang tsunami yang dahsyat. Gelombang-gelombang tsunami itu tidak berasal dari titik episentrum dan menyebar secara radial ke seluruh penjuru Samudra Hindia seperti secara salah digambarkan dalam beberapa kartun, tetapi para gelombang ini tersebar secara radial ke luar dari runtuhan sepanjang 1200 km (bukan berasal dari “point source†tetapi dari “line sourceâ€). Hal ini telah menyebabkan gelombang makin tersebar secara luas, teramati sampai mencapai Arktika, Chili, dan Mexico. Naiknya dasar laut telah mengurangi “space of accommodation†Samudra Hindia dan telah meyebabkan kenaikan permanen gloabal sea level (eustasy) sebesar 0,1 mm (Bilham, 2005 "A Flying Start, Then a Slow Slip." Science. Vol. 308, No. 5725, hal. 1126-1127. 20 Mei 2005).
Secara kebetulan, pada saat kejadian tsunami 26 Desember 2004 itu dua satelit melintas di atas Samudra Hindia (satelit TOPEX/Poseidon dan satelit Jason 1) (Staff Writer, "NASA/French Satellite Data Reveal New Details of Tsunami." Jet Propulsion Laboratory-JPL/NASA, January 11, 2005). Kedua satelit ini membawa radar yang secara akurat dapat mengukur ketinggian permukaan laut di tengah samudra. Anomali ketinggian sebesar 50 cm terukur. Pengukuran-pengukuran kedua satelit ini merupakan data yang sangat berharga untuk pemahaman gempa dan tsunami yang dibangkitkannya. Tidak seperti data dari pengukur air pasang (tide gauge) yang dipasang di kawasan pantai, pengukuran ketinggian air laut di tengah samudra oleh satelit dapat digunakan untuk menghitung parameter2 pembangkitan tsunami akibat gempa tanpa keharusan mengoreksi efek2 akibat dekat pantai (Wikipedia, 2006).
Radar pada satelit-satelit itu mencatat ketinggian gelombang tsunami 26 Desember 2004 di tengah lautan adalah maksimum 60 cm pada dua jam setelah gempa. Ini adalah untuk pertama kalinya pengamatan tsunami dari satelit dilakukan, itu pun secara tidak sengaja. Tetapi, pengamatan ini tidak dapat digunakan untuk keperluan peringatan dini tsunami sebab keberadaan kedua satelit di atas Samudra Hindia itu melintas bukan untuk keperluan pengamatan tsunami, juga diperlukan waktu beberapa jam untuk menganalisis data yang dihasilkan.
Berapa kekuatan tsunami 26 Desember 2004 itu ? Total energi tsunami ini adalah ekivalen dengan sekitar lima megaton TNT (20 peta -10 pangkat 15-joules). Ini lebih dari dua kali total energi ledakan yang digunakan selama Perang Dunia II (termasuk dua bom atom). Di banyak tempat, gelombang tsunami mencapai ketinggian 24 meter sampai 30 meter ketika melanda pantai dan masuk ke arah daratan sampai sejauh dua km bergantung kepada topografi pantai (Pearce dan Holmes, 2005 : "Tsunami: The impact will last for decades" New Scientist - January 15, 2005).
Karena jalur sesar sepanjang 1200 km yang digoncang gempa ini berarah hampir utara-selatan, kekuatan paling besar gelombang tsunami ada pada arah barat-timur. Bangladesh di utara sesar relatif terserang tsunami secara lemah, dibandingkan dengan tsunami yang lebih kuat menyerang Somalia di sebelah barat sesar, meskipun Somalia terletak lebih jauh dari sumber gempa. Tsunami mulai menyerang pantai-pantai di sekeliling bagian utara Samudra Hindia dalam waktu 15 menit sampai 7 jam (Time travel map: Tsunami Laboratory, Novosibirsk, Russia; Time travel map: Active Fault Research Center : National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, Japan). Aceh dan Sumatra terserang tsunami sangat cepat karena terletak di dekat jalur sesar dan laju runtuhan di segmen jalur sesar di wilayah ini terjadi sangat cepat (10.000 km/jam). Thailand, meskipun juga terletak di dekat episentrum gempa, diserang tsunami dua jam kemudian karena runtuhan di wilayah Laut Andaman terjadi lebih lambat daripada di sektor Indonesia.
Tsunami terukur sampai ke Antarktika berdasarkan tidal gauges pangkalan penelitian milik Jepang di Antarktika (Japan's Syowa Base) yang mencatat osilasi permukaan laut naik sampai 1 meter dan kekacauan ini berlangsung sampai beberapa hari setelah gempa terjadi ("Indian Ocean Tsunami" at Syowa Station, Antarctica, Hydrographic and Oceanographic Dept. Japan Coast Guard). Energi tsunami pun terlepas sampai ke Samudra Pasifik menghasilkan anomali ketinggian gelombang 20-40 cm di sepanjang pantai barat Amerika Utara dan Amerika Selatan (Indian Ocean Tsunami of 26 December, 2004. West Coast/Alaska Tsunami Warning Center (USGS). December 31, 2004) dan di beberapa tempat sampai setinggi 2,6 meter seperti di pantai Manzanillo, Mexico. Para ahli memperkirakan bahwa MOR (mid-oceanic ridge) telah ikut berperan dalam memfokuskan dan mengarahkan tsunami dalam jangakauan yang jauh (Carey, 2005 : "Tsunami Waves Channeled Around the Globe in 2004 Disaster" LiveScience-August 25, 2005).
Dari bencana terburuk pun, tetap ada hikmah yang dapat kita pelajari untuk kepentingan ke depan, apalagi kita di Indonesia senantiasa berhadapan dengan tenaga-tenaga alam tak tampak yang bisa kapan saja membangkitkan gempa dan tsunami. Pengetahuan kita belum memadai, tetapi kita selalu dapat mempelajari apa pun dari alam ini untuk kepentingan umat manusia.
salam dan selamat tahun baru 2007,
awang
********
Naskah di atas dipublikasikan pertama kali oleh penulisnya melalui iagi-net pada tanggal 30 Desember 2006. Dipublikasi kembali di sini atas izin tertulis dari penulisnya itu via e-mail hari Selasa tanggal 9 Januari 2007.
Salam dari Ancol, Rabu, 10 Januari 2007
Wahyu
Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 : Setelah Dua Tahun Berselang
Oleh: Awang Harun Satyana (aharun@bpmigas.com)
Dua tahun telah kita lewati sejak gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menggetarkan seluruh planet Bumi dan merenggut nyawa hampir seperempat juta penduduknya. Dalam sejarah moderen bangsa Indonesia, inilah gempa dan tsunami bahkan mungkin bencana terdahsyat yang pernah dialami bangsa Indonesia. Setelah dua tahun berselang sejak gempa dan tsunami dahsyat melanda Aceh, Sumatra Utara, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika bagian timur, para ahli kini telah mendapatkan banyak data dan analisis baru yang menghasilkan evaluasi lebih akurat tentang bencana global ini. Berikut adalah ringkasan data, analisis, dan interpretasi baru tersebut yang didasarkan kepada banyak publikasi terbaru (Wikipedia, New Scientist, NASA, Science, dan lain-lain). Semoga bermanfaat.
Gempa ini terjadi pada 26 Desember 2004 pukul 00:58:53 GMT atau waktu lokal 07:58:53 (WIB). Lokasi episentrum gempa adalah di pantai barat Sumatra di sebelah utara Pulau Simeulue pada koordinat 3.316°N, 95.854°E (3°19′N 95°51.24′E), sekitar 160 km barat Sumatra. Pusat gempa berada pada kedalaman 30 km di bawah muka laut rata-rata (semula dilaporkan pada kedalaman 10 km). Gempa ini dilaporkan berkekuatan (moment magnitude) MW 9.0. Dalam bulan Februari 2005 magnitude ini dikoreksi menjadi 9.3. (McKee, 2005 : "Power of tsunami earthquake heavily underestimated." New Scientist – 9 Februari 2005, hal. 5). Studi yang paling baru dalam tahun 2006 menyebut gempa ini mempunyai kekuatan MW 9.1 – 9.3. Dr. Hiroo Kanamori, ahli gempa terkenal dari California Institute of Technology menyebut gempa ini punya magnitude MW = 9.2. (EERI Publication 2006-06, hal. 14). Selain terutama di Aceh dan Sumatra bagian utara, gempa ini dirasakan sampai sejauh : Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura dan Maladewa.
Gempa ini selain menempati posisi gempa berkekuatan terbesar kedua setelah gempa Chili 1960 yang mencapai 9.5 Skala Richter (ujung Skala Richter ada di situ), gempa Aceh menempati peringkat pertama sebagai gempa dengan waktu (durasi) penyesaran yang paling lama yaitu sampai 500-600 detik (10 menit). Dan, gempa ini cukup besar untuk membuat seluruh bola Bumi bergetar dengan amplitude getaran di atas satu cm (Walton, 2005 "Scientists : Sumatra quake longest ever recorded." CNN – 20 Mei 2005). Gempa ini juga telah memicu gempa-gempa lain di seluruh dunia sampai sejauh Alaska (West, Sanches, McNutt, 2005 : "Periodically Triggered Seismicity at Mount Wrangell, Alaska, after the Sumatra Earthquake." Science. Vol. 308, No. 5725, hal. 1144-1146, 20 Mei 2005).
Gempa Aceh telah menimbulkan serangkaian tsunami yang merusak pantai-pantai di Aceh, Sumatra Utara, Sri Lanka, India, Thailand and negara-negara lainnya dengan tinggi gelombang sampai 30 meter yang menyebabkan kerusakan parah dan kehancuran serta kematian sampai sejauh pantai timur Africa. Korban tewas akibat tsunami ini dilaporkan terjadi di Rooi Els di Afrika Selatan pada jarak 8.000 km dari pusat gempa. Perkiraan awal korban tsunami ini untuk seluruh dunia adalah di atas 275.000 orang, belum termasuk ribuan korban hilang. Tetapi, analisis terbaru menyebutkan total korban tsunami adalah 229. 866 orang (186.983 tewas and 42.883 hilang) (Kantor PBB untuk Tsunami Recovery, 2006). Bencana gempa dan tsunami ini disebut sebagai bencana paling buruk dalam sejarah moderen. Bencana ini juga telah mengundang simpati banyak negara di dunia, terbukti dengan komitmen bantuan sebesar total lebih dari 7,0 milyar dolar Amerika Serikat (Wikipedia, 2006).
Karakteristik Gempa 26 Desember 2004
Gempa ini juga luar biasa dalam cakupan geografisnya. Diperkirakan sepanjang 1200 km jalur sesar tergeser sekitar 15 meter sepanjang zone penunjaman tempat lempeng samudra Hindia menyusup di bawah lempeng benua Burma (bagian Lempeng Eurasia). Pergeseran sesar tidak terjadi sekonyong-konyong tetapi dalam dua fase selama beberapa menit. Data akustik dan seismograf menunjukkan bahwa fase pertama meliputi pembentukan zone runtuhan sepanjang 400 km dan lebar 100 km, pada kedalaman 30 km di bawah dasar laut. Ini adalah runtuhan terpanjang yang pernah dihasilkan gempa. Runtuhan berjalan memanjang dengan kecepatan 2,8 km/detik atau 10.000 km/jam. Runtuhan mulai terjadi di lepas pantai Aceh dan maju ke arah baratlaut selama 100 detik sebelum kemudian runtuhan berbelok searah jarum jam ke utara menuju pulau-pulau Andaman dan Nikobar. Saat pembelokan tersebut, runtuhan terhenti sesaat selama 100 detik. Fase kedua yaitu runtuhan ke arah utara ini berjalan dengan kecepatan lebih rendah yaitu 2,1 km/detik atau 7600 km/jam. Lalu runtuhan terus berlanjut ke utara selama lima menit sampai ke batas lempeng tempat penyesaran naik ini berubah menjadi penyesaran mendatar. Perubahan ini mengurangi kecepatan perpindahan massa air di lautan sehingga mengurangi amplitude tsunami yang terjadi di bagian utara Samudra Hindia (Kostel dan Tobin, 2005: "The Sound of a Distant Rumble: Researchers Track Underwater Noise Generated by December 26 Earthquake." - Lamont-Doherty Earth Observatory, 20 Juli 2005; Wikipedia, 2006).
Gempa susulan dengan magnitudo sampai 6,6 terus terjadi di wilayah ini (lepas pantai pulau-pulau Andaman dan Nikobar) sampai empat bulan setelah gempa utama. Gempa besar lain yang terjadi di sekitar Pulau Nias pada 28 Maret 2005 dengan magnitude 8,7 (MarketWatch, 2005 "8.7 quake jars Sumatra, at least 300 dead." Investors.com.) menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli : apakah ini aftershock gempa 26 Desember 2004 ataukah “triggered earthquake†(gempa yang disebabkan oleh gempa sebelumnya) (McKernon, 2005, Science and Engineering at The University of Edinburgh School of Geosciences). Gempa Nias terjadi pada jalur sesar yang sama dengan lokasi gempa 26 Desember 2004.
Gempa besar di Aceh ini terjadi hanya tiga hari setelah sebuah gempa besar bermagnitude 8,1 melanda sebuah wilayah tak berpenghuni di sebelah barat Kepulauan Auckland (milik Selandia Baru) dan di sebelah utara Kepulauan Macquarie (milik Australia) di Antarktika. Hal ini di luar kebiasaan sebab berdasarkan statistik selama ini gempa dengan kekuatan di atas 8,0 hanya terjadi satu kali dalam setahun (USGS Earthquake Hazards Program: FAQ; Skinner et al., 2004, Dynamic Earth, hal. 359), tetapi kedua gempa bermagnitude > 8,0 ini hanya terpisah tiga hari. Beberapa ahli seismologi berspekulasi tentang hubungan gempa Antarktika dan gempa Aceh ini. Gempa Antarktika mungkin telah berperan sebagai katalisator gempa Aceh karena kedua gempa ini terjadi masing-masing di ujung sisi selatan dan utara Lempeng Indo-Australia. Tetapi, USGS mengatakan tak ada bukti meyakinkan bahwa kedua gempa ini berhubungan. Yang jelas, gempa Aceh terjadi tepat setahun (sampai jam kejadian pun sama) setelah gempa bermagnitude 6,6 yang menewaskan 30.000 orang di kota Bam, Iran pada 26 Desember 2003 (Wikipedia, 2006). Yang unik juga, adalah bahwa gempa Aceh (magnitude 9,3) terjadi sehari setelah Hari Natal (25 Desember 2004) dan gempa Nias (magnitude 8,7) terjadi sehari setelah Hari Paska (27 Maret 2005).
Kedua gempa (Gempa Aceh dan Gempa Nias) telah mengaktifkan gunungapi-gunungapi di sekitarnya pada jalur busur volkanik Sunda di Pegunungan Barisan. Gunung Leuser di Aceh diaktifkan oleh Gempa Aceh, begitu juga erupsi Gunung Talang pada April 2005. Gempa Nias mengaktifkan sejenak kaldera purba Toba, sehingga kita tahu bahwa kaldera purba sama sekali belum mati, hanya tidur panjang (Rinaldo, 2005: "Thousands flee as Indonesian volcano spews into life." Hindustan Times, 12 April 12 2005; Johnston, 2005: “ Indonesian Volcanoes Erupt; Thousands Evacuatedâ€, VOA News).
Berapa kekuatan gempa 26 Desember 2006 ini ? Energi total yang dilepaskan adalah sekitar 3.35 exajoules (3.35×1018 joules). Ini ekivalen dengan lebih daripada 930 tera (10 pangkat 12) watt jam atau 0.8 gigatons TNT, atau sama dengan seluruh energi yang digunakan di Amerika Serikat selama 11 hari. Gempa ini juga telah mengakibatkan osilasi permukaan Bumi setinggi 20-30 cm, sama dengan efek pasang naik akibat gravitasi Matahari dan Bulan. Gelombang kejut gempa dirasakan di seluruh muka planet Bumi sampai sejauh Oklahoma di AS yang mencatat gerak vertikal setinggi 3 mm (Staff Writer, "Earthquake felt in Oklahoma, too." MuskogeePhoenix.com. December 28, 2004). Seluruh permukaan Bumi diperkirakan telah terangkat sampai setinggi 1 cm.
Pergeseran massa kerak Bumi dan lepasnya energi yang demikian besar akibat gempan ini telah sedikit mengubah periode rotasi Bumi. Nilai pastinya belum ditentukan, tetapi model-model yang dibuat memperlihatkan bahwa gempa ini telah memendekkan panjang hari sebanyak 2,68 mikrodetik atau sepersemilyar panjang satu hari karena berkurangnya kepepatan (oblateness) bola Bumi (Cook-Anderson dan Beasley : "NASA Details Earthquake Effects on the Earth." NASA press release, January 10, 2005). Gempa juga telah menyebabkan Bumi sedikit terhuyung (gerak “wobble†– seperti pendekar mabuk) pada porosnya berarah 145° BT (Schechner, 2004, "Earthquakes vs. the Earth's Rotation" Slate. December 27, 2004) atau terhuyung sampai 5 atau 6 cm (Staff Writer, 2004 "Italian scientists say Asian quakes cause Earth's axis shifted." Xinhua. December 29, 2004). Tetapi, karena efek gerak pasang akibat gravitasi Bulan selalu menambah panjang hari sebanyak 15 mikrodetik setiap tahunnya, maka efek akibat perubahan gerak dan periode rotasi Bumi oleh gempa Aceh segera menghilang.
Akibat yang lebih spektakular muncul secara lokal. Terdapat gerakan secara mendatar sepanjang 10 meter dan 4-5 meter secara vertikal sepanjang jalur sesar akibat gempa ini. Spekulasi awal menyebutkan bahwa pulau-pulau kecil di sebelah baratdaya Sumatra, yang berposisi di atas lempeng Burma telah bergerak ke arah baratdaya sampai sejauh 20-36 meter. Tetapi, berdasarkan data yang lebih akurat, yang dikeluarkan sebulan setelah gempa, menunjukkan bahwa gerakan itu hanya 20 cm (Staff Writer. "Quake moved Sumatra by only 20 centimeters: Danish scientists", Agence France Presse, January 31, 2005). Karena gerakan ini vertikal juga lateral (oblique), maka terdapat wilayah pantai yang tenggelam di bawah muka laut. Kepulauan Andaman-Nikobar telah bergeser ke baratdaya sejauh 1,25 meter dan telah tenggelam hampir 1 meter (Bagla, 2005, "After the Earth Moved", Science Now, January 28, 2005).
Dalam bulan Februari 2005, kapal riset Royal Navy HMS Scott melakukan survey di dasar laut di sekitar wilayah gempa, yang kedalaman lautnya bervariasi dari 1,000 m - 5,000 m di sebelah barat Sumatra. Survey yang dilakukan dengan menggunakan high-resolution, multi-beam sonar system ini menunjukkan bahwa gempa telah menimbulkan perubahan besar topograpfi dasar laut. Kegiatan tektonik sepanjang waktu geologi pada sesar ini telah membuat punggungan sesar naik/anjak (thrust ridges) setinggi 1500 meter, yang runtuh di beberapa tempat selama gempa terjadi menghasilkan longsoran seluas beberapa km persegi. Sebuah kawasan longsoran teramati terdiri atas blok batuan sepanjang 2 km setinggi 100 meter. Kekuatan air yang dipindahkan akibat perubahan topografi dasar laut ini telah menyeret blok batuan seberat jutaan ton tersebut sejauh 10 km. Palung samudra selebar beberapa km tersingkap dalam jalur gempa ini (Knight, 2005: "Asian tsunami seabed pictured with sonar" New Scientist - February 10, 2005).
Karakteristik Tsunami 26 Desember 2004
Gempa yang terjadi telah mengangkat dasar laut beberapa meter, memindahkan air laut sebanyak sekitar 30 km3 memicu gelombang tsunami yang dahsyat. Gelombang-gelombang tsunami itu tidak berasal dari titik episentrum dan menyebar secara radial ke seluruh penjuru Samudra Hindia seperti secara salah digambarkan dalam beberapa kartun, tetapi para gelombang ini tersebar secara radial ke luar dari runtuhan sepanjang 1200 km (bukan berasal dari “point source†tetapi dari “line sourceâ€). Hal ini telah menyebabkan gelombang makin tersebar secara luas, teramati sampai mencapai Arktika, Chili, dan Mexico. Naiknya dasar laut telah mengurangi “space of accommodation†Samudra Hindia dan telah meyebabkan kenaikan permanen gloabal sea level (eustasy) sebesar 0,1 mm (Bilham, 2005 "A Flying Start, Then a Slow Slip." Science. Vol. 308, No. 5725, hal. 1126-1127. 20 Mei 2005).
Secara kebetulan, pada saat kejadian tsunami 26 Desember 2004 itu dua satelit melintas di atas Samudra Hindia (satelit TOPEX/Poseidon dan satelit Jason 1) (Staff Writer, "NASA/French Satellite Data Reveal New Details of Tsunami." Jet Propulsion Laboratory-JPL/NASA, January 11, 2005). Kedua satelit ini membawa radar yang secara akurat dapat mengukur ketinggian permukaan laut di tengah samudra. Anomali ketinggian sebesar 50 cm terukur. Pengukuran-pengukuran kedua satelit ini merupakan data yang sangat berharga untuk pemahaman gempa dan tsunami yang dibangkitkannya. Tidak seperti data dari pengukur air pasang (tide gauge) yang dipasang di kawasan pantai, pengukuran ketinggian air laut di tengah samudra oleh satelit dapat digunakan untuk menghitung parameter2 pembangkitan tsunami akibat gempa tanpa keharusan mengoreksi efek2 akibat dekat pantai (Wikipedia, 2006).
Radar pada satelit-satelit itu mencatat ketinggian gelombang tsunami 26 Desember 2004 di tengah lautan adalah maksimum 60 cm pada dua jam setelah gempa. Ini adalah untuk pertama kalinya pengamatan tsunami dari satelit dilakukan, itu pun secara tidak sengaja. Tetapi, pengamatan ini tidak dapat digunakan untuk keperluan peringatan dini tsunami sebab keberadaan kedua satelit di atas Samudra Hindia itu melintas bukan untuk keperluan pengamatan tsunami, juga diperlukan waktu beberapa jam untuk menganalisis data yang dihasilkan.
Berapa kekuatan tsunami 26 Desember 2004 itu ? Total energi tsunami ini adalah ekivalen dengan sekitar lima megaton TNT (20 peta -10 pangkat 15-joules). Ini lebih dari dua kali total energi ledakan yang digunakan selama Perang Dunia II (termasuk dua bom atom). Di banyak tempat, gelombang tsunami mencapai ketinggian 24 meter sampai 30 meter ketika melanda pantai dan masuk ke arah daratan sampai sejauh dua km bergantung kepada topografi pantai (Pearce dan Holmes, 2005 : "Tsunami: The impact will last for decades" New Scientist - January 15, 2005).
Karena jalur sesar sepanjang 1200 km yang digoncang gempa ini berarah hampir utara-selatan, kekuatan paling besar gelombang tsunami ada pada arah barat-timur. Bangladesh di utara sesar relatif terserang tsunami secara lemah, dibandingkan dengan tsunami yang lebih kuat menyerang Somalia di sebelah barat sesar, meskipun Somalia terletak lebih jauh dari sumber gempa. Tsunami mulai menyerang pantai-pantai di sekeliling bagian utara Samudra Hindia dalam waktu 15 menit sampai 7 jam (Time travel map: Tsunami Laboratory, Novosibirsk, Russia; Time travel map: Active Fault Research Center : National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, Japan). Aceh dan Sumatra terserang tsunami sangat cepat karena terletak di dekat jalur sesar dan laju runtuhan di segmen jalur sesar di wilayah ini terjadi sangat cepat (10.000 km/jam). Thailand, meskipun juga terletak di dekat episentrum gempa, diserang tsunami dua jam kemudian karena runtuhan di wilayah Laut Andaman terjadi lebih lambat daripada di sektor Indonesia.
Tsunami terukur sampai ke Antarktika berdasarkan tidal gauges pangkalan penelitian milik Jepang di Antarktika (Japan's Syowa Base) yang mencatat osilasi permukaan laut naik sampai 1 meter dan kekacauan ini berlangsung sampai beberapa hari setelah gempa terjadi ("Indian Ocean Tsunami" at Syowa Station, Antarctica, Hydrographic and Oceanographic Dept. Japan Coast Guard). Energi tsunami pun terlepas sampai ke Samudra Pasifik menghasilkan anomali ketinggian gelombang 20-40 cm di sepanjang pantai barat Amerika Utara dan Amerika Selatan (Indian Ocean Tsunami of 26 December, 2004. West Coast/Alaska Tsunami Warning Center (USGS). December 31, 2004) dan di beberapa tempat sampai setinggi 2,6 meter seperti di pantai Manzanillo, Mexico. Para ahli memperkirakan bahwa MOR (mid-oceanic ridge) telah ikut berperan dalam memfokuskan dan mengarahkan tsunami dalam jangakauan yang jauh (Carey, 2005 : "Tsunami Waves Channeled Around the Globe in 2004 Disaster" LiveScience-August 25, 2005).
Dari bencana terburuk pun, tetap ada hikmah yang dapat kita pelajari untuk kepentingan ke depan, apalagi kita di Indonesia senantiasa berhadapan dengan tenaga-tenaga alam tak tampak yang bisa kapan saja membangkitkan gempa dan tsunami. Pengetahuan kita belum memadai, tetapi kita selalu dapat mempelajari apa pun dari alam ini untuk kepentingan umat manusia.
salam dan selamat tahun baru 2007,
awang
********
Naskah di atas dipublikasikan pertama kali oleh penulisnya melalui iagi-net pada tanggal 30 Desember 2006. Dipublikasi kembali di sini atas izin tertulis dari penulisnya itu via e-mail hari Selasa tanggal 9 Januari 2007.
Salam dari Ancol, Rabu, 10 Januari 2007
Wahyu
MENGHITUNG HARI SAAT LUMPUR TIBA MENGGENANGI
Di tahun 2007 ini, ternyata semburan lumpur di Sidoarjo terus berlangsung tanpa indikasi akan berhenti. Satu per satu perumahan dan berbagai objek di sekitarnya digenangi. Jumlah pengungsi terus bertambah. Sementara itu, skenario penyelesaian masalh ini tidak kunjung jelas. Keadaan semakin menjadi seakan terlupakan dengan adanya musibah tenggelamnya KM. Senopati Nusantara di Laut Jawa, dan hilangnya pesawat Adam Air dari udara Pulau Sulawesi yang sampai saat ini belum ditemukan rimbanya. Kini, dengan pola semburan yang seperti sekarang ini, penggenangan kawasan di sekitarnya tinggal menunggu giliran. Tulisan ini akan merekam perkembangan penggenangan lumpur itu yang makin meluas. Perkembangan terbaru dapat dilihat dibagian bawah.
02 Januari 2007, 17:58:07, Laporan J. Totok Sumarno
Perumahan Tanggulangin Anggun Citra Pesona, Tenggelam!!
ssnet| Setelah dihajar luberan lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated beberapa kali, akhirnya perumahan Tanggulangin Anggun Citra Pesona di sisi timur Perumtas I, sudah tenggelam dalam lumpur panas. Selasa (02/01) lumpur panas sudah lebih dari 3 meter.
Lumpur panas yang berangsur-angsur semakin meninggi dan menggenangi perumahan yang belum banyak penghuninya itu, akhirnya mencapai puncaknya, pasca terjadinya ledakan pipa Pertamina didekat sumber semburan lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated beberapa waktu lalu.
Selasa (02/01) kondisi kompleks perumahan tergolong menengah atas tersebut sangat memprihatinkan. Lumpur setinggi 3 meter sudah menutup seluruh blok yang ada. Jarak antara tinggi lumpur dengan atap rumah kira-kira tinggal satu meter saja.
Dari catatan yang dihimpun suarasurabaya.net, sampai Selasa (02/01) sekurangnya dua kompleks perumahan di kawasan Tanggulangin sudah tenggelam dalam luberan lumpur panas Lapindo Brantas. Selain Tanggulangin Anggun Citra Pesona, sebelumnya Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahterah (Perumtas) I sudah tenggelam terlebih dulu.
04 Januari 2007, 15:12:33, Laporan J. Totok Sumarno
Luberan Lumpur Panas
Tak Sampai Sehari, Dusun Wangkal Tenggelam
ssnet| Luberan lumpur panas dari Lapindo Brantas Incorporated yang ‘menghajar’ sekitar kawasan Dusun Wangkal Desa Reno Kenongo, Kamis (04/01) ini sudah setinggi sekitar 2 meter. Rabu (03/01) kemarin, ketinggian lumpur tak lebih dari setengah meter. Tak sampai sehari, Dusun Wangkal tenggelam.
“Sampeyan lihat sendiri. Rabu (03/01) kemarin sekitar jam 11 siang lumpur masih sekitar 50 cm. Itu disana yang dekat Balongnongo. Di Wangkal sini, sekitar 20 – 25 cm. Sekarang, lumpur sudah sedemikian cepat bertambah jadi sekitar 2 meter,” kata NGATALI warga RT 16 RW 04 Wangkal, Reno Kenongo yang kembali ditemui suarasurabaya.net, Kamis (04/01).
Kamis (04/01) ini, tidak terlihat satupun warga Dusun Wangkal yang bertahan di rumahnya masing-masing. Luberan lumpur yang bertambah cepat sejak sekitar pukul 03.00 Wib, Kamis (04/01) itu, membuat warga tidak punya pilihan lain, selain meninggalkan rumah yang sudah disesaki lumpur panas.
06 Januari 2007, 08:25:56, Laporan J. Totok Sumarno
Pasar Baru Porong 'Mbludak', Warga Mulai Resah
ssnet| Sejumlah warga beberapa dusun di Reno Kenongo, yang rumahnya sudah terendam dalam lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated, Sabtu (06/01) mulai resah. Pasalnya, penampungan pengungsi di pasar baru Porong sudah penuh.
Kondisi saat ini di pasar baru Porong, memang sangat memprihatinkan. Selain minimnya sarana, jumlah pengungsi dari hari ke hari terus bertambah. Hal itu seiring dengan semakin meluasnya luberan lumpur panas yang masuk ke pemukiman warga. Catatan yang dihimpun suarasurabaya.net, sampai Sabtu (06/01) sudah lebih 3000 KK atau sekurangnya 9000 jiwa menempati pengungsian di pasar baru Porong.
07 Januari 2007, 17:56:21, Laporan Noer Soetantini
Luberan Lumpur Meluas Ke Sawah Dusun Kedungbendo
ssnet| Luberan lumpur tidak hanya terjadi di sekitar Blok L Perum TAS 1 Desa Kedungbendo. Luberan mulai masuk ke persawahan Dusun Sengon Desa Reno Kenongo.
AHMAD YAZID warga Gempolsari pada RULLY reporter Suara Surabaya, mengaku resah dengan luberan lumpur dan jebolnya tanggul di sekitar Dusun Sengon Desa Reno Kenongo. Karena lumpur makin mendekat ke arah Gempolsari Kecamatan Tanggulangin.
***********
09 Januari 2007, 18:01:31, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Keseriusan Tmnas Menutup Semburan Lumpur Dipertanyakan
ssnet| Upaya menutup semburan lumpur Lapindo sampai saat ini belum menghasilkan juga. Peran tim khusus untuk menutup semburan yang melibatkan para pakar dipertanyakan.
MUHAMAD MIRDAS satu diantara tokoh Jatirejo pada RULLY reporter Suara Surabaya, Selasa (09/01), mengatakan, Tim Nasional (Timnas) terkesan hanya pasrah dengan kondisi yang ada. Tidak hanya itu, bahkan Timnas dianggap sudah menghentikan kerjanya dalam menangani lumpur Lapindo.
Tim khusus yang ditugaskan dalam penanganan lumpur Lapindo, sebut MIRDAS, meliputi Tim A untuk menutup semburan, Tim B untuk penanganan lumpur permukaan, juga Tim C untuk masalah-masalah sosial.
MIRDAS yang juga anggota DPRD Jatim mengatakan, keberadaan Timnas lebih sekadar macan ompong. Timnas tidak hanya gagal mengatasi masalah lumpur di permukaan tapi juga gagal mengatasi masalah sosial.
Sedangkan, sumber masalah sendiri adalah semburan lumpur yang hingga sekarang belum juga berhasil ditutup. Bahkan upaya terakhir satu-satunya yang masih tersisa relief well sekarang ini juga tanpa aktivitas.
RUDI NOVRIANTO Juru Bicara Timnas Penanggulangan Luapan Lumpur menyikapi hal ini mengatakan, upaya menutup semburan memang terhenti saat ini, tapi tetap akan dilanjutkan.
Diakui RUDI, target selesai Desember 2006 gagal tercapai. Kemungkinan baru akan selesai Februari 2007. Keberadaan relief well yang sekarang masih mencapai 3.572 feet, masih jauh dari target yang dicanangkan mencapai 7 ribu feet.
09 Januari 2007, 20:22:13, Laporan J. Totok Sumarno
Tenggelam Dalam Lumpur, Ketapang Tinggal Kenangan
ssnet| “Sedih rasanya lihat rumah dan tanah kelahiran saya tenggelam dalam lumpur panas. Hampir setiap waktu kalau ada kesempatan saya selalu menyempatkan mampir, melihat sisa-sisa rumah saya. Tapi sudah nggak kelihatan. Cuma lumpur saja yang kelihatan”.
Sambil sesekali mengusap lelehan air matanya, ULFAH warga Desa Ketapang mengucapkan itu saat ditemui suarasurabaya.net, Selasa (09/01) di ujung tanggul kawasan Ketapang Keres atau jalan Mataram, Ketapang, Kecamatan Tanggulangin.
ULFAH dan keluarganya adalah satu diantara warga RT 1 RW 01 Ketapang yang rumah dan kampung halamannya sudah tenggelam dalam luberan lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated, dengan ketinggian hampir mendekati 2 meter.
Ketika lumpur panas itu mengalir, ULFAH dan seluruh keluarga besarnya, langsung memutuskan untuk pindah ke famili di daerah Tulangan. “Kita semua pindah. Tetangga ikut pindah. Sekarang terpencar-pencar. Sedih kalau ingat itu, kampung halaman diluberi lumpur kayak gitu. Mulai kecil sampai saya punya cucu, saya tinggal di Ketapang. Kepekso saiki minggat nang kampung liyo,” tambah ULFAH.
Sedangkan KASRIPAN, hanya diam membisu memandangi balai desa dan sekitar lokasi pertigaan jalan Mataram atau lebih dikenal dengan sebutan Ketapang Keres itu sudah tenggelam dalam lumpur. Matanya hanya menerawang saja.
“Mau kemana lagi? Ya terpaksa ngungsi. Rumah, sawah, kampung semua tenggelam dalam lumpur. Sedihnya itu, semua riwayat sama cerita zaman dulu itu hilang ditenggelamkan lumpur. Sedih sekali,” kata KASRIPAN warga RT 2 RW 01 Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Selasa (09/01).
Sejauh mata memandang dari atas tanggul di lokasi bekas Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Selasa (09/01) hampir sebagian besar rumah dan bangunan yang ada sudah tenggelam dalam lumpur. Yang tersisa hanya bagian atap saja. Desa Ketapang tinggal kenangan saja.
10 Januari 2007, 19:11:48, Laporan J. Totok Sumarno
Mengenaskan, Kedungbendo Jadi Danau Lumpur
ssnet| Lokasi Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, terutama yang berada dekat kompleks perumahan Tanggulangin Citra Pesona Permai sampai mendekati kawasan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahterah (Perumtas) I, Rabu (10/01) tak ubahnya seperti danau lumpur. Mengenaskan!
Ketinggian lumpur sudah lebih dari 2 meter. Hampir seluruh tiang listrik milik PLN yang berada di sepanjang jalan Raya Kedungbendo, mulai dari depan Perumtas I sampai mengarah ke perbatasan Dusun Sengon, Reno Kenongo, diluberi lumpur panas dengan ketinggian lebih 3 meter.
“Kira-kira lumpurnya itu sudah setinggi 5 meter, kalau dihitung dari bagian bawah, bekas jalan Raya Kedungbendo dulu ya. Ketinggian itu memanjang terus sampai mendekati kawasan Ketapang Keres sana. Desa Kedungbendo yang bersebelahan dengan Balongnongo, Desa Reno Kenongo sudah 5 meter lebih lumpurnya,” ujar BAMBANG IKSAN warga Kedungbendo yang mengungsi ke Penatar Sewu, Kecamatan Tanggulangin, Rabu (10/01).
Kawasan Desa Kedungbendo kini tak ubahnya danau lumpur panas. Sisa-sisa bangunan rumah sudah tidak nampak lagi. Kecuali bangunan rumah berlantai dua, sampai Rabu (10/01) hanya tersisa pada bagian lantai dua saja. Tidak mungkin lagi warga Kedungbendo bakal kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, bangunan masjid di ujung jalan Raya Kedungbendo yang bersebelahan dengan pasar Desa Kedungbendo, hanya menyisahkan bagian atapnya saja. Bangunan masjid setinggi hampir 10 meter itu, Rabu (10/01) terlihat mengenaskan, hanya bagian atapnya saja yang terlihat. Sisanya ditenggelamkan lumpur panas.
02 Januari 2007, 17:58:07, Laporan J. Totok Sumarno
Perumahan Tanggulangin Anggun Citra Pesona, Tenggelam!!
ssnet| Setelah dihajar luberan lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated beberapa kali, akhirnya perumahan Tanggulangin Anggun Citra Pesona di sisi timur Perumtas I, sudah tenggelam dalam lumpur panas. Selasa (02/01) lumpur panas sudah lebih dari 3 meter.
Lumpur panas yang berangsur-angsur semakin meninggi dan menggenangi perumahan yang belum banyak penghuninya itu, akhirnya mencapai puncaknya, pasca terjadinya ledakan pipa Pertamina didekat sumber semburan lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated beberapa waktu lalu.
Selasa (02/01) kondisi kompleks perumahan tergolong menengah atas tersebut sangat memprihatinkan. Lumpur setinggi 3 meter sudah menutup seluruh blok yang ada. Jarak antara tinggi lumpur dengan atap rumah kira-kira tinggal satu meter saja.
Dari catatan yang dihimpun suarasurabaya.net, sampai Selasa (02/01) sekurangnya dua kompleks perumahan di kawasan Tanggulangin sudah tenggelam dalam luberan lumpur panas Lapindo Brantas. Selain Tanggulangin Anggun Citra Pesona, sebelumnya Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahterah (Perumtas) I sudah tenggelam terlebih dulu.
04 Januari 2007, 15:12:33, Laporan J. Totok Sumarno
Luberan Lumpur Panas
Tak Sampai Sehari, Dusun Wangkal Tenggelam
ssnet| Luberan lumpur panas dari Lapindo Brantas Incorporated yang ‘menghajar’ sekitar kawasan Dusun Wangkal Desa Reno Kenongo, Kamis (04/01) ini sudah setinggi sekitar 2 meter. Rabu (03/01) kemarin, ketinggian lumpur tak lebih dari setengah meter. Tak sampai sehari, Dusun Wangkal tenggelam.
“Sampeyan lihat sendiri. Rabu (03/01) kemarin sekitar jam 11 siang lumpur masih sekitar 50 cm. Itu disana yang dekat Balongnongo. Di Wangkal sini, sekitar 20 – 25 cm. Sekarang, lumpur sudah sedemikian cepat bertambah jadi sekitar 2 meter,” kata NGATALI warga RT 16 RW 04 Wangkal, Reno Kenongo yang kembali ditemui suarasurabaya.net, Kamis (04/01).
Kamis (04/01) ini, tidak terlihat satupun warga Dusun Wangkal yang bertahan di rumahnya masing-masing. Luberan lumpur yang bertambah cepat sejak sekitar pukul 03.00 Wib, Kamis (04/01) itu, membuat warga tidak punya pilihan lain, selain meninggalkan rumah yang sudah disesaki lumpur panas.
06 Januari 2007, 08:25:56, Laporan J. Totok Sumarno
Pasar Baru Porong 'Mbludak', Warga Mulai Resah
ssnet| Sejumlah warga beberapa dusun di Reno Kenongo, yang rumahnya sudah terendam dalam lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated, Sabtu (06/01) mulai resah. Pasalnya, penampungan pengungsi di pasar baru Porong sudah penuh.
Kondisi saat ini di pasar baru Porong, memang sangat memprihatinkan. Selain minimnya sarana, jumlah pengungsi dari hari ke hari terus bertambah. Hal itu seiring dengan semakin meluasnya luberan lumpur panas yang masuk ke pemukiman warga. Catatan yang dihimpun suarasurabaya.net, sampai Sabtu (06/01) sudah lebih 3000 KK atau sekurangnya 9000 jiwa menempati pengungsian di pasar baru Porong.
07 Januari 2007, 17:56:21, Laporan Noer Soetantini
Luberan Lumpur Meluas Ke Sawah Dusun Kedungbendo
ssnet| Luberan lumpur tidak hanya terjadi di sekitar Blok L Perum TAS 1 Desa Kedungbendo. Luberan mulai masuk ke persawahan Dusun Sengon Desa Reno Kenongo.
AHMAD YAZID warga Gempolsari pada RULLY reporter Suara Surabaya, mengaku resah dengan luberan lumpur dan jebolnya tanggul di sekitar Dusun Sengon Desa Reno Kenongo. Karena lumpur makin mendekat ke arah Gempolsari Kecamatan Tanggulangin.
***********
09 Januari 2007, 18:01:31, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Keseriusan Tmnas Menutup Semburan Lumpur Dipertanyakan
ssnet| Upaya menutup semburan lumpur Lapindo sampai saat ini belum menghasilkan juga. Peran tim khusus untuk menutup semburan yang melibatkan para pakar dipertanyakan.
MUHAMAD MIRDAS satu diantara tokoh Jatirejo pada RULLY reporter Suara Surabaya, Selasa (09/01), mengatakan, Tim Nasional (Timnas) terkesan hanya pasrah dengan kondisi yang ada. Tidak hanya itu, bahkan Timnas dianggap sudah menghentikan kerjanya dalam menangani lumpur Lapindo.
Tim khusus yang ditugaskan dalam penanganan lumpur Lapindo, sebut MIRDAS, meliputi Tim A untuk menutup semburan, Tim B untuk penanganan lumpur permukaan, juga Tim C untuk masalah-masalah sosial.
MIRDAS yang juga anggota DPRD Jatim mengatakan, keberadaan Timnas lebih sekadar macan ompong. Timnas tidak hanya gagal mengatasi masalah lumpur di permukaan tapi juga gagal mengatasi masalah sosial.
Sedangkan, sumber masalah sendiri adalah semburan lumpur yang hingga sekarang belum juga berhasil ditutup. Bahkan upaya terakhir satu-satunya yang masih tersisa relief well sekarang ini juga tanpa aktivitas.
RUDI NOVRIANTO Juru Bicara Timnas Penanggulangan Luapan Lumpur menyikapi hal ini mengatakan, upaya menutup semburan memang terhenti saat ini, tapi tetap akan dilanjutkan.
Diakui RUDI, target selesai Desember 2006 gagal tercapai. Kemungkinan baru akan selesai Februari 2007. Keberadaan relief well yang sekarang masih mencapai 3.572 feet, masih jauh dari target yang dicanangkan mencapai 7 ribu feet.
09 Januari 2007, 20:22:13, Laporan J. Totok Sumarno
Tenggelam Dalam Lumpur, Ketapang Tinggal Kenangan
ssnet| “Sedih rasanya lihat rumah dan tanah kelahiran saya tenggelam dalam lumpur panas. Hampir setiap waktu kalau ada kesempatan saya selalu menyempatkan mampir, melihat sisa-sisa rumah saya. Tapi sudah nggak kelihatan. Cuma lumpur saja yang kelihatan”.
Sambil sesekali mengusap lelehan air matanya, ULFAH warga Desa Ketapang mengucapkan itu saat ditemui suarasurabaya.net, Selasa (09/01) di ujung tanggul kawasan Ketapang Keres atau jalan Mataram, Ketapang, Kecamatan Tanggulangin.
ULFAH dan keluarganya adalah satu diantara warga RT 1 RW 01 Ketapang yang rumah dan kampung halamannya sudah tenggelam dalam luberan lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated, dengan ketinggian hampir mendekati 2 meter.
Ketika lumpur panas itu mengalir, ULFAH dan seluruh keluarga besarnya, langsung memutuskan untuk pindah ke famili di daerah Tulangan. “Kita semua pindah. Tetangga ikut pindah. Sekarang terpencar-pencar. Sedih kalau ingat itu, kampung halaman diluberi lumpur kayak gitu. Mulai kecil sampai saya punya cucu, saya tinggal di Ketapang. Kepekso saiki minggat nang kampung liyo,” tambah ULFAH.
Sedangkan KASRIPAN, hanya diam membisu memandangi balai desa dan sekitar lokasi pertigaan jalan Mataram atau lebih dikenal dengan sebutan Ketapang Keres itu sudah tenggelam dalam lumpur. Matanya hanya menerawang saja.
“Mau kemana lagi? Ya terpaksa ngungsi. Rumah, sawah, kampung semua tenggelam dalam lumpur. Sedihnya itu, semua riwayat sama cerita zaman dulu itu hilang ditenggelamkan lumpur. Sedih sekali,” kata KASRIPAN warga RT 2 RW 01 Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Selasa (09/01).
Sejauh mata memandang dari atas tanggul di lokasi bekas Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Selasa (09/01) hampir sebagian besar rumah dan bangunan yang ada sudah tenggelam dalam lumpur. Yang tersisa hanya bagian atap saja. Desa Ketapang tinggal kenangan saja.
10 Januari 2007, 19:11:48, Laporan J. Totok Sumarno
Mengenaskan, Kedungbendo Jadi Danau Lumpur
ssnet| Lokasi Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, terutama yang berada dekat kompleks perumahan Tanggulangin Citra Pesona Permai sampai mendekati kawasan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahterah (Perumtas) I, Rabu (10/01) tak ubahnya seperti danau lumpur. Mengenaskan!
Ketinggian lumpur sudah lebih dari 2 meter. Hampir seluruh tiang listrik milik PLN yang berada di sepanjang jalan Raya Kedungbendo, mulai dari depan Perumtas I sampai mengarah ke perbatasan Dusun Sengon, Reno Kenongo, diluberi lumpur panas dengan ketinggian lebih 3 meter.
“Kira-kira lumpurnya itu sudah setinggi 5 meter, kalau dihitung dari bagian bawah, bekas jalan Raya Kedungbendo dulu ya. Ketinggian itu memanjang terus sampai mendekati kawasan Ketapang Keres sana. Desa Kedungbendo yang bersebelahan dengan Balongnongo, Desa Reno Kenongo sudah 5 meter lebih lumpurnya,” ujar BAMBANG IKSAN warga Kedungbendo yang mengungsi ke Penatar Sewu, Kecamatan Tanggulangin, Rabu (10/01).
Kawasan Desa Kedungbendo kini tak ubahnya danau lumpur panas. Sisa-sisa bangunan rumah sudah tidak nampak lagi. Kecuali bangunan rumah berlantai dua, sampai Rabu (10/01) hanya tersisa pada bagian lantai dua saja. Tidak mungkin lagi warga Kedungbendo bakal kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, bangunan masjid di ujung jalan Raya Kedungbendo yang bersebelahan dengan pasar Desa Kedungbendo, hanya menyisahkan bagian atapnya saja. Bangunan masjid setinggi hampir 10 meter itu, Rabu (10/01) terlihat mengenaskan, hanya bagian atapnya saja yang terlihat. Sisanya ditenggelamkan lumpur panas.
Tuesday, December 19, 2006
MENANTI HARI LUMPUR MENYERGAP
Musim hujan telah tiba. Semburan lumpur terus berlangsung. Lumpur terus merayap mendekati untuk menggenangi. Kita menghitung hari .........., hari lumpur tiba dan menggenangi.
Lumpur tidak akan menunggu kita selesai mengungsi
tidak akan menunggu ganti rugi selesai dibagikan
tidak akan menunggu jalan tol
tidak akan menunggu rel kereta api
tidak akan menunggu pipa gas, direlokasi
Juga tidak akan menunggu pelabuhan selesai dibangun
Akankah lumpur mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007???
21 Desember 2006, 19:08:02, Laporan J. Totok Sumarno
Di Ketapang Keres
Tanggul Setengah Hati, Air Keruh Deras Mengalir
ssnet| “Lha gimana kalau bukan setengah hati? Sudah ditanggul, tapi aliran airnya masih deras. Gimana ini? Apa nanti nggak sia-sia? Tanggulnya saja cuma seperti ini. Lihat saja airnya itu deras sekali, jangan-jangan malah jebol? Soalnya aliran air itu memang keluar sebelum lumpur. Biasanya setelah air disusul lumpur”.
Kondisi tanggul penahan lumpur yang berada paling dekat dengan aliran lumpur di lokasi RT 1 RW 1 Ketapang, tingginya sekitar 1,5 meter. Lumpur memang tertahan dan tidak bergerak, tetapi dari bagian bawah tanggul, terlihat air mengalir cukup deras.
Sementara itu, tanggul di sepanjang lokasi Ketapang Keres yang berdekatan dengan rel kereta api, dibuat di sisi kiri dan kanan jalan. Hanya beberapa meter saja tanggul yang dibuat, dan air berwarna keruh terlihat dibagian tengah tanggul mengalir dengan deras.
Kamis (21/12) sampai sekitar pukul 12.00 Wib, dari pantauan suarasurabaya.net, memang tidak terlihat aktivitas penanggulan atau datangnya truk-truk pengangkut sirtu. Meski penanggulan sudah dilakukan sejak Rabu (20/12) kemarin, tapi sampai Kamis (21/12) tanggul masih belum diselesaikan. Terbukti, air terlihat terus mengalir dari bawah tanggul itu.
Selasa, 19 Desember 2006 20:35 WIB
NUSANTARA - Jawa Timur
Perekonomian Jawa Timur Terancam Kolaps
SURABAYA--MIOL: Perekonomian beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim) bagian timur, terancam kolaps karena dampak dari penutupan jalan tol Gempol-Porong sejak ledakan pipa gas Pertamina di lokasi genangan lumpur Porong, Sidoarjo.
Hal itu terungkap dari hasil pertemuan antara Gubernur Jatim Imam Utomo dan Bupati Probolinggo, Pasuruan, Malang, Wali Kota Malang, Kota Batu, serta Wali Kota Pasuruan di Rumah Dinas Gubernur Jalan Imam Bonjol, Surabaya, Selasa (19/12).
Menurut Gubernur Jatim Imam Utomo, sejak peristiwa semburan lumpur di Porong, transportasi jalan tol terputus. Kendaraan hanya bisa melewati Jalan Raya Porong, sehingga kondisi pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah bagian timur Jatim mengalami penurunan hingga 15%. Tetapi, Imam tidak menyebutkan angka nominal kerugian tersebut. ''Tiap bupati dan wali kota menjelaskan, tingkat kerugian yang dialami akibat lumpur bervariasi,'' kata Gubernur, setelah mendengarkan paparan para bupati dan wali kota.
Sementara itu, jumlah warga dari Desa Ketapang, Tanggulangin yang mengungsi ke Pasar Baru Porong dan Balai Desa Ketapang terus bertambah. Hingga kemarin tercatat sekitar 10 ribu korban lumpur mengungsi. Antara lain 2.790 keluarga atau 9.509 jiwa mengungsi di Pasar Baru Porong, kemudian 100 keluarga atau 400 jiwa dari Desa Ketapang ke Balai Desa Ketapang, serta lokasi pengungsian di kantor Pendidikan dan Latihan Dinas Sosial, Sidoarjo, 25 keluarga atau 79 jiwa.
Dilaporkan pula, kondisi rel kereta api jalur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi di Desa Ketapang semakin terancam. Air lumpur di persawahan desa itu sudah semakin mendekati rel, hanya berjarak kurang dari tiga meter. Pihak PT Kereta Api Indonesia berencana melakukan relokasi rel tersebut, namun hingga kini masih dalam pengkajian. (FL/HS/OL-01)
19 Desember 2006, 18:16:54, Laporan J. Totok Sumarno
Kesulitan Angkutan Evakuasi, Sementara Lumpur Tambah Tinggi
ssnet| “Kita sudah mulai kemarin mretheli barang-barang yang ada di dalam rumah. Bahkan sampai Selasa (19/12) ini kita masih terus ngangkuti barang-barang, tapi angkutannya nggak ada. Kita kesulitan, soalnya lokasi ini sudah hampir terkepung lumpur. Lumpurnya memang tambah tinggi terus”.
MARWAN warga RT 10 RW 3 Ketapang menyampaikan itu saat ditemui suarasurabaya.net, Selasa (19/12). Bersama dengan sejumlah warga lainnya, MARWAN terus mengevakuasi barang-barang, dan diletakkan ditepi jalan.
Beberapa warga lainnya, justru sudah membongkar barang-barang berharga yang ada di rumah, seperti kusen dan alat-alat kelistrikan, tapi tidak tahu dengan apa harus diangkut. Terpaksa barang-barang yang sudah dipretheli itu diletakkan didepan rumah masing-masing.
Untuk mencegah luberan lumpur mendekati barang-barang tersebut, warga memasang batu bata atau kayu tidak terpakai untuk menyanggah barang-barang tersebut. “Sementara kita beginikan dulu, sambil nunggu angkutan datang,” tambah MARWAN.
Lokasi RT 10 RW 3 Ketapang berada agak menjorok dari kawasan Ketapang Keres. Karena lokasinya agak jauh didalam, sementara beberapa akses masuk menuju kawasan tersebut sebagian memang sudah tergenangi lumpur panas. Hal itu juga yang membuat angkutan evakuasi akhirnya memasang tarif agak mahal.
19 Desember 2006, 18:12:36, Laporan Eddy Prasetyo
Persiapan Pelabuhan Probolinggo dan Pasuruan Dipercepat
ssnet| Pemerintah Propinsi Jawa Timur mempercepat persiapan pelabuhan-pelabuhan di Pasuruan dan Probolinggo sebagai sarana angkutan alternatif komoditi di daerah industri Pasuruan dan Probolinggo yang terganggu akibat banjir lumpur Lapindo di Porong.
Dalam tempo seminggu ini, Adminitrasi Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak dan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) harus sudah memiliki konsep persiapan pelabuhan di Pasuruan dan Probolinggo. Hal ini dikatakan IMAM UTOMO Gubernur Jawa Timur pada suasurabaya.net, Selasa (19/12).
Menurut IMAM, pihaknya mengundang 6 kepala daerah yang wilayahnya terkena imbas pada sektor ekonomi akibat lumpur di Porong. Lima daerah itu adalah Bupati dan Walikota di kawasan Malang Raya (Walikota dan Bupati Malang, serta Walikota Batu), Walikota Pasuruan, Bupati Pasuruan, dan Bupati Probolinggo. Laporan ini menurut IMAM, kan dilaporkan ke SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Presiden RI dalam satu dua hari ke depan.
Selain revitalisasi pelabuhan di Pasuruan dan Probolinggo, keretaapi sebagai angkutan barang akan dioptimalkan. IMAM menjamin jalur KA masih aman meskipun kemarin sempat diancam lumpur yang jaraknya mencapai 3 meteran.
HARI SUGIRI Kadishub Pemprop Jatim menambahkan angkutan barang melalui KA akan dilakukan mulai Februari 2007 mendatang. Kereta api barang ini akan melalui jalur Bangil menuju Tanjung Perak. Jika jalur ini tak memungkinkan, bisa dilalui jalur memutar dari Malang, Kertosono, Surabaya.
19 Desember 2006, 19:50:11, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Penanggulan Dekat Rel KA Ditolak Warga
ssnet| Rencana pembuatan tanggul dekat rel kereta api di Desa Ketapang ditolak warga karena belum jelas soal ganti rugi.
SYAIFUL ILLAH Wakil Bupati dan ARIF SETIAYADI Bagian Desain dan Supervisi Tim Nasional Penanggulangan Lumpur datang ke lokasi dan sudah siap satu Buldoser dan 3 truk sirtu untuk menanggul dekat rel kereta api yang terancam lumpur terus mengalir.
Tapi ketika penanggulan akan dilakukan, seperti dilaporkan YULIA reporter Suara Surabaya, Selasa (19/12), tiba-tiba warga Desa Ketapang berbondong-bondong datang dan maminta untuk tidak dilakukan penanggulan. Alasannya, kalau dilakukan penanggulan maka Desa mereka akan tengglem dengan lumpur. Padahal mereka belum termasuk kesepakatan dengan Lapindo mendapatkan cash and carry.
Demi suatu kesepakatan, akhirnya SYAIFUL dan warga berunding di Balai Desa Ketapang membuat perjanjian hitam di atas putih supaya mereka mendapatkan ganti rugi. Kalau itu tidak dipenuhi maka penanggulan tidak boleh diakukan. Dalam perundingan tersebut juga hadir beberapa polisi, Dandim Sidoarjo di Balai Desa Ketapang.
Saat warga mengajukan kepastian ganti rugi sempat ada saling lempar tanggung jawab antara Timnas dan Wakil Bupati. Akibatnya, perundingan deadlock.
Sedangkan ARIF SETIAYADI mengatakan, kalau memang Desa Ketapang tidak bisa di tanggul maka mereka akan menanggul Desa Kedungbendo karena lumpur ini harus ditahan agar tidak sampai di rel kereta api. Perundingan ini juga sempat terganggu dengan Polisi yang menangkap satu diantara warga yang ternyata bukan termasuk warga Desa Ketapang.
Sampai saat ini, penanggulan ini masih belum dilakukan. Karena warga masih berunding sementara pasukan Dalmas, Timnas dan pekerja lapangan sudah berada di tempat yang akan ditanggul.
19 Desember 2006, 17:39:24, Laporan J. Totok Sumarno
Bahaya!! Saluran Irigasi Penuh Lumpur
Jarak Lumpur Panas Dengan Rel Tinggal Selangkahssnet| Akibat jebolnya tanggul di sekitar Desa Reno Kenongo, Senin (18/12) petang kemarin, luberan lumpur panas memenuhi saluran irigasi dekat rel kereta api. Sedangkan jarak luberan lumpur panas dengan rel kereta api, Selasa (19/12) hanya tinggal selangkah saja.
“Seperti yang terlihat di lokasi sekitar 100 meter dari Ketapang Keres ke arah barat, luberan lumpur panas dari saluran irigasi sudah sampai rerumputan dibawah kerikil yang ada disisi kiri kanan rel kereta api. “Wah kalau nanti ada yang jebol lagi tanggul disekitar sini, rel kereta api pasti kena lumpur panas juga,” ujar KARTONO warga Tulangan, Sidoarjo yang kebetulan melihat luberan lumpur panas dekat rel kereta api tersebut, Selasa (19/12).
Selasa (19/12) mengutip laporan YULIA DAMAYANTI reporter suarasurabaya dilokasi Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, upaya perundingan antara Muspika Sidoarjo dengan warga masyarakat menyoal penanggulan kawasan dekat rel kereta api masih berlangsung alot.
19 Desember 2006, 16:39:45, Laporan J. Totok Sumarno
Di Ketapang
Laju Lumpur Panas Disertai Asap Seperti Tak Terbendung
ssnet| Setelah Senin (18/12) petang kemarin tanggul di Reno Kenongo jebol, luberan lumpur panas terus bergerak masuk kekawasan Ketapang. Selasa (19/12) laju luberan lumpur panas yang disertai asap putih seperti tidak terbendung. Bergerak cepat menggenangi pemukiman.
“Untungnya seluruh barang dagangan sudah diungsikan. Sekarang ini tinggal mbongkar sisa bangunan yang ada. Lumpurnya itu memang cepat sekali luberannya. Nggak seperti sebelumnya, sekarang ini lumpurnya cepat sekali bergerak,” kata UDIN warga Ketapang Keres, Selasa (19/12).
18 Desember 2006, 18:46:03, Laporan J. Totok Sumarno
Dua Titik Semburan Dengan Bubble Ditemukan
ssnet| Dua titik semburan air dilengkapi dengan bubble atau gelembung-gelembung udara, Senin (18/12) ditemukan di persawahan warga dan dekat jembatan bailey yang ada Desa Pejarakan, Porong.
“Kalau Minggu (17/12) kemarin itu, gelembung-gelembungnya itu kelihatan lebih banyak, dan besar-besar. Semburannya memang cuma sekitar 10 sampai 15 cm saja. Termasuk yang ada didekat jembatan bailey disana itu,” ujar MUKLIS satu diantara operator mesin pompa yang ada dibekas persawahan warga Desa Pejarakan, Senin (18/12).
Semburan air dengan gelembung tersebut terlihat jelas dengan lebar area sekitar satu meter dan lebar sekitar satu setengah meter. semburan air di lokasi bekas perswahan warga Pejarakan itu berada persis dibawah tiang listrik tegangan tinggi.
Sedangkan satu titik semburan air lainnya, yang juga dilengkapi dengan gelembung-gelembung udara terlihat tak jauh dari lokasi jembatan bailey. Dibandingkan dengan semburan yang berada di bekas persawahan Desa Pejarakan, titik semburan di lokasi dekat jembatan bailey terlihat lebih kecil.
Sebelumnya, beberapa semburan yang dilengkapi dengan bubble atau gelembung-gelembung udara juga pernah muncul dibeberapa tempat. Di Desa Jatirejo dan persawahan Desa pejarakan, yang sudah tenggelam dalam lumpur bercampur air, semburan seperti itu juga pernah muncul.
18 Desember 2006, 18:07:32, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Jembatan Raya Porong Retak Hingga 7,6 Cmssnet| Jembatan tol di atas Raya Porong mengalami pergeseran retakan hingga mencapai 7,6 cm.
Dilaporkan MARTHA reporter Suara Surabaya, Senin (18/12), pengukuran yang dilakukan Jasa Marga Senin pagi, retakan tol mengalami pergeseran yang lambat selama 4 hari ini.
Pergeseran retakan tol yang bisa ditoleransi sekitar 13 cm jadi sampai Senin siang tinggal 5,4 cm lagi sampai batas maksimal pergeseran tol yang bisa ditolelir.
ISKANDAR Kasubag Pemeliharaan Jasa Marga mengatakan, ada 2 titik retakan yang dominan dan sangat rawan. Yang paling parah di sekitar KM 37 dekat pusat semburan lumpur keretakannya sekitar 6 cm. Sedangkan retakan yang lain di kolong 4 dari KM 37 dari lebar retakan sekitar 3 sampai 4 cm.
Kata ISKANDAR, kondisi jembatan tol yang ada tepat di atas Raya Porong sejauh ini masih aman. Tidak ada keretakan yang mengkhawatirkan. Struktur jembatan masih bagus, tapi yang tidak bisa diprediksi adalah struktur tanah yang labil mengalami pergerakan. Tanpa gerakan tanah yang signifikan kecil kemungkinan jembatan tol di atas Raya Porong ini akan ambruk.
18 Desember 2006, 18:15:37, Laporan Eddy Prasetyo
Hujan Deras
Lumpur Panas Bergerak Makin Liar
ssnet| Hujan deras selama kurang lebih 1 jam mulai pukul 16.00 hari ini di sekitar Porong dan Tanggulangin mengakibatkan lumpur panas mengalir deras menuju Utara. Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin menjadi korban derasnya aliran lumpur panas ini.
TRI MARTHA HERAWATI reporter Suara Surabaya melaporkan sebagian warga Desa Ketapang sudah mengungsi akibat derasnya aliran lumpur panas yang diduga berasal dari luberan di pond A Desa Reno Kenongo. Saat berita ini ditampilkan upaya evakuasi warga di Desa Ketapang masih berlangsung.
Pantauan di dekat jembatan Porong yang sudah diinstruksikan untuk dibongkar, garis depan lumpur sudah mencapai jarak sekitar 5 meter dari ruas rel. Lumpur panas tersebut mengepulkan asap putih tebal dan mengundang perhatian pengguna Jl. Raya Porong.
Sementara itu pantauan di Jl. Ketapang Keres, lumpur sudah mulai berjarak sekitar 30 meter dari rel KA.
AKP SARTONO Kepala Induk PJR Tol Jatim I pada Suara Surabaya juga melaporkan tanggul di dekat pabrik Omo Desa Reno Kenongo jebol dan mengakibatkan lumpur mengalir deras ke arah Utara. “Kalau ini dibiarkan, tak perlu menunggu lama pasti Jalan Raya Porong akan kena lumpur juga,” tegasnya.
Dilaporkan MARTHA juga, upaya penanggulan hingga berita ini ditampilkan belum juga dilakukan Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
Senin, 18 Desember 2006 20:34 WIB
NUSANTARA - Jawa Timur
Lumpur Mengalir Deras, Warga Ketapang Panik
Media Indonesia online.
Penulis: Heri Susetyo
SIDOARJO--MIOL: Ratusan warga di Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Senin (18/12) malam, panik. Soalnya, lumpur mengalir deras memasuki kawasan desa ini.
Lumpur yang semula hanya menggenangi wilayah RT 1 dan areal persawahan RT 7 kini terus meluas. Lumpur akhirnya memasuki kawasan pemukiman RT 7 bahkan terus mengalir menggenangi RT 8,9 dan 10.
Warga yang panik ini berlarian berusaha menyelamatkan perabotan rumah dengan alat transportasi seadanya. Sebagian menggunakan kendaraan roda dua, gerobak, becak dan kendaraan terbuka roda empat.
Warga yang panik ini rata-rata menyayangkan kinerja Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Panas Sidoarjo. Mereka menilai timnas tidak maksimal bekerja sehingga membuat kawasan mereka terendam.
Kekesalan warga ini kemudian dilampiaskan dengan memblokir Jalan Raya Porong. Warga memblokir jalan dengan perabotan serta menghadang kendaraan yang lewat.
Aliran Lumpur Mendekati Jalan Raya Porong
Kompas cybermedia, 18 Desember 2006, 23.31.
SIDOARJO, KOMPAS – Genangan lumpur panas yang terus meluas di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini alirannya makin mendekati rel kereta api jurusan Surabaya-Malang/Banyuwangi dan Jalan Raya Porong. Padahal, jalan raya Porong merupakan jalur utama dari arah Surabaya menuju Malang dan Surabaya Banyuwangi setelah jalan tol terendam lumpur panas.
Berdasarkan pemantauan, Senin (18/12), jarak lumpur terluar di Desa Ketapang tinggal sekitar 100 meter dari rel kereta api dan Jalan Raya Porong. Namun demikian, belum ada upaya pembuatan tanggul di desa tersebut.
Permukiman Desa Ketapang terletak di sebelah utara Desa kedungbendo yang sudah terendam lumpur terlebih dahulu. Tepat di sebelah timur desa itulah rel kereta api dan Jalan Raya Porong berada.
Lumpur mengalir mendekati rel dan Jalan Raya Porong melalui gang-gang di sekitar permukiman warga dan jalan Desa Ketapang. Di sinilah persoalannya. Apabila tanggul akan dibangun, maka lokasinya tidak akan mudah karena kawasan di sisi rel penuh permukiman.
Juru Bicara Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo Rudy Novrianto, menyatakan, tengah mengupayakan pembuatan tanggul. Pengerjaannya, dimulai Senin petang.
Pembangunan tanggul, lanjut Rudy, sempat menemui kendala di lapangan. Pasalnya, warga Desa Ketapang menolaknya. (LAS)
15 Desember 2006, 15:57:22, Laporan Iping Supingah
Hasil Evaluasi
Jembatan Tol Porong, 40 Hari Lagi Bahaya Sekali!
ssnet| Dalam waktu 40 hari jembatan tol di atas Raya Porong sudah bahaya sekali. Demikian prediksi dari hasil evaluasi yang disampaikan Ir. HARY FAZAH Ketua Tim Penanganan Jembatan Tol Porong dari Bina Teknik Direktorat Jenderal Pu Bina Marga.
Pada Suara Surabaya, Jumat (15/12) HARY FAZAH menjelaskan, sejak tanggal 4 sampai 9 Desember terjadi retakan 8 cm. Dalam rentang waktu itu ada retakan 1 cm dan progres itu diasumsikan linier, sehingga bisa diprediksi dalam 40 hari jembatan tol Porong kondisi alarm atau sudah bahaya sekali.
Kata HARY, masalahnya pada pondasi di bawah yang terpengaruh pergerakan tanah. Jembatan tol Porong retak bukan pada strukturnya, tapi pergerakan antara 2 bangunan di atas pilar jembatan. Di atas pilar itu ada dudukan jembatan yang besarnya sekitar 45 cm. Itulah yang jadi pertimbangan seberapa besar pergerakannya.
HARY FAZAH menegaskan, akibat pergerakkan horizontal itu jembatan tol Porong harus segera dibongkar, karena progresnya meningkat terus. Sementara waktu pembongkaran jembatan tol Porong belum ditentukan, sebab menunggu keputusan Departemen PU Bina Marga. Hasil evaluasi itu sendiri baru akan disampaikan ke Departemen PU Bina Marga Senin (18/12) mendatang.
14 Desember 2006, 17:15:10, Laporan Eddy Prasetyo
Perumtas I Tersisa 6 Gang Lagi
ssnet| Lumpur yang menyapu Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I Desa Kedung Bendo sampai Kamis (14/12) siang masih menyisakan 6 gang lagi. Kompleks yang terdiri atas 8.300 rumah berbagai tipe ini menyisakan Blok J 5, 6, dan 7, serta Blok K 9, 10, dan 11.
Derasnya aliran lumpur membuat warga yang rumahnya belum tergenang lumpur bergegas menyelamatkan harta bendanya yang tersisa. Tak hanya perabotan rumah tangga, bahkan kusen, pagar besi, sampai kuda-kuda rumah pun diselamatkan sebelum lumpur menyapu rumah.
Ia menyesalkan Timnas Penanggulangan Luapan Lumpur Sidoarjo yang lamban menangani luapan lumpur sehingga arus lumpur yang mulanya mengarah ke Kali Porong, kini malah mengalir ke Utara yang padat pemukiman.
Jika keadaan seperti ini tak juga ditanggulangi Timnas, JOKO yakin dalam dua hari saja 6 gang itu sudah ikut tersapu lumpur seperti ribuan rumah di Perumtas I lainnya di sebelah Selatan yang telah lebih dulu tenggelam.
Jarak antara garis depan lumpur dengan Kali Tengah yang menjadi batas Perumtas I dengan Desa Kedung Bendo RT 14 kini praktis hanya kurang dari 200 meter saja.
Kamis, 14 Desember 2006 13:23 WIB
NUSANTARA - Jawa Timur
Pengungsi Korban Lumpur di Porong 8.000 Jiwa
Penulis: Heri S
SIDOARJO--MIOL: Pengungsi korban lumpur di Pasar Baru Porong (PBP), Kabupaten Sidoarjo, terus berdatangan dan jumlahnya saat ini mencapai lebih dari 8.000 jiwa.
Data di posko pengungsian PBP hingga Kamis siang (14/12), tercatat 2.403 keluarga atau 8.030 jiwa. Mereka terdiri dari warga Desa Kedungbendo Kecamatan Tanggulangin sebanyak 2.225 keluarga atau 7.451 jiwa dan warga Desa Renokenongo Kecamatan Porong sebanyak 178 keluarga atau 579 jiwa.
Terus bertambahnya pengungsi di PBP pascaledakan pipa gas pada 22 November lalu semakin mendekati angka jumlah pengungsi sebelum terjadinya ledakan. Sebelum terjadi ledakan pipa gas, PBP sudah dijadikan tempat pengungsian yang menampung 2.605 keluarga atau 9.936 jiwa.
Semakin meningkatnya jumlah pengungsi ini tidak diimbangi dengan fasilitas yang ada di PBP. Sebab 50 ruko dan 272 kios berbagai ukuran yang ada di pasar itu juga sudah tidak mampu menampung pengungsi. Sehingga lebih dari 500 jiwa saat ini harus tinggal di kios terbuka tanpa dinding. Mereka yang tidur di tempat terbuka itu juga semakin bertambah karena setiap hari pengungsi baru terus berdatangan.
Sementara itu, pergerakan air lumpur juga semakin meluas memasuki wilayah Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin. Padahal Desa Ketapang yang bersebelahan dengan Desa Tanggulangin ini jaraknya hanya seratus meter dari Jalan Raya Porong. Sehingga tidak mustahil dalam hitungan beberapa hari maka lumpur akan masuk ke Jalan Raya Porong.
Kamis, 14 Desember 2006 18:56:00
Sejumlah Rumah yang Dibiayai Bank BTN Terancam Lumpur Lapindo
Jakarta-RoL-- Sejumlah rumah yang dibiayai melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN) terancam genangan lumpur dari PT Lapindo Brantas sehingga nasibnya sewaktu-waktu juga dapat menyusul rumah lainnya yang terendam lumpur.
"Terdapat empat lokasi perumahan yang dibiayai kita yang saat ini lumpurnya sudah masuk ke permukiman," kata Direktur Kredit Bank Tabungan Negara, Siswanto kepada wartawan disela-sela penyelenggaraan Rakernas REI 2006 di Jakarta, Kamis (14/12).
Rumah yang terancam terendam lumpur tersebut dipekirakan sebanyak 3.600 unit dengan nilai KPR Rp70 miliar serta telah terbangun sejak lima tahun lalu.
Siswanto menjelaskan, rumah-rumah tersebut masuk ke dalam wilayah Ring 3 dari pusat semburan lumpur PT Lapindo Brantas, sehingga tinggal menunggu waktu rumah-rumah itu bernasib sama dengan yang berlokasi di Ring 1.
Dia mengharapkan apabila sampai rumah-rumah yang dibiayai BTN itu sampai terendam lumpur maka PT Lapindo Brantas juga harus komit untuk mengganti kerugian sepertihalnya dengan rumah-rumah yang terlebih dahulu terendam lumpur di Ring I.
Kompas Cyber Media, rabu 6 Desember 2006
Kepemilikan Tanah Jadi Persoalan Rumit
SIDOARJO, KOMPAS - Status kepemilikan tanah dalam proses ganti rugi korban semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akan menjadi persoalan rumit karena hanya sebagian kecil warga yang memiliki sertifikat. Kalaupun tanah tersebut dibeli Lapindo Brantas Inc, sesuai dengan Undang-Undang Agraria, perusahaan itu tidak boleh memiliki tanah dengan status hak milik.
"Hanya perseorangan, bank pemerintah, koperasi, dan yayasan sosial yang boleh memiliki tanah dengan status hak milik," kata ahli hukum tanah Universitas Airlangga Surabaya, Urip Santoso, Selasa (5/12).
Solusinya, menurut Urip, tanah yang dibeli itu statusnya dimiliki perseorangan, misalnya atas nama Nirwan Bakrie. Namun, itu masih terbentur pada Keputusan Menteri Negara Agraria dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 1998 yang menetapkan seseorang bisa memiliki tanah maksimal 5.000 meter persegi.
"Persoalan ini harus dipahami sejak awal sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari," kata Urip.
Di lapangan, Lapindo Brantas Inc mensyaratkan ganti rugi dalam proses jual-beli akan diberikan untuk tanah-tanah yang memiliki sertifikat. Padahal, menurut Camat Porong Mulyadi, jumlah warga yang memiliki sertifikat tanah tidak sampai 10 persen. Sebagian besar warga hanya memiliki bukti kepemilikan dalam bentuk Petok D atau bahkan sebatas tercatat dalam pembukuan desa yang disebut Letter C.
Butuh waktu satu tahun
Di Jakarta, Direktur Utama PT (Persero) Pertamina Ari Soemarno menyatakan, pihaknya membutuhkan waktu hampir satu tahun jika harus memindahkan (rerouting) secara permanen pipa gas yang kini masih berada di bawah tanggul kolam penampung luapan lumpur panas Lapindo.
Adapun untuk memindahkan pipa gas secara sementara ke sebelah barat tanggul kolam lumpur panas sepanjang 12 kilometer dibutuhkan 48-60 hari.
Suara Surabaya Net
01 Desember 2006, 10:58:04, Laporan Iping Supingah
Terjadi Keributan
Demo Warga Korban Lumpur Diduga Disusupi
ssnet| Di tengah-tengah demo ribuan massa korban lumpur, terjadi sedikit keributan, diduga ada penyusup diantara aksi demo di Pendopo Kabupaten Sidoarjo itu.
Dilaporkan YULIA reporter Suara Surabaya, Jumat (01/12), keributan berawal sekitar pukul 10.00 saat SULAIMAN warga Perumtas Blok L datang ke pendopo membawa 50 massa dan spanduk. Mereka melakukan orasa dan bersholawat. Tapi satu diantara pengikutnya ketika ditanya warga lain tidak tahu ia warga mana dan saling lempar pandangan.
Sekarang SULAIMAN diamankan di Mapolres Sidoarjo dan 50 orang pengikutnya lari. Ditengarahi demo di Pendopo Kabupaten Sidoarjo hari ini ada penyusupnya. Sementara pendemo lainnya sudah ditenangkan petugas Bina Mitra Polres Sidoarjo sambil menunggu ada jawaban dari Timnas dan Lapindo.
Suara Surabaya Net
30 November 2006, 14:19:37, Laporan Iping Supingah
Tumpuan Jembatan Bergeser
Jembatan Tol di Atas Jalan Raya Porong Rawan Ambruk
ssnet| Jembatan tol Porong yang melintas di atas jalan Raya Porong, Sidoarjo rawan ambruk. PKL dan Pos Polisi di bawah jembatan tersebut hari ini dievakuasi. Pengguna jalan pun diharapkan waspada saat melintas di bawah jembatan ini.
Jembatan tol Porong ini mengalami pergeseran tumpuan jembatan dan sambungan yang melintang di tengah jembatan.
Ir SUBAKTI SYUKUR Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya Gempol pada RULLY reporter Suara Surabaya, Kamis (30/11) mengatakan, akibat land subsidence (penurunan tanah) tumpuan jembatan tol Porong bergeser 6 cm pada sisi utara arah Gempol, sedang pada sambungan melintang di sisi tengah bergeser merekah sekitar 3 cm.
Dijelaskan SUBAKTI kondisi rawan seperti ini tidak hanya terjadi di jembatan tol di atas Raya Porong, tetapi juga di over pass Desa Siring yang selama ini menjadi lalu lintas dump truck pengangkut sirtu. Namun sejak Kamis (30/11) hari ini dinyatakan jembatan ini dilarang dilintasi karena keretakannya sudah melingkar.
Menurut SUBAKTI, ia tidak bisa memperkirakan kapan jembatan tol di atas Raya Porong akan ambruk. Situasinya masih butuh evaluasi dan pantauan harian yang terus akan disampaikan pada Timnas.
Situasi yang mengkhawatirkan di bawah jembatan tol Porong ini, jika terjadi antrean kemacetan 2 arah terutama di Tanggulangin ke arah Gempol yang hampir terjadi setiap hari. Ini rawan kalau jembatan ambruk, tapi Jasa Marga tidak punya kewenangan memutuskan perlu tidaknya Raya Porong ditutup melihat kondisi jembatan yang rawan ambruk itu.
30 November 2006, 10:01:34, Laporan Iping Supingah
Tuntut Ganti Rugi pada Lapindo
Puluhan Sopir dan Pemilik Lyn HL, HZ Unjuk Rasa
ssnet| Puluhan orang beserta mobil penumpang umum (MPU) yaitu lyn HL dan HZ berunjukrasa di kantor Bappeda Kabupaten Sidoarjo. Mereka menuntut ganti rugi pada Lapindo.
Dilaporkan RULLY reporter Suara Surabaya, Kamis (30/11) angkutan desa lyn HL ini rutenya Pasar Larangan - Desa Sentul - Banjar Panji - Glagah Arum - Mrisen - Reno Kenongo - Kedungbendo - Ketapang Keres - dan berakhir di Pasar Porong. Sedangkan lyn HZ rutenya Permisan ke Pasar Porong.
NURSALIM satu diantara pengemudi lyn HZ mengatakan, selama 5 bulan terakhir mereka sebenarnya sudah mengajukan proposal ganti rugi ke Lapindo, tapi belum ada jawaban sampai sekarang.
Sementara penurunan pendapatan terus terjadi dan puncaknya dirasakan seminggu terakhir, karena banyak warga keluar dari desa sekitar luapan lumpur, dan rute lyn HZ dan HL juga tergenang. Akhirnya mereka mengambil rute jalan tikus sehingga BBM meningkat dan penumpang jadi sepi bahkan tidak ada lagi karena sudah mengungsi di lokasi berbeda. Berikut penjelasan NURSALIM .
28 November 2006, 17:21:21, Laporan Eddy Prasetyo
Sampai Jalur Baru Dibangun
Rel Tanggulangin-Porong Dipertahankan
ssnet| Rel kereta api Tanggulangin-Porong akan dipertahankan sampai jalur baru relokasi rel selesai dibangun. Hal ini diungkapkan SOEMINO EKO SAPUTRO Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan pada suarasurabaya.net usai Rapat Koordinasi dengan Komisi V DPR RI di ruang VVIP Bandara Internasional Juanda, Selasa (28/11).
Dalam rute baru itu, KA tidak akan melewati Stasiun Tanggulangin dan Porong. Dari Surabaya, KA akan melewati Sidoarjo ke Stasiun Tarik. Dari Stasiun Tarik, rencananya akan dibangun jaringan rel baru yang menghubungkannya dengan Stasiun Gununggangsir sepanjang 16 km.
Untuk pembangunan jaringan baru ini, dibutuhkan waktu 2 tahun dan biaya sebesar Rp250 miliar. Darimana sumber pendanaan pembangunan jaringan rel baru ini? SOEMINO masih belum memastikannya, tapi jika dananya sudah tersedia, awal Januari 2007 sudah mulai dilakukan pembangunan setelah studi kelayakan oleh ITS selesai akhir Desember mendatang.
Untuk menghadapi musim hujan, SOEMINO optimis rel KA di sepanjang tanggul masih aman karena di sebelah Timur sepanjang rel KA sudah dibangun saluran air untuk mengalirkan air. “Sepanjang tanggulnya kokoh, rel KA tidak akan kebobolan lumpur,” ujar dia.
Salam, dari Ancol, 19 Desember 2006
Wahyu
Lumpur tidak akan menunggu kita selesai mengungsi
tidak akan menunggu ganti rugi selesai dibagikan
tidak akan menunggu jalan tol
tidak akan menunggu rel kereta api
tidak akan menunggu pipa gas, direlokasi
Juga tidak akan menunggu pelabuhan selesai dibangun
Akankah lumpur mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007???
21 Desember 2006, 19:08:02, Laporan J. Totok Sumarno
Di Ketapang Keres
Tanggul Setengah Hati, Air Keruh Deras Mengalir
ssnet| “Lha gimana kalau bukan setengah hati? Sudah ditanggul, tapi aliran airnya masih deras. Gimana ini? Apa nanti nggak sia-sia? Tanggulnya saja cuma seperti ini. Lihat saja airnya itu deras sekali, jangan-jangan malah jebol? Soalnya aliran air itu memang keluar sebelum lumpur. Biasanya setelah air disusul lumpur”.
Kondisi tanggul penahan lumpur yang berada paling dekat dengan aliran lumpur di lokasi RT 1 RW 1 Ketapang, tingginya sekitar 1,5 meter. Lumpur memang tertahan dan tidak bergerak, tetapi dari bagian bawah tanggul, terlihat air mengalir cukup deras.
Sementara itu, tanggul di sepanjang lokasi Ketapang Keres yang berdekatan dengan rel kereta api, dibuat di sisi kiri dan kanan jalan. Hanya beberapa meter saja tanggul yang dibuat, dan air berwarna keruh terlihat dibagian tengah tanggul mengalir dengan deras.
Kamis (21/12) sampai sekitar pukul 12.00 Wib, dari pantauan suarasurabaya.net, memang tidak terlihat aktivitas penanggulan atau datangnya truk-truk pengangkut sirtu. Meski penanggulan sudah dilakukan sejak Rabu (20/12) kemarin, tapi sampai Kamis (21/12) tanggul masih belum diselesaikan. Terbukti, air terlihat terus mengalir dari bawah tanggul itu.
Selasa, 19 Desember 2006 20:35 WIB
NUSANTARA - Jawa Timur
Perekonomian Jawa Timur Terancam Kolaps
SURABAYA--MIOL: Perekonomian beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim) bagian timur, terancam kolaps karena dampak dari penutupan jalan tol Gempol-Porong sejak ledakan pipa gas Pertamina di lokasi genangan lumpur Porong, Sidoarjo.
Hal itu terungkap dari hasil pertemuan antara Gubernur Jatim Imam Utomo dan Bupati Probolinggo, Pasuruan, Malang, Wali Kota Malang, Kota Batu, serta Wali Kota Pasuruan di Rumah Dinas Gubernur Jalan Imam Bonjol, Surabaya, Selasa (19/12).
Menurut Gubernur Jatim Imam Utomo, sejak peristiwa semburan lumpur di Porong, transportasi jalan tol terputus. Kendaraan hanya bisa melewati Jalan Raya Porong, sehingga kondisi pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah bagian timur Jatim mengalami penurunan hingga 15%. Tetapi, Imam tidak menyebutkan angka nominal kerugian tersebut. ''Tiap bupati dan wali kota menjelaskan, tingkat kerugian yang dialami akibat lumpur bervariasi,'' kata Gubernur, setelah mendengarkan paparan para bupati dan wali kota.
Sementara itu, jumlah warga dari Desa Ketapang, Tanggulangin yang mengungsi ke Pasar Baru Porong dan Balai Desa Ketapang terus bertambah. Hingga kemarin tercatat sekitar 10 ribu korban lumpur mengungsi. Antara lain 2.790 keluarga atau 9.509 jiwa mengungsi di Pasar Baru Porong, kemudian 100 keluarga atau 400 jiwa dari Desa Ketapang ke Balai Desa Ketapang, serta lokasi pengungsian di kantor Pendidikan dan Latihan Dinas Sosial, Sidoarjo, 25 keluarga atau 79 jiwa.
Dilaporkan pula, kondisi rel kereta api jalur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi di Desa Ketapang semakin terancam. Air lumpur di persawahan desa itu sudah semakin mendekati rel, hanya berjarak kurang dari tiga meter. Pihak PT Kereta Api Indonesia berencana melakukan relokasi rel tersebut, namun hingga kini masih dalam pengkajian. (FL/HS/OL-01)
19 Desember 2006, 18:16:54, Laporan J. Totok Sumarno
Kesulitan Angkutan Evakuasi, Sementara Lumpur Tambah Tinggi
ssnet| “Kita sudah mulai kemarin mretheli barang-barang yang ada di dalam rumah. Bahkan sampai Selasa (19/12) ini kita masih terus ngangkuti barang-barang, tapi angkutannya nggak ada. Kita kesulitan, soalnya lokasi ini sudah hampir terkepung lumpur. Lumpurnya memang tambah tinggi terus”.
MARWAN warga RT 10 RW 3 Ketapang menyampaikan itu saat ditemui suarasurabaya.net, Selasa (19/12). Bersama dengan sejumlah warga lainnya, MARWAN terus mengevakuasi barang-barang, dan diletakkan ditepi jalan.
Beberapa warga lainnya, justru sudah membongkar barang-barang berharga yang ada di rumah, seperti kusen dan alat-alat kelistrikan, tapi tidak tahu dengan apa harus diangkut. Terpaksa barang-barang yang sudah dipretheli itu diletakkan didepan rumah masing-masing.
Untuk mencegah luberan lumpur mendekati barang-barang tersebut, warga memasang batu bata atau kayu tidak terpakai untuk menyanggah barang-barang tersebut. “Sementara kita beginikan dulu, sambil nunggu angkutan datang,” tambah MARWAN.
Lokasi RT 10 RW 3 Ketapang berada agak menjorok dari kawasan Ketapang Keres. Karena lokasinya agak jauh didalam, sementara beberapa akses masuk menuju kawasan tersebut sebagian memang sudah tergenangi lumpur panas. Hal itu juga yang membuat angkutan evakuasi akhirnya memasang tarif agak mahal.
19 Desember 2006, 18:12:36, Laporan Eddy Prasetyo
Persiapan Pelabuhan Probolinggo dan Pasuruan Dipercepat
ssnet| Pemerintah Propinsi Jawa Timur mempercepat persiapan pelabuhan-pelabuhan di Pasuruan dan Probolinggo sebagai sarana angkutan alternatif komoditi di daerah industri Pasuruan dan Probolinggo yang terganggu akibat banjir lumpur Lapindo di Porong.
Dalam tempo seminggu ini, Adminitrasi Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak dan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) harus sudah memiliki konsep persiapan pelabuhan di Pasuruan dan Probolinggo. Hal ini dikatakan IMAM UTOMO Gubernur Jawa Timur pada suasurabaya.net, Selasa (19/12).
Menurut IMAM, pihaknya mengundang 6 kepala daerah yang wilayahnya terkena imbas pada sektor ekonomi akibat lumpur di Porong. Lima daerah itu adalah Bupati dan Walikota di kawasan Malang Raya (Walikota dan Bupati Malang, serta Walikota Batu), Walikota Pasuruan, Bupati Pasuruan, dan Bupati Probolinggo. Laporan ini menurut IMAM, kan dilaporkan ke SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Presiden RI dalam satu dua hari ke depan.
Selain revitalisasi pelabuhan di Pasuruan dan Probolinggo, keretaapi sebagai angkutan barang akan dioptimalkan. IMAM menjamin jalur KA masih aman meskipun kemarin sempat diancam lumpur yang jaraknya mencapai 3 meteran.
HARI SUGIRI Kadishub Pemprop Jatim menambahkan angkutan barang melalui KA akan dilakukan mulai Februari 2007 mendatang. Kereta api barang ini akan melalui jalur Bangil menuju Tanjung Perak. Jika jalur ini tak memungkinkan, bisa dilalui jalur memutar dari Malang, Kertosono, Surabaya.
19 Desember 2006, 19:50:11, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Penanggulan Dekat Rel KA Ditolak Warga
ssnet| Rencana pembuatan tanggul dekat rel kereta api di Desa Ketapang ditolak warga karena belum jelas soal ganti rugi.
SYAIFUL ILLAH Wakil Bupati dan ARIF SETIAYADI Bagian Desain dan Supervisi Tim Nasional Penanggulangan Lumpur datang ke lokasi dan sudah siap satu Buldoser dan 3 truk sirtu untuk menanggul dekat rel kereta api yang terancam lumpur terus mengalir.
Tapi ketika penanggulan akan dilakukan, seperti dilaporkan YULIA reporter Suara Surabaya, Selasa (19/12), tiba-tiba warga Desa Ketapang berbondong-bondong datang dan maminta untuk tidak dilakukan penanggulan. Alasannya, kalau dilakukan penanggulan maka Desa mereka akan tengglem dengan lumpur. Padahal mereka belum termasuk kesepakatan dengan Lapindo mendapatkan cash and carry.
Demi suatu kesepakatan, akhirnya SYAIFUL dan warga berunding di Balai Desa Ketapang membuat perjanjian hitam di atas putih supaya mereka mendapatkan ganti rugi. Kalau itu tidak dipenuhi maka penanggulan tidak boleh diakukan. Dalam perundingan tersebut juga hadir beberapa polisi, Dandim Sidoarjo di Balai Desa Ketapang.
Saat warga mengajukan kepastian ganti rugi sempat ada saling lempar tanggung jawab antara Timnas dan Wakil Bupati. Akibatnya, perundingan deadlock.
Sedangkan ARIF SETIAYADI mengatakan, kalau memang Desa Ketapang tidak bisa di tanggul maka mereka akan menanggul Desa Kedungbendo karena lumpur ini harus ditahan agar tidak sampai di rel kereta api. Perundingan ini juga sempat terganggu dengan Polisi yang menangkap satu diantara warga yang ternyata bukan termasuk warga Desa Ketapang.
Sampai saat ini, penanggulan ini masih belum dilakukan. Karena warga masih berunding sementara pasukan Dalmas, Timnas dan pekerja lapangan sudah berada di tempat yang akan ditanggul.
19 Desember 2006, 17:39:24, Laporan J. Totok Sumarno
Bahaya!! Saluran Irigasi Penuh Lumpur
Jarak Lumpur Panas Dengan Rel Tinggal Selangkahssnet| Akibat jebolnya tanggul di sekitar Desa Reno Kenongo, Senin (18/12) petang kemarin, luberan lumpur panas memenuhi saluran irigasi dekat rel kereta api. Sedangkan jarak luberan lumpur panas dengan rel kereta api, Selasa (19/12) hanya tinggal selangkah saja.
“Seperti yang terlihat di lokasi sekitar 100 meter dari Ketapang Keres ke arah barat, luberan lumpur panas dari saluran irigasi sudah sampai rerumputan dibawah kerikil yang ada disisi kiri kanan rel kereta api. “Wah kalau nanti ada yang jebol lagi tanggul disekitar sini, rel kereta api pasti kena lumpur panas juga,” ujar KARTONO warga Tulangan, Sidoarjo yang kebetulan melihat luberan lumpur panas dekat rel kereta api tersebut, Selasa (19/12).
Selasa (19/12) mengutip laporan YULIA DAMAYANTI reporter suarasurabaya dilokasi Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, upaya perundingan antara Muspika Sidoarjo dengan warga masyarakat menyoal penanggulan kawasan dekat rel kereta api masih berlangsung alot.
19 Desember 2006, 16:39:45, Laporan J. Totok Sumarno
Di Ketapang
Laju Lumpur Panas Disertai Asap Seperti Tak Terbendung
ssnet| Setelah Senin (18/12) petang kemarin tanggul di Reno Kenongo jebol, luberan lumpur panas terus bergerak masuk kekawasan Ketapang. Selasa (19/12) laju luberan lumpur panas yang disertai asap putih seperti tidak terbendung. Bergerak cepat menggenangi pemukiman.
“Untungnya seluruh barang dagangan sudah diungsikan. Sekarang ini tinggal mbongkar sisa bangunan yang ada. Lumpurnya itu memang cepat sekali luberannya. Nggak seperti sebelumnya, sekarang ini lumpurnya cepat sekali bergerak,” kata UDIN warga Ketapang Keres, Selasa (19/12).
18 Desember 2006, 18:46:03, Laporan J. Totok Sumarno
Dua Titik Semburan Dengan Bubble Ditemukan
ssnet| Dua titik semburan air dilengkapi dengan bubble atau gelembung-gelembung udara, Senin (18/12) ditemukan di persawahan warga dan dekat jembatan bailey yang ada Desa Pejarakan, Porong.
“Kalau Minggu (17/12) kemarin itu, gelembung-gelembungnya itu kelihatan lebih banyak, dan besar-besar. Semburannya memang cuma sekitar 10 sampai 15 cm saja. Termasuk yang ada didekat jembatan bailey disana itu,” ujar MUKLIS satu diantara operator mesin pompa yang ada dibekas persawahan warga Desa Pejarakan, Senin (18/12).
Semburan air dengan gelembung tersebut terlihat jelas dengan lebar area sekitar satu meter dan lebar sekitar satu setengah meter. semburan air di lokasi bekas perswahan warga Pejarakan itu berada persis dibawah tiang listrik tegangan tinggi.
Sedangkan satu titik semburan air lainnya, yang juga dilengkapi dengan gelembung-gelembung udara terlihat tak jauh dari lokasi jembatan bailey. Dibandingkan dengan semburan yang berada di bekas persawahan Desa Pejarakan, titik semburan di lokasi dekat jembatan bailey terlihat lebih kecil.
Sebelumnya, beberapa semburan yang dilengkapi dengan bubble atau gelembung-gelembung udara juga pernah muncul dibeberapa tempat. Di Desa Jatirejo dan persawahan Desa pejarakan, yang sudah tenggelam dalam lumpur bercampur air, semburan seperti itu juga pernah muncul.
18 Desember 2006, 18:07:32, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Jembatan Raya Porong Retak Hingga 7,6 Cmssnet| Jembatan tol di atas Raya Porong mengalami pergeseran retakan hingga mencapai 7,6 cm.
Dilaporkan MARTHA reporter Suara Surabaya, Senin (18/12), pengukuran yang dilakukan Jasa Marga Senin pagi, retakan tol mengalami pergeseran yang lambat selama 4 hari ini.
Pergeseran retakan tol yang bisa ditoleransi sekitar 13 cm jadi sampai Senin siang tinggal 5,4 cm lagi sampai batas maksimal pergeseran tol yang bisa ditolelir.
ISKANDAR Kasubag Pemeliharaan Jasa Marga mengatakan, ada 2 titik retakan yang dominan dan sangat rawan. Yang paling parah di sekitar KM 37 dekat pusat semburan lumpur keretakannya sekitar 6 cm. Sedangkan retakan yang lain di kolong 4 dari KM 37 dari lebar retakan sekitar 3 sampai 4 cm.
Kata ISKANDAR, kondisi jembatan tol yang ada tepat di atas Raya Porong sejauh ini masih aman. Tidak ada keretakan yang mengkhawatirkan. Struktur jembatan masih bagus, tapi yang tidak bisa diprediksi adalah struktur tanah yang labil mengalami pergerakan. Tanpa gerakan tanah yang signifikan kecil kemungkinan jembatan tol di atas Raya Porong ini akan ambruk.
18 Desember 2006, 18:15:37, Laporan Eddy Prasetyo
Hujan Deras
Lumpur Panas Bergerak Makin Liar
ssnet| Hujan deras selama kurang lebih 1 jam mulai pukul 16.00 hari ini di sekitar Porong dan Tanggulangin mengakibatkan lumpur panas mengalir deras menuju Utara. Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin menjadi korban derasnya aliran lumpur panas ini.
TRI MARTHA HERAWATI reporter Suara Surabaya melaporkan sebagian warga Desa Ketapang sudah mengungsi akibat derasnya aliran lumpur panas yang diduga berasal dari luberan di pond A Desa Reno Kenongo. Saat berita ini ditampilkan upaya evakuasi warga di Desa Ketapang masih berlangsung.
Pantauan di dekat jembatan Porong yang sudah diinstruksikan untuk dibongkar, garis depan lumpur sudah mencapai jarak sekitar 5 meter dari ruas rel. Lumpur panas tersebut mengepulkan asap putih tebal dan mengundang perhatian pengguna Jl. Raya Porong.
Sementara itu pantauan di Jl. Ketapang Keres, lumpur sudah mulai berjarak sekitar 30 meter dari rel KA.
AKP SARTONO Kepala Induk PJR Tol Jatim I pada Suara Surabaya juga melaporkan tanggul di dekat pabrik Omo Desa Reno Kenongo jebol dan mengakibatkan lumpur mengalir deras ke arah Utara. “Kalau ini dibiarkan, tak perlu menunggu lama pasti Jalan Raya Porong akan kena lumpur juga,” tegasnya.
Dilaporkan MARTHA juga, upaya penanggulan hingga berita ini ditampilkan belum juga dilakukan Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
Senin, 18 Desember 2006 20:34 WIB
NUSANTARA - Jawa Timur
Lumpur Mengalir Deras, Warga Ketapang Panik
Media Indonesia online.
Penulis: Heri Susetyo
SIDOARJO--MIOL: Ratusan warga di Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Senin (18/12) malam, panik. Soalnya, lumpur mengalir deras memasuki kawasan desa ini.
Lumpur yang semula hanya menggenangi wilayah RT 1 dan areal persawahan RT 7 kini terus meluas. Lumpur akhirnya memasuki kawasan pemukiman RT 7 bahkan terus mengalir menggenangi RT 8,9 dan 10.
Warga yang panik ini berlarian berusaha menyelamatkan perabotan rumah dengan alat transportasi seadanya. Sebagian menggunakan kendaraan roda dua, gerobak, becak dan kendaraan terbuka roda empat.
Warga yang panik ini rata-rata menyayangkan kinerja Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Panas Sidoarjo. Mereka menilai timnas tidak maksimal bekerja sehingga membuat kawasan mereka terendam.
Kekesalan warga ini kemudian dilampiaskan dengan memblokir Jalan Raya Porong. Warga memblokir jalan dengan perabotan serta menghadang kendaraan yang lewat.
Aliran Lumpur Mendekati Jalan Raya Porong
Kompas cybermedia, 18 Desember 2006, 23.31.
SIDOARJO, KOMPAS – Genangan lumpur panas yang terus meluas di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini alirannya makin mendekati rel kereta api jurusan Surabaya-Malang/Banyuwangi dan Jalan Raya Porong. Padahal, jalan raya Porong merupakan jalur utama dari arah Surabaya menuju Malang dan Surabaya Banyuwangi setelah jalan tol terendam lumpur panas.
Berdasarkan pemantauan, Senin (18/12), jarak lumpur terluar di Desa Ketapang tinggal sekitar 100 meter dari rel kereta api dan Jalan Raya Porong. Namun demikian, belum ada upaya pembuatan tanggul di desa tersebut.
Permukiman Desa Ketapang terletak di sebelah utara Desa kedungbendo yang sudah terendam lumpur terlebih dahulu. Tepat di sebelah timur desa itulah rel kereta api dan Jalan Raya Porong berada.
Lumpur mengalir mendekati rel dan Jalan Raya Porong melalui gang-gang di sekitar permukiman warga dan jalan Desa Ketapang. Di sinilah persoalannya. Apabila tanggul akan dibangun, maka lokasinya tidak akan mudah karena kawasan di sisi rel penuh permukiman.
Juru Bicara Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo Rudy Novrianto, menyatakan, tengah mengupayakan pembuatan tanggul. Pengerjaannya, dimulai Senin petang.
Pembangunan tanggul, lanjut Rudy, sempat menemui kendala di lapangan. Pasalnya, warga Desa Ketapang menolaknya. (LAS)
15 Desember 2006, 15:57:22, Laporan Iping Supingah
Hasil Evaluasi
Jembatan Tol Porong, 40 Hari Lagi Bahaya Sekali!
ssnet| Dalam waktu 40 hari jembatan tol di atas Raya Porong sudah bahaya sekali. Demikian prediksi dari hasil evaluasi yang disampaikan Ir. HARY FAZAH Ketua Tim Penanganan Jembatan Tol Porong dari Bina Teknik Direktorat Jenderal Pu Bina Marga.
Pada Suara Surabaya, Jumat (15/12) HARY FAZAH menjelaskan, sejak tanggal 4 sampai 9 Desember terjadi retakan 8 cm. Dalam rentang waktu itu ada retakan 1 cm dan progres itu diasumsikan linier, sehingga bisa diprediksi dalam 40 hari jembatan tol Porong kondisi alarm atau sudah bahaya sekali.
Kata HARY, masalahnya pada pondasi di bawah yang terpengaruh pergerakan tanah. Jembatan tol Porong retak bukan pada strukturnya, tapi pergerakan antara 2 bangunan di atas pilar jembatan. Di atas pilar itu ada dudukan jembatan yang besarnya sekitar 45 cm. Itulah yang jadi pertimbangan seberapa besar pergerakannya.
HARY FAZAH menegaskan, akibat pergerakkan horizontal itu jembatan tol Porong harus segera dibongkar, karena progresnya meningkat terus. Sementara waktu pembongkaran jembatan tol Porong belum ditentukan, sebab menunggu keputusan Departemen PU Bina Marga. Hasil evaluasi itu sendiri baru akan disampaikan ke Departemen PU Bina Marga Senin (18/12) mendatang.
14 Desember 2006, 17:15:10, Laporan Eddy Prasetyo
Perumtas I Tersisa 6 Gang Lagi
ssnet| Lumpur yang menyapu Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I Desa Kedung Bendo sampai Kamis (14/12) siang masih menyisakan 6 gang lagi. Kompleks yang terdiri atas 8.300 rumah berbagai tipe ini menyisakan Blok J 5, 6, dan 7, serta Blok K 9, 10, dan 11.
Derasnya aliran lumpur membuat warga yang rumahnya belum tergenang lumpur bergegas menyelamatkan harta bendanya yang tersisa. Tak hanya perabotan rumah tangga, bahkan kusen, pagar besi, sampai kuda-kuda rumah pun diselamatkan sebelum lumpur menyapu rumah.
Ia menyesalkan Timnas Penanggulangan Luapan Lumpur Sidoarjo yang lamban menangani luapan lumpur sehingga arus lumpur yang mulanya mengarah ke Kali Porong, kini malah mengalir ke Utara yang padat pemukiman.
Jika keadaan seperti ini tak juga ditanggulangi Timnas, JOKO yakin dalam dua hari saja 6 gang itu sudah ikut tersapu lumpur seperti ribuan rumah di Perumtas I lainnya di sebelah Selatan yang telah lebih dulu tenggelam.
Jarak antara garis depan lumpur dengan Kali Tengah yang menjadi batas Perumtas I dengan Desa Kedung Bendo RT 14 kini praktis hanya kurang dari 200 meter saja.
Kamis, 14 Desember 2006 13:23 WIB
NUSANTARA - Jawa Timur
Pengungsi Korban Lumpur di Porong 8.000 Jiwa
Penulis: Heri S
SIDOARJO--MIOL: Pengungsi korban lumpur di Pasar Baru Porong (PBP), Kabupaten Sidoarjo, terus berdatangan dan jumlahnya saat ini mencapai lebih dari 8.000 jiwa.
Data di posko pengungsian PBP hingga Kamis siang (14/12), tercatat 2.403 keluarga atau 8.030 jiwa. Mereka terdiri dari warga Desa Kedungbendo Kecamatan Tanggulangin sebanyak 2.225 keluarga atau 7.451 jiwa dan warga Desa Renokenongo Kecamatan Porong sebanyak 178 keluarga atau 579 jiwa.
Terus bertambahnya pengungsi di PBP pascaledakan pipa gas pada 22 November lalu semakin mendekati angka jumlah pengungsi sebelum terjadinya ledakan. Sebelum terjadi ledakan pipa gas, PBP sudah dijadikan tempat pengungsian yang menampung 2.605 keluarga atau 9.936 jiwa.
Semakin meningkatnya jumlah pengungsi ini tidak diimbangi dengan fasilitas yang ada di PBP. Sebab 50 ruko dan 272 kios berbagai ukuran yang ada di pasar itu juga sudah tidak mampu menampung pengungsi. Sehingga lebih dari 500 jiwa saat ini harus tinggal di kios terbuka tanpa dinding. Mereka yang tidur di tempat terbuka itu juga semakin bertambah karena setiap hari pengungsi baru terus berdatangan.
Sementara itu, pergerakan air lumpur juga semakin meluas memasuki wilayah Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin. Padahal Desa Ketapang yang bersebelahan dengan Desa Tanggulangin ini jaraknya hanya seratus meter dari Jalan Raya Porong. Sehingga tidak mustahil dalam hitungan beberapa hari maka lumpur akan masuk ke Jalan Raya Porong.
Kamis, 14 Desember 2006 18:56:00
Sejumlah Rumah yang Dibiayai Bank BTN Terancam Lumpur Lapindo
Jakarta-RoL-- Sejumlah rumah yang dibiayai melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN) terancam genangan lumpur dari PT Lapindo Brantas sehingga nasibnya sewaktu-waktu juga dapat menyusul rumah lainnya yang terendam lumpur.
"Terdapat empat lokasi perumahan yang dibiayai kita yang saat ini lumpurnya sudah masuk ke permukiman," kata Direktur Kredit Bank Tabungan Negara, Siswanto kepada wartawan disela-sela penyelenggaraan Rakernas REI 2006 di Jakarta, Kamis (14/12).
Rumah yang terancam terendam lumpur tersebut dipekirakan sebanyak 3.600 unit dengan nilai KPR Rp70 miliar serta telah terbangun sejak lima tahun lalu.
Siswanto menjelaskan, rumah-rumah tersebut masuk ke dalam wilayah Ring 3 dari pusat semburan lumpur PT Lapindo Brantas, sehingga tinggal menunggu waktu rumah-rumah itu bernasib sama dengan yang berlokasi di Ring 1.
Dia mengharapkan apabila sampai rumah-rumah yang dibiayai BTN itu sampai terendam lumpur maka PT Lapindo Brantas juga harus komit untuk mengganti kerugian sepertihalnya dengan rumah-rumah yang terlebih dahulu terendam lumpur di Ring I.
Kompas Cyber Media, rabu 6 Desember 2006
Kepemilikan Tanah Jadi Persoalan Rumit
SIDOARJO, KOMPAS - Status kepemilikan tanah dalam proses ganti rugi korban semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akan menjadi persoalan rumit karena hanya sebagian kecil warga yang memiliki sertifikat. Kalaupun tanah tersebut dibeli Lapindo Brantas Inc, sesuai dengan Undang-Undang Agraria, perusahaan itu tidak boleh memiliki tanah dengan status hak milik.
"Hanya perseorangan, bank pemerintah, koperasi, dan yayasan sosial yang boleh memiliki tanah dengan status hak milik," kata ahli hukum tanah Universitas Airlangga Surabaya, Urip Santoso, Selasa (5/12).
Solusinya, menurut Urip, tanah yang dibeli itu statusnya dimiliki perseorangan, misalnya atas nama Nirwan Bakrie. Namun, itu masih terbentur pada Keputusan Menteri Negara Agraria dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 1998 yang menetapkan seseorang bisa memiliki tanah maksimal 5.000 meter persegi.
"Persoalan ini harus dipahami sejak awal sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari," kata Urip.
Di lapangan, Lapindo Brantas Inc mensyaratkan ganti rugi dalam proses jual-beli akan diberikan untuk tanah-tanah yang memiliki sertifikat. Padahal, menurut Camat Porong Mulyadi, jumlah warga yang memiliki sertifikat tanah tidak sampai 10 persen. Sebagian besar warga hanya memiliki bukti kepemilikan dalam bentuk Petok D atau bahkan sebatas tercatat dalam pembukuan desa yang disebut Letter C.
Butuh waktu satu tahun
Di Jakarta, Direktur Utama PT (Persero) Pertamina Ari Soemarno menyatakan, pihaknya membutuhkan waktu hampir satu tahun jika harus memindahkan (rerouting) secara permanen pipa gas yang kini masih berada di bawah tanggul kolam penampung luapan lumpur panas Lapindo.
Adapun untuk memindahkan pipa gas secara sementara ke sebelah barat tanggul kolam lumpur panas sepanjang 12 kilometer dibutuhkan 48-60 hari.
Suara Surabaya Net
01 Desember 2006, 10:58:04, Laporan Iping Supingah
Terjadi Keributan
Demo Warga Korban Lumpur Diduga Disusupi
ssnet| Di tengah-tengah demo ribuan massa korban lumpur, terjadi sedikit keributan, diduga ada penyusup diantara aksi demo di Pendopo Kabupaten Sidoarjo itu.
Dilaporkan YULIA reporter Suara Surabaya, Jumat (01/12), keributan berawal sekitar pukul 10.00 saat SULAIMAN warga Perumtas Blok L datang ke pendopo membawa 50 massa dan spanduk. Mereka melakukan orasa dan bersholawat. Tapi satu diantara pengikutnya ketika ditanya warga lain tidak tahu ia warga mana dan saling lempar pandangan.
Sekarang SULAIMAN diamankan di Mapolres Sidoarjo dan 50 orang pengikutnya lari. Ditengarahi demo di Pendopo Kabupaten Sidoarjo hari ini ada penyusupnya. Sementara pendemo lainnya sudah ditenangkan petugas Bina Mitra Polres Sidoarjo sambil menunggu ada jawaban dari Timnas dan Lapindo.
Suara Surabaya Net
30 November 2006, 14:19:37, Laporan Iping Supingah
Tumpuan Jembatan Bergeser
Jembatan Tol di Atas Jalan Raya Porong Rawan Ambruk
ssnet| Jembatan tol Porong yang melintas di atas jalan Raya Porong, Sidoarjo rawan ambruk. PKL dan Pos Polisi di bawah jembatan tersebut hari ini dievakuasi. Pengguna jalan pun diharapkan waspada saat melintas di bawah jembatan ini.
Jembatan tol Porong ini mengalami pergeseran tumpuan jembatan dan sambungan yang melintang di tengah jembatan.
Ir SUBAKTI SYUKUR Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya Gempol pada RULLY reporter Suara Surabaya, Kamis (30/11) mengatakan, akibat land subsidence (penurunan tanah) tumpuan jembatan tol Porong bergeser 6 cm pada sisi utara arah Gempol, sedang pada sambungan melintang di sisi tengah bergeser merekah sekitar 3 cm.
Dijelaskan SUBAKTI kondisi rawan seperti ini tidak hanya terjadi di jembatan tol di atas Raya Porong, tetapi juga di over pass Desa Siring yang selama ini menjadi lalu lintas dump truck pengangkut sirtu. Namun sejak Kamis (30/11) hari ini dinyatakan jembatan ini dilarang dilintasi karena keretakannya sudah melingkar.
Menurut SUBAKTI, ia tidak bisa memperkirakan kapan jembatan tol di atas Raya Porong akan ambruk. Situasinya masih butuh evaluasi dan pantauan harian yang terus akan disampaikan pada Timnas.
Situasi yang mengkhawatirkan di bawah jembatan tol Porong ini, jika terjadi antrean kemacetan 2 arah terutama di Tanggulangin ke arah Gempol yang hampir terjadi setiap hari. Ini rawan kalau jembatan ambruk, tapi Jasa Marga tidak punya kewenangan memutuskan perlu tidaknya Raya Porong ditutup melihat kondisi jembatan yang rawan ambruk itu.
30 November 2006, 10:01:34, Laporan Iping Supingah
Tuntut Ganti Rugi pada Lapindo
Puluhan Sopir dan Pemilik Lyn HL, HZ Unjuk Rasa
ssnet| Puluhan orang beserta mobil penumpang umum (MPU) yaitu lyn HL dan HZ berunjukrasa di kantor Bappeda Kabupaten Sidoarjo. Mereka menuntut ganti rugi pada Lapindo.
Dilaporkan RULLY reporter Suara Surabaya, Kamis (30/11) angkutan desa lyn HL ini rutenya Pasar Larangan - Desa Sentul - Banjar Panji - Glagah Arum - Mrisen - Reno Kenongo - Kedungbendo - Ketapang Keres - dan berakhir di Pasar Porong. Sedangkan lyn HZ rutenya Permisan ke Pasar Porong.
NURSALIM satu diantara pengemudi lyn HZ mengatakan, selama 5 bulan terakhir mereka sebenarnya sudah mengajukan proposal ganti rugi ke Lapindo, tapi belum ada jawaban sampai sekarang.
Sementara penurunan pendapatan terus terjadi dan puncaknya dirasakan seminggu terakhir, karena banyak warga keluar dari desa sekitar luapan lumpur, dan rute lyn HZ dan HL juga tergenang. Akhirnya mereka mengambil rute jalan tikus sehingga BBM meningkat dan penumpang jadi sepi bahkan tidak ada lagi karena sudah mengungsi di lokasi berbeda. Berikut penjelasan NURSALIM .
28 November 2006, 17:21:21, Laporan Eddy Prasetyo
Sampai Jalur Baru Dibangun
Rel Tanggulangin-Porong Dipertahankan
ssnet| Rel kereta api Tanggulangin-Porong akan dipertahankan sampai jalur baru relokasi rel selesai dibangun. Hal ini diungkapkan SOEMINO EKO SAPUTRO Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan pada suarasurabaya.net usai Rapat Koordinasi dengan Komisi V DPR RI di ruang VVIP Bandara Internasional Juanda, Selasa (28/11).
Dalam rute baru itu, KA tidak akan melewati Stasiun Tanggulangin dan Porong. Dari Surabaya, KA akan melewati Sidoarjo ke Stasiun Tarik. Dari Stasiun Tarik, rencananya akan dibangun jaringan rel baru yang menghubungkannya dengan Stasiun Gununggangsir sepanjang 16 km.
Untuk pembangunan jaringan baru ini, dibutuhkan waktu 2 tahun dan biaya sebesar Rp250 miliar. Darimana sumber pendanaan pembangunan jaringan rel baru ini? SOEMINO masih belum memastikannya, tapi jika dananya sudah tersedia, awal Januari 2007 sudah mulai dilakukan pembangunan setelah studi kelayakan oleh ITS selesai akhir Desember mendatang.
Untuk menghadapi musim hujan, SOEMINO optimis rel KA di sepanjang tanggul masih aman karena di sebelah Timur sepanjang rel KA sudah dibangun saluran air untuk mengalirkan air. “Sepanjang tanggulnya kokoh, rel KA tidak akan kebobolan lumpur,” ujar dia.
Salam, dari Ancol, 19 Desember 2006
Wahyu
Wednesday, November 29, 2006
Masalah Kaldera Lumpur Sidoarjo?: maaf, tidak ada dana Pemerintah! (Kebersamaan untuk Masalah Lumpur Sidoarjo)
Meskipun bencana lumpur di Sodiarjo dari hari ke hari makin banyak menimbulkan kerugian, tetapi Pemerintah masih berkeras pada pendiriannya: TIDAK ADA DANA PEMERINTAH UNTUK BENCANA ITU. Pada tahun anggaran 2006 dan 2007 nanti pun Pemerintah memang sengaja tidak mencadangkan dana (Detik.com, Rabu 29 Nopember 2006 jam 14.00 WIB).
Kita semuanya tahu bahwa dalam menghadapi masalah bencana itu masyarakat dibiarkan sendirian oleh Pemerintah. Dengan dalih bahwa semburan lumpur itu terjadi karena aktifitas Lapindo, maka semua urusan menjadi tanggungjawab perusahaan itu. Bila dilihat secara dangkal, hal itu memang benar. Siapa yang berbuat, harus bertanggungjawab. Tetapi mari kita lihat dari sudut pandang lain, dari sudut pandang bahwa kita semua adalah anggota dari suatu kelompok (negara).
Di dalam suatu kelompok yang anggota-anggotanya saling terikat satu sama lain, tentu ada semangat solidaritas kelompok. Semangat saling membantu bila ada anggota kelompok yang mendapat kesulitan. Semangat tersebut makin kuat seiring dengan makin kuatnya rasa saling terikat yang diraakan oleh anggota kelompok itu. Suatu contoh sederhana: bila kita bepergian dalam rombongan dengan berkenderaan. Bila ada salah satu kenderaan teman kita yang mengalami kesulitan, mogok misalnya, akankah kita membiarkan teman kita yang mengalami kesulitas itu begitu saja, dan kemudian kita tinggalkan di dalam kesulitan? Bila kelompok itu adalah kelompok yang sehat, pemimpin kelompok itu akan berhenti dan mencari tahu persoalan apa yang dihadapi oleh anggota kelompok itu. Kemudian, tergantung pada persoalannya, sebagian anggota kelompok yang dapat membantu kan diminta tinggal untuk memberikan pertolongan, dan anggota yang lainnya boleh meneruskan perjalanan
Di dalam satu keluarga pun juga demikian. Setiap anggota keluarga memiliki tanggungjawabnya masing-masing terhadap dirinya sendiri maupun terhadap keluarga / kelompok. Sampai batas tertentu, yaitu sejauh masih dapat diatasi sendiri oleh anggota keluarga itu, tentu segala persoalan menjadi tanggungjawab masing-masing anggota keluarga. Misalnya membersihkan kamar masing-masing atau pekerjaan lain yang disepakati pembagian tanggungjawabnya. Tetapi bila ada persolan yang dihadapi oleh salah satu anggota keluarga dan dia tidak sanggup menyelesaikan sendirian, tentu anggota keluarga yang lain akan membantu, dan bila persoalannya lebih sulit dan leboh luas lagi cakupannya, tentu tidak salah bila kepala keluarga yang ikut turun tangan, atau bahkan kepala keluarga harus turun tangan. Umpamanya bila ada dua orang kakak beradik yang berselisih dan sulit berdamai, tentu bapak atau ibu yang harus turun tangan mendamaikannya. Apakah bisa dibenarkan bila perselisihan itu didiamkan saja oleh kedua orang tuanya?
Persoalan Kaldera Lumpur Sidoarjo ini rasanya dapat kita lihat dari sudut pandang kekeluarkaan ini atau melihatnya dengan semangat solidaritas kelompok suatu masyarakat. Memang benar bahwa semburan lumpur itu terjadi di kawasan kerja PT. Lapindo Brantas Inc., dan perusahaan itu dinyatakan bertanggungjawab atas kejadian itu, tetapi apakah semua persoalan harus dibebankan dengan tanpa batas kepada PT. Lapindo Brantas Inc. Apabila persoalan itu kecil dan sederhana dan dapat diselesaikan, pendapat yang menyatakan bahwa semua persoalan adalah tanggungjawab PT. Lapindo Brantas Inc., dapat kita terima. Tetapi, bila ternyata persoalan itu terus berkembang sedemikian kompleksnya dan menyebabkan kerusakan yang sangat luas baik secara spasial maupun sosial dan menelan korban jiwa dan kita tidak tahu kapan persoalan itu berhenti atau akan terus berkembang, apakah benar bila semua tanggungjawab itu tetap dipikulkan kepada PT. Lapindo Brantas Inc.?
Kita semua mengikuti perkembangan persoalan semburan dan genangan lumpur di Sodiarjo itu, dan juga tahu bahwa persoalan lumpur itu dari hari ke hari makin terus membesar, makin banyak kerugian yang ditimbulkannya, dan kita tidak tahu kapan semua itu berakhir. Dengan semangat solidaritas kelompok, rasanya pantas kita bertanya: bagaimana peranan Pemerintah di dalam menyelesaikan persoalan semburan dan genaggan lumpur itu? Apakah Pemerintah akan terus berperan sebagai broker yang terus menekan PT. Lapindo Brantas Inc untuk bertanggungjawab, sementara kerugian makin besar dan korban jiwa telah berjatuhan? Atau, apakah Pemerintah akan bertindak sebagai pemimpin atau kepala keluarganya yang berusaha membantu anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan untuk lepas dari kesulitannya?
Dampak peran Pemerintah yang bertindak sebagai broker telah kita rasakan sekarang ini. PT. Lapindo Brantas Inc dapat kita katakan berhadapan langsung dengan berbagai pihak yang dirugikan oleh semburan dan genangan lumpur Sidoarjo itu. Akibatnya adalah persoalan ganti kerugian tidak belum selesai, para pengungsi terus di pengungsian tanpa kepastian (banyak diantara pengungsi yang mengungsi atas biaya sendiri), dan upaya menangani persoalan yang tanpa arah yang jelas, serta kerugian yang terjadi makin terus membesar. Memang benar, Pemerintah membentuk Tim Penanggulangan Lumpur, tetapi tim itu nampaknya lebih berkonsentrasi pada upaya menghentikan semburan lumpur, sementara itu persoalan nyata di lapangan sangat kompleks dan berada di luar kemampuan tim itu untuk menyelesaikannya.
Berkenaan dengan persoalan semburan dan genangan lumur Sidoarjo ini, ada satu hal yang dapat dipastikan, yaitu: kekhawatiran akan bencana yang lebih besar. Dengan kondisi semburan lumpur seperti sekarang ini yang menyemburkan lumpur lebih dari 150.000 meter kubik per hari, subsidence yang terus berjalan, musim hujan yang mulai berlaku, dan upaya penanganan lumpur seperti sekarang, maka masa depan kawasan itu penuh tanda tanya.
-------------------
Selanjutnya mari kita ikuti kondisi dan pikiran yang berkembang di sekitar masalah Kaldera Sidoarjo ini.
21 November 2006, 16:35:43, Laporan Eddy Prasetyo
Pemerintah Pusat Harus Ambil Alih
ssnet| Pemerintah Pusat harus mengambil alih upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo dari Lapindo Brantas Inc. Hal tersebut dikatakan Dr. RUDI RUBIANDINI anggota Tim Penasihat Teknis Penutupan Lubang Semburan Lumpur pada Suara Surabaya, Selasa (21/11).
RUDI menilai Lapindo sudah tidak sanggup lagi menyesuaikan target kinerja penanggulangan lumpur. Ia mencontohkan upaya penutupan pusat semburan lumpur menggunakan relief well yang berjalan lamban karena terkendala faktor-faktor non teknis.
“Dari 180 hari jadwal yang kita rancang, hanya 5 minggu saja yang efektif digunakan untuk melakukan pengeboran di relief well 1 dan 2. Banyak kenala non teknis mulai dari alat-alat telat datang karena koordinasi kurang, keuangan Lapindo yang kembang kempis sehingga tenaganya tidak mau ngebor, dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Muara dari masalah ini, kata RUDI, adalah likuiditas pendanaan proyek penanggulangan banjir lumpur. “Pemerintah seharusnya mulai turun tangan. Misalnya, soal sewa rig Pertamina. Semestinya dihandle dulu oleh Pertamina, nanti bisa diklaimkan ke pemerintah lewat cost recovery,” ujar RUDI.
(Bagian berita selanjutnya tidak dikutip)
-------------------------------
28 November 2006, 15:12:41, Laporan J. Totok Sumarno
Air dan Lumpur Panas Terus ‘Menghajar’ Perumtas
ssnet| Selasa (28/11) luberan lumpur panas dan air semakin melebar di kompleks Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas). Luberan lumpur panas bahkan sudah masuk sampai hampir 100 meter dari jalan Raya Kedungbendo. Sedangkan air dingin yang deras mengalir sudah mencapai depan masjid Baiturrahman Kedungbendo.
“Mulai ledakan Rabu (22/11) sampai sekarang ini, lumpurnya sudah naik terus. Airnya juga naik. Sekarang ini, saluran air di Perumtas Blok A, AA dan F itu sudah penuh lumpur panas. Pemilik rumah di blok A dan AA sudah pergi semua,” ujar SUTIKNO petugas sekuriti kompleks Perumtas, Selasa (28/11).
Sampai Selasa (28/11) menurut SUTIKNO dan beberapa warga Perumtas lainnya yang ditemui suarasurabaya.net, Selasa (28/11) diujung blok F yang sudah mulai dialiri air, tidak ada upaya sama sekali dari Timnas maupun aparat lainnya untuk menghentikan laju lumpur dan air.
“Nggak ada apa-apa. Jangankan membuat tanggul, bantuan untuk evakuasi warga ini saja masih sangat minim. Apa kita ini mau ditenggelamkan, seperti di Jatirejo atau Kedungbendo sana? Warga sudah banyak yang mengungsi. Tapi nggak ada antisipasi apa-apa,” tutur BAMBANG HERIANTO veteran TNI-AD warga blok F Perumtas pada suarasurabaya.net, Selasa (28/11).
(Bagian akhir berita tidak dikutip)
-----------------------
27 November 2006, 20:10:39, Laporan J. Totok Sumarno
Evakuasi Perumtas
Ongkos Sewa Truk Mahal, Warga Mengeluh
ssnet| “Untuk sekali angkut dari Perumtas ke Gedangan, ongkosnya 750 ribu. Kalau dua kali angkut, ya tinggal dikalikan saja. Terlalu mahal itu. Nggak punya kita ongkos segitu. Nunggu truk dari tentara juga harus giliran, khawatir lumpur sudah masuk Mas”.
AGUS TRIANTO satu diantara warga Perumtas, kepada suarasurabaya.net, Senin (27/11) mengeluhkan mahalnya ongkos sewa truk untuk evakuasi barang-barang ke lokasi yang lebih aman.
Melihat kondisi masuknya lumpur yang deras dari tanggul di Jl. Raya Kedungbendo menuju ke Perumtas, beberapa truk dan mobil pick up, sengaja masuk ke lokasi perumahan untuk menawarkan jasa angkut.
Satu truk biasanya dilengkapi dengan sekurangnya 3 orang yang bertugas sebagai tukang angkuta barang dari dalam rumah ke atas truk serta membongkarnya ditempat tujuan. “Kita ini juga cari makan Mas. Harga segitu, nantinya juga dibagi-bagi kok. Makanya kalau dibilang terlalu mahal ya nggak juga,” ujar SUPARI satu diantara sopir truk yang ditemui suarasurabaya.net, Senin (27/11).
KUSTIANTI warga blok AA Perumtas juga mengatakan hal yang sama terkait mahalnya ongkos sewa truk. “Itu namanya memanfaatkan kesempatan!! Lihat orang lagi susah kayak gini kok malah bikin harga mahal!!” ucapnya dengan nada tinggi.
Menurut KUSTIANTI, sebelum kawasan Perumtas mulai tergenang lumpur, truk-truk dan pick up sewa itu beroperasi disekitar lokasi atau desa lainnya yang mulai terendam lumpur. “Mereka menawarkan harga yang jauh lebih murah. Giliran Perumtas yang kena mereka pasang harga tinggi. Kita ini sama-sama kesusahan, kok malah cari kesempatan,” gerutu KUSTIANTI masih dengan nada tinggi saat ditemui suarasurabaya.net, Senin (27/11).
-------------
27 November 2006, 19:26:07, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Ganti Untung Belum Terpenuhi
Pungli Mengusik Warga Desa Jatirejo
ssnet| Warga korban lumpur di Porong Sidoarjo melaporkan pungli (pungutan liar) yang dilakukan aparat Desa Jatirejo pada Bupati Sidoarjo.
Menurut warga Desa Jatirejo, seperti dilaporkan MARTHA reporter Suara Surabaya, Senin (27/11), pungli dilakukan aparat Desa Jatirejo untuk pengurusan surat-surat tanah dan ahli waris. Warga mengaku, dipungut Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Jika tidak dibayar, menurut pengakuan warga, surat-surat yang dibutuhkan tidak akan dipenuhi.
Mendengar laporan ini WIN HENDRARSO Bupati Sidoarjo langsung memanggil Camat Porong. Sementara itu, MULYADI Camat Porong mengakui ada pungli di Desa Jatirejo. Camat mengaku kecolongan ada aparatnya yang masih menarik uang pada warga korban lumpur.
Camat Porong ini sudah meminta uang yang dipungut ini dikembalikan lagi pada warga. Berikut penjelasan MULYADI, .
WIN HENDRARSO berjanji akan menindaklanjuti laporan warga ini. Badan pengawas Kabupaten Sidoarjo akan diturunkan untuk mengecek laporan warga tentang pungli di Desa Jatirejo. Jika terbukti bersalah, maka aparat yang bersangkutan akan dikenai sanksi.
-----------------
From: "harryrw"
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Wed, 29 Nov 2006 07:58:44 +0700
Subject: RE: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...?? No Choice.....
Kalau boleh saya urun rembuk, menurut pengamatan saya, cukup banyak geoscientist yang berpendapat seperti sdr kabul bahwa pada akhirnya bencana ini harus diterima sebagai fenomena alam yang terlanjur diusik dan manusia tidak bisa mengontrolnya, dengan technologi yang ada sekarang dan dengan biaya yang wajar. Masalahnya sampai pada batas mana manusia c/o Lapindo dan pemerintah harus angkat tangan dan mulai menjadikan worst case option sebagai jalan yang harus di ambil, yang seperti sdr Kabul sebutkan yaitu memperkirakan daerah yang akan terkena dampak dari bencana ini secara geologi, merelokasi semua sarana dan memulai hidup dengan berdampingan dengan efek dari LUSI. Menentukan titik batas ini yang sulit, karena berbagai kepentingan berbenturan disini, baik ekonomi, politik, bisnis dsb dsb.
Tanpa harus menjadi naif, Mungkin sudah dilakukan suatu pertemuan khusus untuk mengevaluasinya dari berbagai sisi, menarik batas batas dan segera membuat suatu perencanaan yang jelas dan terbuka, menganggap masalah ini suatu yang sulit diterima oleh masyarakat awam adalah suatu sikap yang sudah tidak sesuai dalam era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Kalau mau menunggu, sampai kapan kita (/o warga sidoarjo)harus menunggu dan LAPINDO harus berusaha, sementara banyak dari kita di kalangan geoscientist yang beranggapan bahwa LUSI tidak bisa diprediksi kapan akan berhenti....
Harus ada suatu batas dimana pemerintah harus menyatakan secara resmi bahwa ini adalah bencana nasional dan harus ditangani dengan kadar yang sama dengan Tsunami di Aceh dan gempa di Bantul.
Harry RW
-----Original Message-----
From: Kabul Ahmad [mailto:kabul_ahmad@terralog.co.id]
Sent: Tuesday, November 28, 2006 5:31 PM
To: iagi-net@iagi.or.id
Subject: Re: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...?? No Choice.....
Saya orang yang tidak percaya atau paling tidak, pesimistis bahwa relief well akan berhasil mengatasi masalah si LUSI ini.-- Mohon maaf kepada pak Rudy Rubiandini ). Secara geomechanic dan terjadinya subsidence yang sudah sangat parah juga kondisi dimana aliran mud flow ke atas adalah thermal drive mechanism...panas geothermal vulkanik yang mendorong steam (uap panas) di bawah sana yang diperkirakan > 400 deg.C (jelas bukan air lagi, tapi panas bumi).
Saya pribadi kurang yakin dengan teori tektonik yang menggerakkan "mudvulkano" ini...tapi benar-benar panasbumi yang menggodok air formasi menjadi uap panas yang menerobos melalui lobang bor panjang yang tak diselubung dan disemen itu dan membawa serta lapisan formasi lempung/F. Kalibeng itu. Kalau disebut sebagai gejala shale diapir, mengapa suhu dipermukaan berupa uap panas hingga > 215 deg.F atau 100 deg C?? persis sumur-sumur di Kamojang sana ?
Dan mengapa tak berhenti ? Bila diapir tentunya setelah tekanannya release, maka akan berhenti. Lalu berapa suhu dibawah sana > 9000 kaki ? Tarik dan hitung saja thermal gradientnya. Ingat loksai kita si LUSI ini berdekatan dengan zona vulkano (G. Arjuna, G. Welirang, G. Penanggungan).
Untuk mematikannya, secara teori ya didinginkan dulu sumbernya kemudian di sumbat dengan semen. namun akan butuh berapa ribu ton semen dan air dingin?...pabrik semen jangan-jangan malah tekor. Paling tidak harus mem-"balance" antara yang keluar dengan yang dimasukkan untuk menyumbat. Yang keluar sudah > 50,000M3 /hari. (total sekarang sudah berapa ya ??? ). Jika radius subsidence (amblasan) sudah > 4 km,....ya tinggal kalikan saja dengan kedalaman amblesan trus dihitung berapa material dibutuhkan untuk menyumbat.
Selain kerongkongan keluarnya lumpur juga sudah banyak spot dan membesar hingga beberapa meter lebarnya., jadi sudah "caving" yang besar sekali, selain gerak amblesan yang sangat cepat, secepat aliran lumpur itu sendiri.
Namun, karena relief well ini adalah tuntutan pihak asuransi (the last choice to be taken action) ya...mau tidak mau mesti di bor...dengan resiko bahwa akan "blow out" lebih besar lagi karena memang tidak ada pompa tersedia yang bisa mengatasi dengan > lebih dari 100.000 horse power tekanan mud flow ini.
Sebaiknya, biarkan mudflow ini keluar, evakuasi rakyat sesuai daerah bahaya yang sudah dipetakan, alirkan lumpur ke sungai porong dengan pompa yang diperbesar dayanya dan juga secara aliran gravitasi, tutup jalan tol, jalan rel KA, pindahkan pipa gas, listrik dll. Saya kira ini sudah diputuskan oleh sidang Kabinet yang lalu. Petakan segera daerah yang akan ambles (subsidence) hingga beberapa tahun kedepan (20-30 tahun) sesuai dengan peta bawah permukaan (seismik, isopach clay (Formasi Kalibeng)dan penyebarannya). Pindahkan segera pemukiman,pabrik, infrastruktur dll keluar arena wilayah bahaya tersebut selamanya.- Sudah mulai dilaksanakan saya kira. Perkuat bendungan dan tanggul menjadi lebih permanen. Rencanakan Kimpraswilnya dengan matang untuk daerah ini. <-- Sudah dilakukan juga saya kira.
Jadikan LUSI sebagai obyek wisata geologi seperti Bledug Kuwu, Mrapen (api abadi), Dieng dengan kawah-kawahnya -ada yang beracun juga lho, atau Geyser di YellowPark Wyoming.
Berdayakan warga sekitar dengan sumber material baru tersebut dengan pendirian pabrik keramik, batu bata, genteng, atau juga lulur pengencang kulit..agar awet muda! Export lumpur ke manca negara sebagai komiditi bahan baku keramik yang nomer wahid ! Atau mungkin ke Singapore yang daripada masih suka mencuri pasir dari Kep. Riau, mendingan export lumpur ini kesana untuk menambah wilayah daratan negara pulau itu.
-------------------
From: "Ariadi Subandrio"
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Thu, 23 Nov 2006 20:31:54 -0800 (PST)
Subject: Re: [iagi-net-l] pit iagi 2006 sukses, duka semburan lumpur
Potensi co-lateral disaster apa lagi yang akan dapat menggetarkan nurani kita, kawan2 sudah memperingatkan pencermatan terhadap rel KA adalah sangat penting. Masak harus nunggu sampai gerbong terguling sih, kemudian penyesalan lagi. berulang2 gitu terus. Maaf kepada Timnas, tapi bahaya memang semakin meningkat..... tidak ada salahnya jika selain konsentrasi pada relief well dan pembuangan lumpur juga melakukan usaha monitoring gerakan tanah baik penurunan, pergeseran termasuk bagian yang diprioritaskan, juga pemindahan darurat infrastruktur.
lam-salam,
ar-
(sayangnya penyampaian kawan2 geosaintis seringkali dianggap sebagai
tari2an....
---------------------
"Agus Hendratno" gushendratno@yahoo.com
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Thu, 23 Nov 2006 03:57:46 -0800 (PST)
Subject: Re: [iagi-net-l] pit iagi 2006 sukses, duka semburan lumpur
PIT IAGI di Riau Sukses, semua komunitas geologi kembali prihatin, karena adanya subsiden di sekitar tol porong depan semburan yang kemudian mengakibatkan ledakan yang hebat dan menelan korban jiwa. Kita semua berduka. Belum usai duka lumpur, duka ledakan akibat deformasi di sekitar kaldera LUSI, ada semburan lumpur muncul di Banjarmasin yang dipicu pengeboran air tanah. Blaik...
Analisis deformasi di sekitar tol tersebut telah dikemukakan oleh berbagai tim peneliti yang telah turun di LUSI sejak akhir Juni lalu. Tapi kita semua melihat dan mengikuti, ternyata merelokasi semua aset umum (tol, rel, jaringan pipa gas, pemukiman penduduk) dan masyarakat dalam radius 2 km dari kaldera LUSI, tidaklah mudah dan alotnya minta ampur, policy yang ada di pihak-pihak terkait. Duka lagi....
Salam dari Pekanbaru
agus hendratno
----------------
From: "H.Z Abidin" hzabidin@gd.itb.ac.id
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Fri, 24 Nov 2006 11:18:35 +0700
Subject: Re: [iagi-net-l] Sumber Api ? /Lusi meminta korban jiwa
Untuk pak Rovicky dan rekan-rekan ysh,
Seperti sudah diketahui, sebenarnya fenomena subsidence di kawasan BJP sudah diukur dengan survei GPS oleh pihak ITB. Sudah 5 GPS campaigns di laksanakan sejak Juni 2006, dan hasilnya juga sudah diserahkan ke pihak yg berwenang.
Nampaknya kita memang selalu telat belajar dan memahami fenomena alam ..:-)
Saya pribadi sedih dan 'terluka', untuk korban yang jatuh dan juga untuk info ilmiah yang ternyata tidak bisa mengantisipasi hal tersebut.
Salam,
Hasan
(Dr. Hasanuddin Z Abidin)
Associate Prof. in Satellite Geodesy, Dept. of Geodetic Engineering, Institute of Technology Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung 40132, INDONESIA
Telp.: 62-22-2534286, 62-22-2530701; Fax.: 62-22-2530702; Mobile phone: 0811-24-7265; E-mail: hzabidin@gd.itb.ac.id, hzabidin@indo.net.id; Website: http://geodesy.gd.itb.ac.id/
==============================
From: "Agus Hendratno" gushendratno@yahoo.com
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Fri, 24 Nov 2006 23:09:04 -0800 (PST)
Subject: Re: [iagi-net-l] Jangan ada dusta untuk memanej bencana
Teman-teman IAGI /mailist
Dibalik musibah pasti ada hikmah, pelajaran dan ilmu pengetahuan. Penanganan rehab-rekon, juga penanganan pasca bencana / pasca musibah di Aceh, di Nias, di Jogja, di Klaten, di LUSI, di Merapi, di berbagai wilayah indonesia, yang ternyata KAGAK RES BUERES, saya lebih menyoroti bahwa yang BERWENANG ini TIDAK BISA IKHLAS untuk bermain secara CANTIK.
Semua geosaintis / pakar-pakar yang meng-advise berbagai musibah tersebut bersama beberapa stake-holder, telah menunjukkan permainan yang SUPER CANTIK, dan ikhlas bahkan sampai Istiqomah. Tapi..., yang tidak jelas justru pihak-pihak yang SUPER WEWENANG ini seringkali Gagap ketika mendengar berbagai tafsiran dan analisis para pakar. Njuk terus kepriye..., maning. Piye jal... Sehingga yang terlihat diluar, lebih banyak kita menyaksikan dan mendengarkan adanya kelambatan, kebingungan dalam menangani semua itu. Ben wae...
Manajemen wewenang tidak sejalan secara simultan dan sinergi dengan analisis para pakar. maka yang terjadi TUNGGULAH MUSIBAH BERIKUTNYA.........
Kalau boleh kita mengatakan, para pihak yang berwewenang : Janganlah ada dusta diantara panjenengan-panjenengan dalam memanej musibah-musibah; semakin ada dusta yang jadi korban adalah rakyat kecil nan miskin. Para geosaintis telah mengingatkan semua itu.
----------------
Akhir kata, semoga kita dan para pemimpin kita, selalu diberi kekuatan, kejernihan pikiran dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah, termasuk masalah Kaldera Lumpur Sidoarjo ini. Amin!
Salam dari Ancol, 29 Nopember 2006
Wahyu
Kita semuanya tahu bahwa dalam menghadapi masalah bencana itu masyarakat dibiarkan sendirian oleh Pemerintah. Dengan dalih bahwa semburan lumpur itu terjadi karena aktifitas Lapindo, maka semua urusan menjadi tanggungjawab perusahaan itu. Bila dilihat secara dangkal, hal itu memang benar. Siapa yang berbuat, harus bertanggungjawab. Tetapi mari kita lihat dari sudut pandang lain, dari sudut pandang bahwa kita semua adalah anggota dari suatu kelompok (negara).
Di dalam suatu kelompok yang anggota-anggotanya saling terikat satu sama lain, tentu ada semangat solidaritas kelompok. Semangat saling membantu bila ada anggota kelompok yang mendapat kesulitan. Semangat tersebut makin kuat seiring dengan makin kuatnya rasa saling terikat yang diraakan oleh anggota kelompok itu. Suatu contoh sederhana: bila kita bepergian dalam rombongan dengan berkenderaan. Bila ada salah satu kenderaan teman kita yang mengalami kesulitan, mogok misalnya, akankah kita membiarkan teman kita yang mengalami kesulitas itu begitu saja, dan kemudian kita tinggalkan di dalam kesulitan? Bila kelompok itu adalah kelompok yang sehat, pemimpin kelompok itu akan berhenti dan mencari tahu persoalan apa yang dihadapi oleh anggota kelompok itu. Kemudian, tergantung pada persoalannya, sebagian anggota kelompok yang dapat membantu kan diminta tinggal untuk memberikan pertolongan, dan anggota yang lainnya boleh meneruskan perjalanan
Di dalam satu keluarga pun juga demikian. Setiap anggota keluarga memiliki tanggungjawabnya masing-masing terhadap dirinya sendiri maupun terhadap keluarga / kelompok. Sampai batas tertentu, yaitu sejauh masih dapat diatasi sendiri oleh anggota keluarga itu, tentu segala persoalan menjadi tanggungjawab masing-masing anggota keluarga. Misalnya membersihkan kamar masing-masing atau pekerjaan lain yang disepakati pembagian tanggungjawabnya. Tetapi bila ada persolan yang dihadapi oleh salah satu anggota keluarga dan dia tidak sanggup menyelesaikan sendirian, tentu anggota keluarga yang lain akan membantu, dan bila persoalannya lebih sulit dan leboh luas lagi cakupannya, tentu tidak salah bila kepala keluarga yang ikut turun tangan, atau bahkan kepala keluarga harus turun tangan. Umpamanya bila ada dua orang kakak beradik yang berselisih dan sulit berdamai, tentu bapak atau ibu yang harus turun tangan mendamaikannya. Apakah bisa dibenarkan bila perselisihan itu didiamkan saja oleh kedua orang tuanya?
Persoalan Kaldera Lumpur Sidoarjo ini rasanya dapat kita lihat dari sudut pandang kekeluarkaan ini atau melihatnya dengan semangat solidaritas kelompok suatu masyarakat. Memang benar bahwa semburan lumpur itu terjadi di kawasan kerja PT. Lapindo Brantas Inc., dan perusahaan itu dinyatakan bertanggungjawab atas kejadian itu, tetapi apakah semua persoalan harus dibebankan dengan tanpa batas kepada PT. Lapindo Brantas Inc. Apabila persoalan itu kecil dan sederhana dan dapat diselesaikan, pendapat yang menyatakan bahwa semua persoalan adalah tanggungjawab PT. Lapindo Brantas Inc., dapat kita terima. Tetapi, bila ternyata persoalan itu terus berkembang sedemikian kompleksnya dan menyebabkan kerusakan yang sangat luas baik secara spasial maupun sosial dan menelan korban jiwa dan kita tidak tahu kapan persoalan itu berhenti atau akan terus berkembang, apakah benar bila semua tanggungjawab itu tetap dipikulkan kepada PT. Lapindo Brantas Inc.?
Kita semua mengikuti perkembangan persoalan semburan dan genangan lumpur di Sodiarjo itu, dan juga tahu bahwa persoalan lumpur itu dari hari ke hari makin terus membesar, makin banyak kerugian yang ditimbulkannya, dan kita tidak tahu kapan semua itu berakhir. Dengan semangat solidaritas kelompok, rasanya pantas kita bertanya: bagaimana peranan Pemerintah di dalam menyelesaikan persoalan semburan dan genaggan lumpur itu? Apakah Pemerintah akan terus berperan sebagai broker yang terus menekan PT. Lapindo Brantas Inc untuk bertanggungjawab, sementara kerugian makin besar dan korban jiwa telah berjatuhan? Atau, apakah Pemerintah akan bertindak sebagai pemimpin atau kepala keluarganya yang berusaha membantu anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan untuk lepas dari kesulitannya?
Dampak peran Pemerintah yang bertindak sebagai broker telah kita rasakan sekarang ini. PT. Lapindo Brantas Inc dapat kita katakan berhadapan langsung dengan berbagai pihak yang dirugikan oleh semburan dan genangan lumpur Sidoarjo itu. Akibatnya adalah persoalan ganti kerugian tidak belum selesai, para pengungsi terus di pengungsian tanpa kepastian (banyak diantara pengungsi yang mengungsi atas biaya sendiri), dan upaya menangani persoalan yang tanpa arah yang jelas, serta kerugian yang terjadi makin terus membesar. Memang benar, Pemerintah membentuk Tim Penanggulangan Lumpur, tetapi tim itu nampaknya lebih berkonsentrasi pada upaya menghentikan semburan lumpur, sementara itu persoalan nyata di lapangan sangat kompleks dan berada di luar kemampuan tim itu untuk menyelesaikannya.
Berkenaan dengan persoalan semburan dan genangan lumur Sidoarjo ini, ada satu hal yang dapat dipastikan, yaitu: kekhawatiran akan bencana yang lebih besar. Dengan kondisi semburan lumpur seperti sekarang ini yang menyemburkan lumpur lebih dari 150.000 meter kubik per hari, subsidence yang terus berjalan, musim hujan yang mulai berlaku, dan upaya penanganan lumpur seperti sekarang, maka masa depan kawasan itu penuh tanda tanya.
-------------------
Selanjutnya mari kita ikuti kondisi dan pikiran yang berkembang di sekitar masalah Kaldera Sidoarjo ini.
21 November 2006, 16:35:43, Laporan Eddy Prasetyo
Pemerintah Pusat Harus Ambil Alih
ssnet| Pemerintah Pusat harus mengambil alih upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo dari Lapindo Brantas Inc. Hal tersebut dikatakan Dr. RUDI RUBIANDINI anggota Tim Penasihat Teknis Penutupan Lubang Semburan Lumpur pada Suara Surabaya, Selasa (21/11).
RUDI menilai Lapindo sudah tidak sanggup lagi menyesuaikan target kinerja penanggulangan lumpur. Ia mencontohkan upaya penutupan pusat semburan lumpur menggunakan relief well yang berjalan lamban karena terkendala faktor-faktor non teknis.
“Dari 180 hari jadwal yang kita rancang, hanya 5 minggu saja yang efektif digunakan untuk melakukan pengeboran di relief well 1 dan 2. Banyak kenala non teknis mulai dari alat-alat telat datang karena koordinasi kurang, keuangan Lapindo yang kembang kempis sehingga tenaganya tidak mau ngebor, dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Muara dari masalah ini, kata RUDI, adalah likuiditas pendanaan proyek penanggulangan banjir lumpur. “Pemerintah seharusnya mulai turun tangan. Misalnya, soal sewa rig Pertamina. Semestinya dihandle dulu oleh Pertamina, nanti bisa diklaimkan ke pemerintah lewat cost recovery,” ujar RUDI.
(Bagian berita selanjutnya tidak dikutip)
-------------------------------
28 November 2006, 15:12:41, Laporan J. Totok Sumarno
Air dan Lumpur Panas Terus ‘Menghajar’ Perumtas
ssnet| Selasa (28/11) luberan lumpur panas dan air semakin melebar di kompleks Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas). Luberan lumpur panas bahkan sudah masuk sampai hampir 100 meter dari jalan Raya Kedungbendo. Sedangkan air dingin yang deras mengalir sudah mencapai depan masjid Baiturrahman Kedungbendo.
“Mulai ledakan Rabu (22/11) sampai sekarang ini, lumpurnya sudah naik terus. Airnya juga naik. Sekarang ini, saluran air di Perumtas Blok A, AA dan F itu sudah penuh lumpur panas. Pemilik rumah di blok A dan AA sudah pergi semua,” ujar SUTIKNO petugas sekuriti kompleks Perumtas, Selasa (28/11).
Sampai Selasa (28/11) menurut SUTIKNO dan beberapa warga Perumtas lainnya yang ditemui suarasurabaya.net, Selasa (28/11) diujung blok F yang sudah mulai dialiri air, tidak ada upaya sama sekali dari Timnas maupun aparat lainnya untuk menghentikan laju lumpur dan air.
“Nggak ada apa-apa. Jangankan membuat tanggul, bantuan untuk evakuasi warga ini saja masih sangat minim. Apa kita ini mau ditenggelamkan, seperti di Jatirejo atau Kedungbendo sana? Warga sudah banyak yang mengungsi. Tapi nggak ada antisipasi apa-apa,” tutur BAMBANG HERIANTO veteran TNI-AD warga blok F Perumtas pada suarasurabaya.net, Selasa (28/11).
(Bagian akhir berita tidak dikutip)
-----------------------
27 November 2006, 20:10:39, Laporan J. Totok Sumarno
Evakuasi Perumtas
Ongkos Sewa Truk Mahal, Warga Mengeluh
ssnet| “Untuk sekali angkut dari Perumtas ke Gedangan, ongkosnya 750 ribu. Kalau dua kali angkut, ya tinggal dikalikan saja. Terlalu mahal itu. Nggak punya kita ongkos segitu. Nunggu truk dari tentara juga harus giliran, khawatir lumpur sudah masuk Mas”.
AGUS TRIANTO satu diantara warga Perumtas, kepada suarasurabaya.net, Senin (27/11) mengeluhkan mahalnya ongkos sewa truk untuk evakuasi barang-barang ke lokasi yang lebih aman.
Melihat kondisi masuknya lumpur yang deras dari tanggul di Jl. Raya Kedungbendo menuju ke Perumtas, beberapa truk dan mobil pick up, sengaja masuk ke lokasi perumahan untuk menawarkan jasa angkut.
Satu truk biasanya dilengkapi dengan sekurangnya 3 orang yang bertugas sebagai tukang angkuta barang dari dalam rumah ke atas truk serta membongkarnya ditempat tujuan. “Kita ini juga cari makan Mas. Harga segitu, nantinya juga dibagi-bagi kok. Makanya kalau dibilang terlalu mahal ya nggak juga,” ujar SUPARI satu diantara sopir truk yang ditemui suarasurabaya.net, Senin (27/11).
KUSTIANTI warga blok AA Perumtas juga mengatakan hal yang sama terkait mahalnya ongkos sewa truk. “Itu namanya memanfaatkan kesempatan!! Lihat orang lagi susah kayak gini kok malah bikin harga mahal!!” ucapnya dengan nada tinggi.
Menurut KUSTIANTI, sebelum kawasan Perumtas mulai tergenang lumpur, truk-truk dan pick up sewa itu beroperasi disekitar lokasi atau desa lainnya yang mulai terendam lumpur. “Mereka menawarkan harga yang jauh lebih murah. Giliran Perumtas yang kena mereka pasang harga tinggi. Kita ini sama-sama kesusahan, kok malah cari kesempatan,” gerutu KUSTIANTI masih dengan nada tinggi saat ditemui suarasurabaya.net, Senin (27/11).
-------------
27 November 2006, 19:26:07, Laporan Zulfa Ely Agus Tiana Wati
Ganti Untung Belum Terpenuhi
Pungli Mengusik Warga Desa Jatirejo
ssnet| Warga korban lumpur di Porong Sidoarjo melaporkan pungli (pungutan liar) yang dilakukan aparat Desa Jatirejo pada Bupati Sidoarjo.
Menurut warga Desa Jatirejo, seperti dilaporkan MARTHA reporter Suara Surabaya, Senin (27/11), pungli dilakukan aparat Desa Jatirejo untuk pengurusan surat-surat tanah dan ahli waris. Warga mengaku, dipungut Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Jika tidak dibayar, menurut pengakuan warga, surat-surat yang dibutuhkan tidak akan dipenuhi.
Mendengar laporan ini WIN HENDRARSO Bupati Sidoarjo langsung memanggil Camat Porong. Sementara itu, MULYADI Camat Porong mengakui ada pungli di Desa Jatirejo. Camat mengaku kecolongan ada aparatnya yang masih menarik uang pada warga korban lumpur.
Camat Porong ini sudah meminta uang yang dipungut ini dikembalikan lagi pada warga. Berikut penjelasan MULYADI, .
WIN HENDRARSO berjanji akan menindaklanjuti laporan warga ini. Badan pengawas Kabupaten Sidoarjo akan diturunkan untuk mengecek laporan warga tentang pungli di Desa Jatirejo. Jika terbukti bersalah, maka aparat yang bersangkutan akan dikenai sanksi.
-----------------
From: "harryrw"
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Wed, 29 Nov 2006 07:58:44 +0700
Subject: RE: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...?? No Choice.....
Kalau boleh saya urun rembuk, menurut pengamatan saya, cukup banyak geoscientist yang berpendapat seperti sdr kabul bahwa pada akhirnya bencana ini harus diterima sebagai fenomena alam yang terlanjur diusik dan manusia tidak bisa mengontrolnya, dengan technologi yang ada sekarang dan dengan biaya yang wajar. Masalahnya sampai pada batas mana manusia c/o Lapindo dan pemerintah harus angkat tangan dan mulai menjadikan worst case option sebagai jalan yang harus di ambil, yang seperti sdr Kabul sebutkan yaitu memperkirakan daerah yang akan terkena dampak dari bencana ini secara geologi, merelokasi semua sarana dan memulai hidup dengan berdampingan dengan efek dari LUSI. Menentukan titik batas ini yang sulit, karena berbagai kepentingan berbenturan disini, baik ekonomi, politik, bisnis dsb dsb.
Tanpa harus menjadi naif, Mungkin sudah dilakukan suatu pertemuan khusus untuk mengevaluasinya dari berbagai sisi, menarik batas batas dan segera membuat suatu perencanaan yang jelas dan terbuka, menganggap masalah ini suatu yang sulit diterima oleh masyarakat awam adalah suatu sikap yang sudah tidak sesuai dalam era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Kalau mau menunggu, sampai kapan kita (/o warga sidoarjo)harus menunggu dan LAPINDO harus berusaha, sementara banyak dari kita di kalangan geoscientist yang beranggapan bahwa LUSI tidak bisa diprediksi kapan akan berhenti....
Harus ada suatu batas dimana pemerintah harus menyatakan secara resmi bahwa ini adalah bencana nasional dan harus ditangani dengan kadar yang sama dengan Tsunami di Aceh dan gempa di Bantul.
Harry RW
-----Original Message-----
From: Kabul Ahmad [mailto:kabul_ahmad@terralog.co.id]
Sent: Tuesday, November 28, 2006 5:31 PM
To: iagi-net@iagi.or.id
Subject: Re: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...?? No Choice.....
Saya orang yang tidak percaya atau paling tidak, pesimistis bahwa relief well akan berhasil mengatasi masalah si LUSI ini.-- Mohon maaf kepada pak Rudy Rubiandini ). Secara geomechanic dan terjadinya subsidence yang sudah sangat parah juga kondisi dimana aliran mud flow ke atas adalah thermal drive mechanism...panas geothermal vulkanik yang mendorong steam (uap panas) di bawah sana yang diperkirakan > 400 deg.C (jelas bukan air lagi, tapi panas bumi).
Saya pribadi kurang yakin dengan teori tektonik yang menggerakkan "mudvulkano" ini...tapi benar-benar panasbumi yang menggodok air formasi menjadi uap panas yang menerobos melalui lobang bor panjang yang tak diselubung dan disemen itu dan membawa serta lapisan formasi lempung/F. Kalibeng itu. Kalau disebut sebagai gejala shale diapir, mengapa suhu dipermukaan berupa uap panas hingga > 215 deg.F atau 100 deg C?? persis sumur-sumur di Kamojang sana ?
Dan mengapa tak berhenti ? Bila diapir tentunya setelah tekanannya release, maka akan berhenti. Lalu berapa suhu dibawah sana > 9000 kaki ? Tarik dan hitung saja thermal gradientnya. Ingat loksai kita si LUSI ini berdekatan dengan zona vulkano (G. Arjuna, G. Welirang, G. Penanggungan).
Untuk mematikannya, secara teori ya didinginkan dulu sumbernya kemudian di sumbat dengan semen. namun akan butuh berapa ribu ton semen dan air dingin?...pabrik semen jangan-jangan malah tekor. Paling tidak harus mem-"balance" antara yang keluar dengan yang dimasukkan untuk menyumbat. Yang keluar sudah > 50,000M3 /hari. (total sekarang sudah berapa ya ??? ). Jika radius subsidence (amblasan) sudah > 4 km,....ya tinggal kalikan saja dengan kedalaman amblesan trus dihitung berapa material dibutuhkan untuk menyumbat.
Selain kerongkongan keluarnya lumpur juga sudah banyak spot dan membesar hingga beberapa meter lebarnya., jadi sudah "caving" yang besar sekali, selain gerak amblesan yang sangat cepat, secepat aliran lumpur itu sendiri.
Namun, karena relief well ini adalah tuntutan pihak asuransi (the last choice to be taken action) ya...mau tidak mau mesti di bor...dengan resiko bahwa akan "blow out" lebih besar lagi karena memang tidak ada pompa tersedia yang bisa mengatasi dengan > lebih dari 100.000 horse power tekanan mud flow ini.
Sebaiknya, biarkan mudflow ini keluar, evakuasi rakyat sesuai daerah bahaya yang sudah dipetakan, alirkan lumpur ke sungai porong dengan pompa yang diperbesar dayanya dan juga secara aliran gravitasi, tutup jalan tol, jalan rel KA, pindahkan pipa gas, listrik dll. Saya kira ini sudah diputuskan oleh sidang Kabinet yang lalu. Petakan segera daerah yang akan ambles (subsidence) hingga beberapa tahun kedepan (20-30 tahun) sesuai dengan peta bawah permukaan (seismik, isopach clay (Formasi Kalibeng)dan penyebarannya). Pindahkan segera pemukiman,pabrik, infrastruktur dll keluar arena wilayah bahaya tersebut selamanya.- Sudah mulai dilaksanakan saya kira. Perkuat bendungan dan tanggul menjadi lebih permanen. Rencanakan Kimpraswilnya dengan matang untuk daerah ini. <-- Sudah dilakukan juga saya kira.
Jadikan LUSI sebagai obyek wisata geologi seperti Bledug Kuwu, Mrapen (api abadi), Dieng dengan kawah-kawahnya -ada yang beracun juga lho, atau Geyser di YellowPark Wyoming.
Berdayakan warga sekitar dengan sumber material baru tersebut dengan pendirian pabrik keramik, batu bata, genteng, atau juga lulur pengencang kulit..agar awet muda! Export lumpur ke manca negara sebagai komiditi bahan baku keramik yang nomer wahid ! Atau mungkin ke Singapore yang daripada masih suka mencuri pasir dari Kep. Riau, mendingan export lumpur ini kesana untuk menambah wilayah daratan negara pulau itu.
-------------------
From: "Ariadi Subandrio"
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Thu, 23 Nov 2006 20:31:54 -0800 (PST)
Subject: Re: [iagi-net-l] pit iagi 2006 sukses, duka semburan lumpur
Potensi co-lateral disaster apa lagi yang akan dapat menggetarkan nurani kita, kawan2 sudah memperingatkan pencermatan terhadap rel KA adalah sangat penting. Masak harus nunggu sampai gerbong terguling sih, kemudian penyesalan lagi. berulang2 gitu terus. Maaf kepada Timnas, tapi bahaya memang semakin meningkat..... tidak ada salahnya jika selain konsentrasi pada relief well dan pembuangan lumpur juga melakukan usaha monitoring gerakan tanah baik penurunan, pergeseran termasuk bagian yang diprioritaskan, juga pemindahan darurat infrastruktur.
lam-salam,
ar-
(sayangnya penyampaian kawan2 geosaintis seringkali dianggap sebagai
tari2an....
---------------------
"Agus Hendratno" gushendratno@yahoo.com
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Thu, 23 Nov 2006 03:57:46 -0800 (PST)
Subject: Re: [iagi-net-l] pit iagi 2006 sukses, duka semburan lumpur
PIT IAGI di Riau Sukses, semua komunitas geologi kembali prihatin, karena adanya subsiden di sekitar tol porong depan semburan yang kemudian mengakibatkan ledakan yang hebat dan menelan korban jiwa. Kita semua berduka. Belum usai duka lumpur, duka ledakan akibat deformasi di sekitar kaldera LUSI, ada semburan lumpur muncul di Banjarmasin yang dipicu pengeboran air tanah. Blaik...
Analisis deformasi di sekitar tol tersebut telah dikemukakan oleh berbagai tim peneliti yang telah turun di LUSI sejak akhir Juni lalu. Tapi kita semua melihat dan mengikuti, ternyata merelokasi semua aset umum (tol, rel, jaringan pipa gas, pemukiman penduduk) dan masyarakat dalam radius 2 km dari kaldera LUSI, tidaklah mudah dan alotnya minta ampur, policy yang ada di pihak-pihak terkait. Duka lagi....
Salam dari Pekanbaru
agus hendratno
----------------
From: "H.Z Abidin" hzabidin@gd.itb.ac.id
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Fri, 24 Nov 2006 11:18:35 +0700
Subject: Re: [iagi-net-l] Sumber Api ? /Lusi meminta korban jiwa
Untuk pak Rovicky dan rekan-rekan ysh,
Seperti sudah diketahui, sebenarnya fenomena subsidence di kawasan BJP sudah diukur dengan survei GPS oleh pihak ITB. Sudah 5 GPS campaigns di laksanakan sejak Juni 2006, dan hasilnya juga sudah diserahkan ke pihak yg berwenang.
Nampaknya kita memang selalu telat belajar dan memahami fenomena alam ..:-)
Saya pribadi sedih dan 'terluka', untuk korban yang jatuh dan juga untuk info ilmiah yang ternyata tidak bisa mengantisipasi hal tersebut.
Salam,
Hasan
(Dr. Hasanuddin Z Abidin)
Associate Prof. in Satellite Geodesy, Dept. of Geodetic Engineering, Institute of Technology Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung 40132, INDONESIA
Telp.: 62-22-2534286, 62-22-2530701; Fax.: 62-22-2530702; Mobile phone: 0811-24-7265; E-mail: hzabidin@gd.itb.ac.id, hzabidin@indo.net.id; Website: http://geodesy.gd.itb.ac.id/
==============================
From: "Agus Hendratno" gushendratno@yahoo.com
To: iagi-net@iagi.or.id
Date: Fri, 24 Nov 2006 23:09:04 -0800 (PST)
Subject: Re: [iagi-net-l] Jangan ada dusta untuk memanej bencana
Teman-teman IAGI /mailist
Dibalik musibah pasti ada hikmah, pelajaran dan ilmu pengetahuan. Penanganan rehab-rekon, juga penanganan pasca bencana / pasca musibah di Aceh, di Nias, di Jogja, di Klaten, di LUSI, di Merapi, di berbagai wilayah indonesia, yang ternyata KAGAK RES BUERES, saya lebih menyoroti bahwa yang BERWENANG ini TIDAK BISA IKHLAS untuk bermain secara CANTIK.
Semua geosaintis / pakar-pakar yang meng-advise berbagai musibah tersebut bersama beberapa stake-holder, telah menunjukkan permainan yang SUPER CANTIK, dan ikhlas bahkan sampai Istiqomah. Tapi..., yang tidak jelas justru pihak-pihak yang SUPER WEWENANG ini seringkali Gagap ketika mendengar berbagai tafsiran dan analisis para pakar. Njuk terus kepriye..., maning. Piye jal... Sehingga yang terlihat diluar, lebih banyak kita menyaksikan dan mendengarkan adanya kelambatan, kebingungan dalam menangani semua itu. Ben wae...
Manajemen wewenang tidak sejalan secara simultan dan sinergi dengan analisis para pakar. maka yang terjadi TUNGGULAH MUSIBAH BERIKUTNYA.........
Kalau boleh kita mengatakan, para pihak yang berwewenang : Janganlah ada dusta diantara panjenengan-panjenengan dalam memanej musibah-musibah; semakin ada dusta yang jadi korban adalah rakyat kecil nan miskin. Para geosaintis telah mengingatkan semua itu.
----------------
Akhir kata, semoga kita dan para pemimpin kita, selalu diberi kekuatan, kejernihan pikiran dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah, termasuk masalah Kaldera Lumpur Sidoarjo ini. Amin!
Salam dari Ancol, 29 Nopember 2006
Wahyu
Subscribe to:
Posts (Atom)
