Sunday, November 26, 2006

Semburan Lumpur Kolam Kanan dan Sidoarjo: sampai kapan?

Semburan Lumpur Kolam Kanan

Rabu, 22 Nopember 2006, dimulai dari upaya mencari air bersih dengan membuat sumur bor sedalam 136 meter oleh Ketut Tegal, munculah sembura lumpur di Desa Kolam Kanan, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Berikut ini kisahnya yang dikutip dari Kompas Edisi Cetak, 26 Nopember 2006, hal 3.

Bagi Ketut Tegal, pengeboran sumur itu tidak lain hanya untuk mendapatkan air bersih yang layak dikonsumsi. Keinginan mendapatkan air bersih itu sangat wajar karena Desa Kolam Kanan—yang dihuni sekitar 400 keluarga asal Bali yang mengikuti program transmigrasi pada tahun 1971—tidak pernah mendapatkan air bersih.

Di awal-awal mereka ditempatkan di daerah itu, selain harus membuka hutan rawa sekitar rumah mereka, untuk keperluan air bersih—terutama untuk minum dan memasak—mereka harus menadah air hujan. Air parit atau rawa gambut di daerah tersebut tidak bisa dikonsumsi karena rasanya sangat asam dan berwarna hitam.

Sekarang mereka terbantu karena disediakan satu tangki plastik berukuran sekitar 3.000 liter untuk air bersih yang disediakan perusahaan daerah air minum setempat. Namun, rupanya itu belum mencukupi karena untuk mandi mereka masih menggunakan air gambut. "Penderitaan kesulitan air itu paling kami rasakan ketika terjadi kemarau panjang empat bulan terakhir ini. Kami harus antre. Kalau tidak kebagian, kami terpaksa beli," kata Kade Kundri.

Tergerak untuk mengatasi penderitaan selama puluhan tahun itulah keluarga Ketut Tegal memanggil ahli sumur bor, Mualim, warga Kecamatan Belawang, Barito Kuala. Mualim kemudian membawa empat pekerjanya untuk menggali sumur bor di depan rumah Ketut. Rencananya, jika berhasil mendapatkan sumber air, para penggali sumur bor itu bakal mendapat bayaran Rp 5,5 juta.

Kegembiraan sempat muncul saat mereka sudah memasukkan pipa sumbur bor sepanjang 135 meter. Sebab, air bersih sempat keluar dengan baik. Namun, hal itu hanya berlangsung setengah jam karena kemudian pada lubang pipa itu keluar suara gemuruh. Selanjutnya, menyemburlah lumpur yang tingginya melebihi pohon kelapa di halaman rumah tersebut. "Kami tidak menyangka terjadi begitu. Padahal, hanya sekadar untuk mencari air bersih," kata Kundri.

Kemarin ketinggian semburan masih sekitar satu-dua meter dengan diameter lubang semburan sekitar lima meter.

Suasana desa itu pun berganti. Halaman rumah Ketut Tegal kini berubah menjadi genangan lumpur setinggi lebih kurang 20 sentimeter. Luas genangan mencapai 50 meter persegi. Beberapa pohon kelapa, salak, tanaman bunga maupun tumbuhan lainnya layu dan mati. Tak heran bila warga berbagai daerah yang datang ke lokasi itu menyebut-menyebut kasus itu mirip kasus lumpur panas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Semburan lumpur itu muncul akibat adanya penggalian sumur bor sedalam 136 meter di dekat rumah Ketut Tegal, Rabu lalu. Awalnya, lubang semburan lumpur hanya berdiameter 4 sentimeter, tetapi kemudian melebar hingga 3 meter, bahkan kemarin sudah mencapai 5 meter.

Kemarin semburan lumpur masih berlangsung dengan ketinggian satu-dua meter. Karena itu, kawasan yang diamankan diperluas menjadi sekitar 200 meter persegi.

Warga Desa Kolam Kanan, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (25/11) kemarin, beramai-ramai membangun tanggul darurat setinggi satu meter dengan luas 50 x 50 meter persegi.

Berkaitan dengan semburan lumpur itu, pihak Dinas Pertambangan Kalimantan Selatan bersama-sama dengan tiga ahli eksplorasi dari Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengambil sampel lumpur untuk diteliti. Selain dari Badan Geologi Departemen ESDM, kata Heryozani - Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertambangan, juga akan datang tim ahli dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan Institut Teknologi Bandung.

Apa bedanya Semburan Lumpur Kolan Kanan dengan Semburan Lumpur Sidoarjo?

1. Pencetusnya?. Bila Semburan Lumpur Kolam Kanan (SLKK) dimulai dari upaya mencari air bersih yang dilakukan oleh Ketut Tegal, maka Semburan Lumpur Sidoarjo (SLS) dimulai dari kegiatan eksplorasi minyak bumi dalam upaya memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional yang dilakukan olah PT. Lapindo Brantas Inc.
2. Durasinya?. SLKK baru berlangsung beberapa hari, sementara SLS telah berbulan bulan.
3. Kapan berhenti? Sama-sama tidak diketahui.
4. Dampaknya? SLKK sejauh ini baru mengenangi pekarangan rumah Ketut Tegal dan beberapa pohon ditebangi, sementara itu SLS menggenangi daerah pemukiman, kawasan industri, persawahan, dan merusak berbagai macam infrastruktur penting dan terakhir mengganggu suplai gas untuk pembangkit listrik sistem Jawa – Bali yang sangat vital.
5. Tertuduhnya? Pada kasus SLKK belum ada seorang pun yang dituduh bersalah (karena diangap bencana?), sementara pada kasus SLS yang dinyatakan harus bertanggungjawab PT. Lapindo Brantas Inc.

Pertanyaan selanjutnya

1. Bila SLKK terus berlanjut, dan skala genangannya terus meluas (seperti SLS, semoga saja jangan), siapa yang harus bertanggungjawab?
2. Untuk kasus SLS, setelah ledakan pipa gas Pertamina yang mengganggu sistem jaringan listrik interkonensi Jawa-Bali, jalan tol dan rel kereta api yang harus direlokasi, sekian banyak pengungsi, sekian banyak pegawai pabrik yang harus menganggur, sekian banyak insdustri yang tutup, dan sekian banyak pihak yang dirugikan karena harus berputar, karena kehilangan waktu, karena meninggal dunia, dan lain sebagainya; harus menunggu sampai seberapa besar bencana terkait (collateral damages) harus terjadi agar dapat dinyatakan sebagai Bencana Nasional?


Salam dari Ancol, 26 Nopember 2006
Wahyu

1 comment:

S. Lubis said...

Suatu upaya yang cukup simpatik untuk menarik minat berbagai kalangan beropini tentang teka-teki lumpur ini.
Perkenankan saya menambahkan informasi mengenai kedua fenomena geologi ini.
Bencana yang lazim muncul pada upaya menahan lumpur Porong dengan membangun tanggul-tanggul penahan adalah:
a. Bencana primer: bencana banjir lumpur yang tidak terkendali jika curah hujan terjadi >40mm/jam (kajian limpasan maksimum pada perhitungan water balance metoda F.J. Mock.
b. Bencana Sekunder: Hilangnya groundwater (kedalaman 10-200 m) kawasan utara dan timur Porong, teraduknya sedimen di muara Kali Porong akibat limpahan debit Kali Porong yang berpeluang membangkitkan "algal Blooming" atau "red tide" di kawasan pesisir.
c. Bencana Tersier: "over bending" pecahnya pipa gas akibat subsidensi dan expansi lumpur, amblasnya rel KA, jalan raya, jalan tol, rubuhnya menara SUTET PLN, dsb.
Urut-urutan bencana yang terjadibiasanya diawali oleh bencana primer, selanjutnya sekunder dan diakhiri bencana tersier. Namun pada perkembangan semburan lumpur Porong ini justru diawali dengan bencana tersier dan bahkan telah membawa korban jiwa manusia. Mudah dibayangkan resiko bahayanya, jika bencana primer ini benar-benar terjadi. Bencana sekunderpun mulai dirasakan oleh gejala penurunan muka air tanah di beberapa tempat sekitar Porong, padahal keberadaan air sangat vital bagi kawasan pemukiman.
Oleh sebab itu diperlukan upaya cerdas yang sungguh-sungguh dalam menekan kemungkinan resiko bencana, dari pada sekedar mencari jawab atas polemik berkepanjangan tentang: "termasuk jenis bencana apa semburan lumpur panas ini"?