Saturday, September 02, 2006
MENIMBANG PERLAKUAN TERHADAP LUMPUR SIDOARJO
Para pendukung alternatif pertama (lumpur tetap di darat) pada dasarnya beralasan bahwa pembuangan lumpur ke laut akan merusak / merubah lingkungan, merugikan masyarakat nelayan, dan penduduk di daerah pesisir.
Sementara itu, para pendukung alternatif kedua (lumpur dialirkan ke laut) pada dasarnya beralasan bahwa mempertahankan lumpur di darat sama seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak di musim hujan yang akan datang di bulan Oktober.
Sekarang mari kita berhitung secara kasar tentang untung rugi dari kedua alternatif tersebut.
-----------
Keuntungan lumpur tetap di Darat
1). Tidak menambah persoalan baru di kawasan Selat Madura.
Keuntungan mengalirkan lumpur ke Laut
1). Membatasi (mengurangi) volume lumpur di darat. Bila kita berhasil membatasi (syukur bisa mengurangi), berati kita bisa membatasi atau mengurangi persoalan berkaitan dengan genangan lumpur itu. Kerugian materil yang telah terjadi akan terbatas sampai batas genangannya yang sekarang.
2). Mendapatkan kepastian penanganan masalah lumpur. Dengan adanya kepastian arah tindakan, maka tidakan-tidakan yang dilakukan dapat lebih pasti dan terfokus.
3). Memanfaatkan “bantuan” laut untuk menyelesaikan persoalan semburan lumpur ini. Laut adalah tempat pengendapan terakhir segala sesuatu yang ada di darat (Hukum Alam, semua yang mempelajari geologi tahu ini).
4). Persoalan yang terjadi akan hanya terbatas di kawasan pesisir tertentu sesuai dengan kondisi dinamika perairan. Kita bisa mengatakan bahwa daerah pesisir merupakan sisi tertutup dan laut adalah sisi terbuka. Jadi kalau pun semburan lumpur terus berlangsung dalam jangka waktu lama, persoalan tetap terbatas di daerah pesisir tertentu, dan lumpur tambahan akan terus mengalir ke laut dan diendapkan dengan pola tertentu.
5). Bisa lebih mudah mengatasi ancaman bahaya jebolnya tanggul dari genangan lumpur yang telah ada. Dengan catatan bahwa lumpur yang dialirkan ke laut dapat mengimbangi pertambahan atau lebih besar daripada volume lumpur yang disemburkan ke luar dari dalam Bumi.
-----------
Kerugian lumpur tetap di Darat
1). Sampai sekarang volume lumpur terus bertambah, karena semburan belum berhenti. Mempertahan lumpur tetap di darat berarti dua hal: (1) menambah tinggi tanggul – yang berarti meningkatkan ancaman bahaya tanggul jebol, dan (2) menambah luas kawasan genangan – yang berarti akan makin luas kawasan yang akan tergenang. Dengan makin luas kawasan genangan berarti: makin banyak kerugian yang akan kita alami dalam bentuk kerusakan daerah pemukiman, jalan, industri dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi perekonomian dan kondisi soaial. Karena kita tidak tahu kapan semburan lumpur berhenti, maka kita juga tidak tahu sampai kapan tanggul harus terus dibuat atau dipertinggi. Persoalan lumur ini bisa mengurung diri kita sendiri. (Tidak ada kepastian upaya penanganan)
2). Musim hujan akan segera tiba di bulan Oktober, dan ini tidak dapat ditawar-tawar lagi karena fenomena alam. Dengan kualitas tanggul yang lemah seperti sekarang ini (tanggul sementara) bahaya tanggul jebol di musim hujan sangat mungkin terjadi. Sekarang pun dikala tidak hujan tanggul itu sering jebol. Membuat tanggul yang kuat membutuhkan waktu. Apakah cukup waktu kita membuat anggul yang kuat sampai bulan Oktober? (Tidak ada kepastian keamanan jiwa).
3). Dengan kemungkinan genangan lumpur yang makin luas, ancaman kerugian materi juga akan terus bertambah sesuai dengan seberapa luas pertambahan lumpur. Bila semburan lumpur berlangsung sangat lama, maka selama itu pula kerugian materi akan terus bertambah sesuai dengan volume lumpur yang disemburkan. (Tidak ada kepastian keamanan materi).
Kerugian mengalirkan lumpur ke Laut
1). Menambah atau membuka front persoalan baru di kawasan pesisir Selat Madura. Dengan adanya front baru ini, berarti diperlukan berbagai tindakan tambahan, seperti mempelajari kondisi dinamika perairan, konfigurasi dasar laut, dan berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir. Namun demikian, semua hal yang perlu dilakukan terkait dengan pembukaan front baru ini dapat dilakukan dengan suatu kepastian.
2). Terjadi perubahan kondisi lingkungan, seperti sedimentasi yang hebat di daerah pesisir dan kekeruhan perairan, di kawasan tertentu. Untuk sementara perubahan kondisi lingkungan memang merugikan, tetapi dengan berjalannya waktu, akan terjadi penyesuaian secara alamiah, dan ada kemungkinan kondisi dapat berbalik menjadi menguntungkan. Perubahan kondisi lingkungan karena kekeruhan ini, hanya akan menimbulkan kerugian bila ada aktifitas manusia di daerah tersebut. Bila aktifitas manusia tidak ada, maka perubahan kondisi lingkungan itu tidak jadi masalah. Andaikan ada aktifitas manusia yang terkena, bisa dipindahkan (perlu survei lapangan untuk menilai situasi ini). Apabila sedimentasi yang terjadi sangat tinggi, mungkin kita bisa mendapatkan daratan baru.
3). Perlu kegiatan monitoring selama lumpur masih terus dialirkan ke laut.
-----------
Demikian gambaran sekilas tentang keuntungan dan kerugian dari pilihan mempertahankan lumpur tetap di darat, atau mengalirkan lumpur ke laut. Dengan mengungkapkan hal itu, harapannya adalah bahwa kita bisa berpikir dan mengambil keputusan dengan baik dan segera. Serta, tidak terjebak di dalam polemik yang makin merumitkan persoalan, sementara bahaya yang mengancam bakin besar dan makin dekat.
Salam dari Ancol, 2 September 2006
Wahyu
Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi permintaan Bapak Sad Agus.
Terima kasih banyak untuk komentarnya.
Friday, September 01, 2006
REALISTIS MENGHADAPI LUMPUR PANAS SIDOARJO: 2
Tampaknya, membuang lumpur ke laut akan menjadi suatu keharusan. Tidak ada alternatif lain yang lebih baik dari ini dikala ancaman bahaya melubernya genangan lumpur itu yang semakin besar. Ancaman makin membesar seiring dengan semburan lumpur yang terus berlangsung dan musim hujan yang semakin mendekat dengan pasti. Tak terelakkan.
Mari kita lihat, kondisi lingkungan kawasan Selat Madura, berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi bila lumpur dibuang ke laut, dan apa yang dapat kita lakukan.
1. Terkait dengan kegiatan pembuangan lumpur ke laut, pengetahuan tentang dinamika / pola arus di kawasan Selat Madura adalah hal yang penting. Dengan pengetahuan tentang pola arus, kita dapat memperkirakan kemana muatan lumpur akan disebarkan. Saya tidak memiliki data tentang pola arus di Selat Madura, tetapi bila kita memperhatkan Citra Satelit kawasan Ujung Pangkah (yang pernah disajikan Rovicky, http://rovicky.wordpress.com/), bisa dipastikan bahwa netto transportasi muatan sedimen berarah ke utara, ke luar ke laut Jawa. Meskipun demikian, studi pola arus yang menyeluruh di kawasan selat itu perlu dikatahui dengan baik.
2. Pola batimetri / konfigurasi dasar laut kawasan selat itu juga penting untuk diketahui agar kita dapat mengarahkan outlet pipa pembuang lumpur dan di mana harus meletakkannya, dan agar kita dapat memprediksi perubahan batimetri yang mungkin terjadi dan merencanakan penanggulangan masalah yang mungkin menyusulnya.
3. Studi tentang berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir selat itu perlu segera dilakukan agar dapat segera diperkirakan dengan baik kerugian yang mungkin terjadi dengan pembuangan lumpur itu (tidak hanya mengira-ngira tanpa dasar yang kuat). Hal ini juga penting untuk perhitungan kompensasi bila terjadi kerugian.
4. Bagaimana bila pembuangan lumpur dengan mengalirkannya melalui pipa?. Dengan pipa, kita dapat melepaskan lumpur di kedalaman tertentu dan mengarahkan penyebarannya, serta dapat mengurangi penyebaran lumpur dalam bentuk suspensi.
5. Bagaimana bila pembuangan melalui aliran sungai?. Bila pembuangan lumpur melalui aliran sungai, maka lumpur akan masuk sebagaimana layaknya muatan yang masuk ke laut dari aliran sungai. Keadaan ini akan menimbulkan banyak perubahan kondisi lingkungan di sepanjang aliran sungai, kawasan muara sungai, serta di daerah pesisir di sekitar muara sungai. Perubahan kondisi lingkungan itu berkaitan dengan meningkatnya muatan suspensi. Dalam jangka pendek, mungkin peningkatan muatan suspensi yang sangat mendadak menimbulkan masalah, yang berkaitan dengan kehadiran biota sungai maupun laut, suplai air ke tambak (bila ada tambak), atau gangguan di daerah penangkapan ikan (bila memang ada daerah penangkapan ikan yang terkena), dan penduduk yang memanfaatkan air sungai secara langsung (bila memang ada). Di muara sungai, mungkin terjadi pendangkalan alur, dan mengganggu penggunaan alur (bila memang ada penggunaan alur sungai untuk pelabuhan). Di sinilah pentingnya studi lingkungan yang telah saya sebutkan di depan. Dalam jangka panjang bagaimana? Dalam jangka panjang, bila aliran lumpur terus berlangsung sampai puluhan tahun, maka sangat mungkin di muara sungai yang dijadikan alur pembuangan lumpur itu akan terjadi pembentukan delta. Contoh nyata tentang hal ini dapat saya tunjukkan di pantai Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Penyodetan aliran sungai Ciujung dan Cidurian dan mengalihkannya ke tempat yang baru pada tahun 1927, telah mengakibatkan munculnya delta baru. (Bila ingin tahu lebih jauh tentang hal ini, silahkan hubungi saya, saya akan mengirimkan makalah yang pernah saya tulis tentang hal ini; poster ukuran A4 juga ada).
6. Tentang bahan-bahan yang berbahaya di dalam lumpur?. Saya kira bahan-bahan itu ada namun jumlah tidak signifikan, dan akan tercairkan / netralisir oleh air laut. Kalau memang bahan-bahan berbahaya itu ada dalam jumlah yang membahayakan, tentu orang-orang yang pernah kontak dengannya sudah merasakan berbagai akibatnya. Tetapi tidak ada salahnya juga bila kandungan bahan-bahan berbahaya itu diteliti, agar kita mendapatkan data yang pasti. Dengan catatan: jangan sampai ketakutan yang tidak pasti akan bahan-bahan berbahaya ini malah lebih berbahaya karena tidak berani mengambil keputusan.
7. Masalah utama yang terkait dengan pembuangan lumpur ke laut saya kira adalah masalah kekeruhan air. Memang, kekeruhan akan membuat masalah lingkungan, tetapi sifatnya akan sementara saja. Bila suplainya berhenti, maka kekeruhan akan berkurang dan hilang dengan sendirinya setelah jangka waktu tertentu. Persoalan sekarang adalah bahwa kita tidak tahu sampai kapan semburan lumpur itu akan berlangsung. Berkaitan dengan masalah kekeruhan ini, mungkin perlu studi model tentang bagaimana penyebaran muatan lumpur itu bila dibuang ke laut. Juga perlu dipejari “residence time” muatan lumpur itu di kawasan Selat Madura (waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan muatan lumpur itu dari Selat Madura).
8. Bagaimna dengan kemungkinan pendangkalan alur pelabuhan di Surabaya? Bila itu terjadi, dikeruk saja bila terjadi.
9. Bagaimana bila terjadi sedimentasi di pantai?. Bila terjadi dalam jumlah besar dan terus menerus dalam jangka waktu lama, selama semburan lumpur terus berlangsung, biarkan saja, karena kita akan mendapatkan daratan yang baru. Banyak keuntungan tambahan yang kita dapatkan bila terjadi penambahan daratan pantai. Kesempatan bagi pemerintah untuk mengatur kawasan pesisir.
Bagaimana dengan kawasan yang sekarang tergenang?
Kembali, sampai sekarang kita belum tahu kapan semburan lumpur itu akan berakhir. Oleh karena itu, agar kehidupan masyarakat tidak terlalu lama terkatung-katung di dalam ketidak-pastian karena menunggu berhentinya semburan lumpur itu, sebaiknya Pemerintah segera mengusahakan relokasi tempat tinggal mereka. Makin cepat relokasi dilakukan, akan makin baik. Karena akan makin cepat pula masyarakat dapat menata kembali kehidupannya di tempat yang baru dengan suatu kepastian. Makin lama masyarakat hidup di dalam ketidak-pastian, makin lama mereka menderita dan makin banyak biaya yang dikeluarkan.
Untuk kawasan yang sekarang tergenang, biarlah kawasan yang sekarang tergenang iu menjadi kawasan genangan lumpur. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga genangan lumpur itu agar tidak meluas ke kawasan baru. Buat tanggul yang kuat (permanen), sementara upaya mengalirkan lumpur ke laut terus dilakukan. Untuk mengurangi beban, sebaiknya jangan lagi berharap bisa kembali lagi ke kawasan genangan dan hidup seperti sebelumnya. Terkait dengan pilihan ini, maka, segera relokasi jalan tol, pabrik-pabrik yang tergenang, relokasi jalur rel kereta api, dan berbagai hal lain yang sekarang tergenang. Ini semua karena kita tidak tahu kapan semburan lumpur itu akan berakhir.
Penutup
Akhir kata, saya hanya bisa mengatakan: “cepatlah mengambil keputusan, kita sedang perpacu dengan waktu”. Makin cepat akan makin baik. Karena kita akan dapat segera memperbaiki keadaan dengan suatu kepastian.
Sebaliknya, makin lama kita membiarkan persoalan ini di dalam ketidak-pastian, bahaya yang makin besar menyongsong kita, dan kita menghadapi bahaya itu dengan ketidak pastian. Bila seperti ini, bersiaplah untuk menderita lebih lama, dan rugi lebih besar. BUkan Ini kan yang diharapkan?
Salam dari Ancol, 1 September 2006
Wahyu
Thursday, August 31, 2006
REALISTIS MENGHADAPI LUMPUR PANAS SIDOARJO: 1

Gambar 1. Kondisi tanggul di Km 39 yang sedang diperbaiki setelah jebol pada hari Rabu 30 Agustus 2006. Sumber: Detikcom.
Persoalan banjir lumpur panas Sidoarjo dari hari ke hari semakin kritis dengan ancaman bahaya yang makin terus meningkat pula. Sementara semburan lumpur masih terus berlangsung, dan kita tidak tahu kapan akan berakhir, musim hujan makin mendekat. Semburan lumpur panas yang tanpa henti menyebabkan genangan lumpur yang makin tinggi. Tanggul telah dibuat, dan terus ditinggikan mengikuti tingginya permukaan genangan lumpur. Tapi kita tahu bahwa tanggul itu adalah tanggul sementara yang lemah (lihat Gambar 1), tidak memiliki pondasi yang kuat, karena hanya dibuat dari tumpukan timbunan tanah, tanpa kaki tertanam dengan kuat. Dengan kondisi yang demikian itu, tidaklah kita heran bila akhir-akhir ini makin sering terdengar kabar bahwa tanggul jebol.
Menghadapi persoalan yang makin lama semakin berbahaya itu, apa yang telah dilakukan Pemerintah? Rasanya tidak ada satu pun tindakan nyata Pemerintah untuk mengurangi bahaya lumpur itu selain dari menunggu. Menunggu lumpur itu dihentikan. Sementara itu, volume genangan lumpur dari hari hari terus bertambah, dan makin berbahaya. Sampai saat ini, praktis tidak ada kegiatan pengurangan volume lumpur yang berarti.
Berikut ini mari kita simak pendapat dari Menteri LH Rachmat Witoelar yang saya kutip langsung:
Kolam Lumpur Lapindo Bisa tampung Hingga 5 Bulan lebih
Rabu, 30 Agustus 2006 | 21:21 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/08/30/brk,20060830-82971,id.html
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar menegaskan pihaknya tetap melarang pembuangan lumpur Lapindo ke laut kecuali telah diolah (treatment) karena kolam penampungan masih bisa menampung lumpur hingga 5 bulan 17 hari.
“Kami tidak akan pernah mengijinkan dan sedikitpun tidak ada niat untuk itu, saya sangat keras pertahankan apapun juga agar tidak dimasukkan ke badan air” katanya sore tadi di ruang kerjanya.
Alasannya, masih tersedia 3 kolam penampungan yang cukup menampung semburan lumpur hingga 5 bulan 17 hari seluas 149 ha dengan daya tampung 8.335.605 m3 meskipun musim hujan di kolam penampungan. “Kalau cuma lumpur saja, tanpa air, bisa 2 tahun,” kata Rachmat. Seperti diketahui, semburan lumpur yang keluar 70 persen merupakan air. Konsekuensinya, harus merelokasi penduduk Desa Jatirejo. Saat ini, ketiga kolam itu telah terisi kurang lebih 4 juta m3 lumpur.
Berdasarkan rekomendasi ilmuwan, kata Rachmat, air hujan tidak akan bercampur dengan koloid lumpur, melainkan langsung mengalir sehingga tidak menambah volume pada kolam penampungan lumpur. Namun demikian, untuk meminimalkan dampak, air hujan yang “melewati” penampungan lumpur itu tetap akan diolah, meskipun diyakini air tersebut bersih tidak tercemar.
Selain itu, jika dibuang ke laut atau sungai, dapat mengancam kerusakan sektor perikanan laut dan tambak seluas 33.512,26 ha dari Sidoarjo hingga Probolinggo dan Madura serta menurunkan pendapatan 144.762 orang nelayan.
Selama kurun waktu hingga kolam penampungan penuh sekaligus persiapan jangka panjang jika semburan lumpur itu tidak bisa dihentikan, kata Rachmat, pihaknya telah meminta pembuatan water treatment plant. Agar air dan lumpur dipisahkan sehingga air dapat dibuang ke laut setelah diolah. Water treatment plant itu terdapat di utara sungai kali porong di sebelah selatan desa Besuki Kulon. “Whate ever the cost,” kata Rachmat.
Pihaknya juga akan memantau air hasil pengolahan yang akan dibuang ke laut agar betul-betul bersih dan aman serta sesuai baku mutu. Rencananya, dari pengolahan air lumpur, akan dibuat kolam akhir yang diisi dengan ikan untuk memastikan air yang akan dibuang bersih.
Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan, Gempur Adnan menambahkan, untuk pengolahan air, rencananya akan dipercayakan ke ITS yang dapat mengolah 5000 m3 per hari. “Kalau kapasitasnya kurang, tinggal tambah, ini cuma masalah dana,” katanya. Nur Aini
Lalu, mari kita simak berita berikut:
Sumber: Media Indonesia online
Copyright © 2006 Media Indonesia Online. All rights reserved.
Rabu, 30 Agustus 2006 22:35 WIB
Lingkungan
Pemerintah Izinkan Pembuangan Lumpur Lapindo ke Laut
Penulis: Mirza Andreas
JAKARTA--MIOL: Pemerintah akhirnya menyetujui pembuangan luapan lumpur PT Lapindo Brantas ke sungai dan laut, asal terlebih dulu dinetralkan dari zat berbahaya.
Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo kepada wartawan di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (30/8), usai mengikuti rapat terbatas soal penanganan luapan lumpur yang telah terjadi sejak awal Juni 2006 lalu. Rapat dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Presiden menginstruksikan penetralan lumpur dari bahan-bahan berbahaya jika nantinya akan dibuang ke laut atau sungai. Tapi, upaya ini belum perlu dilakukan mengingat luapan lumpur masih dapat ditampung di kolam," mantan Pangdam Brawijaya itu, mengutip pernyataan presiden.
Pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang ke laut, untuk menghindari terjadinya dampak buruk terhadap lingkungan. Pemerintah pun tidak mau menjadi sorotan dunia internasional jika terjadi pencemaran lingkungan akibat pembuangan ke laut tersebut.
"Hasil pengolahannya bisa dibuang ke laut atau sungai. Jangan sampai ada masyarakat di luar negeri atau internasional yang menuduh ada lumpur yang dibuang ke laut tapi belum diolah. Nah ini tugas Menteri Negara Lingkungan Hidup," ujarnya lagi.
Di tempat yang sama, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso yang juga ikut rapat itu mengatakan hasil pertemuan tadi pada prinsipnya mengijinkan pembuangan air dan lumpur yang sudah diolah.
"Pengolahan harus dilakukan. Saya sebagai pimpinan daerah menghendaki adanya suatu pengolahan dulu agar tidak membawa masalah di kemudian hari," ujarnya.
Menanggapi instruksi Presiden tersebut, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar menyatakan pembuangan lumpur ke sungai dan laut hanya akan dilakukan jika luapan lumpur sudah meluber dari tanggul penampung.
"Di tanggul bak penampungan lumpur, dibersihkan dulu dari bahan-bahan yang membahayakan. Airnya yang sudah netral baru dibuang ke tengah laut. Saat ini belum sampai ke situ karena lumpur belum meluap dari bak tanggul penampungan, Jadi belum ada yang dibuang ke laut," kata Rahmat. (Msc/OL-02).
Apakah pendapat itu realistis? MAri kita coba menilainya
Secara sederhana kita bisa menilai:
1. Tanpa hujan saja tanggul kolam lumpur yang sekarang ini sangat mudah jebol, apalagi bila ditambah dengan serangan air hujan. Apakah tanggul itu masih cukup kuat di musim hujan? (lihat Gambar 1)
2. Sekarang sudah kira-kira 3 bulan semburan lumpur terjadi. Bila lumpur menyembur dengan debit seperti sekarang ini, maka mempertahankan lumpur di darat sampai 5 bulan ke depan berarti kita harus mempertinggi tanggul satu setengah kali dari sekarang (bila kita mempertahan kan luas genangan lumpur), atau kita memperluas genangan lumpur satu setengah kali dari luas sekarang (bila kita mempertahankan ketinggian). Dengan kondisi tanggul yang sangat lemah seperti sekarang ini, mempertinggi tanggul adalah sangat mengkhawatirkan. Sementara bila kita memperluas genangan lumpur berarti kita memperluas tampungan air hujan bila musim hujan datang. Mungkin benar kata Pak Menteri bahwa air hujan tidak akan bercampur dengan lumpur dan terus mengalir. Bila benar demikian, maka aliran air akan menyerang tanggul. Bisakah kita banyangkan bila lumpur itu meluber ke daerah sekitarnya di musim hujan nanti?
3. Ok, katakanlah bahwa tanggul dapat bertahan (tidak jebol) dan dapat menampung semua lumpur yang keluar. Bila demikian lumpur itu akan diapakan? Kata Pak Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan, Gempur Adnan, rencananya akan mempercayakan ITS untuk mengolah 5000 m3 lumpur per hari. Apa yang akan terjadi? Bila saat ini saja kolam sudah terisi lumpur sebanyak 4 juta m3, dan bila kita asumsikan tidak ada penambahan lagi (alias semburan lumpur dapat dihentikan), maka kita membutuhkan waktu 800 hari untuk dapat mengolah semua lumpur yang sekarang ada. Artinya kita membutuhkan waktu sekiar 27 bulan (2 tahun 3 bulan) untuk mengolah habis lumpur itu. Lha, kalau semburan lumpur masih akan berjalan sampai akhir tahun ini (berarti masih harus mengumpulkan 4 juta m3 lagi), maka ini berarti kita membutuhkan waktu 4,5 tahun untuk membersihkan lumpur. Iya….., kalau lumpur itu berhenti di akhir tahun, kalau tidak juga dapat dihentikan? Makin panjanglah penderitaan penduduk yang pemukimannya sekarang tergenangi lumpur itu. Lalu, kalau mengikuti Pak Gempur Adnan, bila kapasitas kurang, tinggal tambah. Berapa banyak instalasi pengolah harus dibangun?
4. Katanya, 70% lumpur itu adalah kandungan air. Bila ada 4 juta m3 lumpur, maka bila lumpur itu berhasil dipisahkan dari air, akan diperoleh padatan sebanyak kira-kira 1 juta m3. Mau dikemanakan? Bikin Bata. Berapa banyak? Berapa lama habisnya?
5. Musim hujan akan segera tiba di bulan Oktober, sekarang 31 Agustus. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun instalasi pengolahan air yang dibayangkan itu? Seminggu? Dua minggu?, Tiga minggu? Sebulan? Sementara itu lumpur akan terus bertambah. Lalu, pertanyaannya sanggupkan kita menghadapi musim hujan nanti?
6. Benarkah ada zat-zat yang berbahaya di dalam lumpur itu? Sampai sekarang rasanya belum ada satu pun laporan hasil penelitian tentang zat-zat berbahaya apa yang ada di dalam lumpur itu. Padahal, telah tiga bulan lumpur itu menggenang di sana. Apakah kita tidur? Atau saya yang tidur sehingga tidak mengetahui informasinya? Tolong saya diberitahukan bila telah ada hasilnya.
7. Lalu, bila (air) lumpur dibuang ke laut, apakah lalu dibayangkan kita membuang air jenih ke laut? Rasanya tidak. Bila demikian, sudah siapkah kita dengan berbagai kemungkinan terburuk bila lumpur harus dibuang ke laut? Sudahkah kita mempelajari dinamika perairan Selat Madura? Sudahkan kita mempelajari pola arus di Selat Madura dengan baik?, sehingga kita dapat mengetahui kemana akan perginya lumpur itu bila dibuang ke sana dan kita dapat memperkirakan dengan baik dampaknya. Sudah kah kita mempelajari di titik mana lumpur itu di keluarkan sehingga berdampak minimal terhadap perairan pesisir? Bila semua itu belum dilakukan, sebaiknya segera lakukan. Selama ini nampaknya hanya ada perdebatan tentang boleh atau tidak membuang lumpur ke laut, tetapi kita tidak pernah berusaha mempelajari dengan seksama dampak dari berbagai alternatif pilihan.
8. Akhirnya, apakah lumpur itu harus luber dulu baru diupayakan untuk membuangnya ke laut? Apabila hal ini yang dilakukan saya hanya bisa mengatakan “pengambil keputusan tidak berpikir”.
Lalu Bagaimana? Bagaimana kalau di buang ke laut?
Kita tunggu seri ke-2 tulisan ini.
Salam dari Ancol, 31 Agustus 2006
Wahyu
Wednesday, August 16, 2006
Banjir Lumpur Porong Memasuki Masa Kritis
1. Volume genangan lumpur makin besar, dan genangan lumpur makin tinggi; sementara itu di pihak lain, tanggul makin sering jebol.
2. Dengan volume lumpur yang makin besar dan tanggul yang mulai sering jebol itu, kita menyongsong datangnya musim hujan.
3. Penduduk mulai tidak sabar. Ini tampak dari terjadinya demontrasi dan menghadangan kereta api.
4. Telah terjadi konflik horizontal sesama warga, antara yang menyutujui tanggul dijebol dan yang tidak menyetujuinya.
5. Di tengah-tengah keadaan yang semakin mendesaknya seperti di atas, pihak yang terkait dan berwenang masih belum dapat memutuskan suatu langkah yang pasti untuk menyelesaikan persoalan banjir lumpur itu.
Salam dari Ancol,
Wahyu
Thursday, July 27, 2006
"Matahari mengelilingi Bumi"? atau "Bumi mengelilingi Matahari"?
Kutipan ini adalah kutipan diskusi tentang pendapat yang menyatakan bahwa "Matahari Mengelilingi Bumi". Diskusi ini menurut saya sangat menarik, karena memperlihatkan bagaimana peranan akal, logika, dan prinsip-pinsip ilmu pengetahuan diperbincangkan. Keputusan untuk memilih saya serahkan kepada anda, hadirin sekalian.
Inilah diskusi itu:
---------------------
E-mail: 1
- In fisika_indonesia@yahoogroups.com , marsandhy hariyanto, akh_marsha85@...> wrote:
Salam Antariksa,
Big trouble for Astronomi Indonesia!! Kini saatnya Komunitas Astronomi Indonesia ditunggu actionnya: Sudah lama saya tunggu buku2 astronomi karya anak negeri... eh begitu muncul malah menghebohkan..... Salah seorang saudara kita : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf (apa dia pernah belajar astronomi???) telah berhasil membuat kepastian baru mengenai fakta sistem tata surya kita. Ya keberhasilan itu adalah dengan diterbitkannya buku dengan judul: "Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur'an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari" yang diterbitkan oleh Pustaka Al Furqon dalam edisi lux. Bahkan sebentar lagi Bedah Buku di Jakarta :
Tengok infonya :
" Matahari Mengelilingi Bumi " Sebuah Kepastian dari al-Quran & as-Sunnah serta Bantahan Terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari ? Bersama : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf ( Penulis )
Hari / Tgl. : Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1427H - 8 Juli 2006
Waktu : 16.00 - 18.00 WIB
Tempat : Masjid Ash Shalihin, Jl. Walang Baru Raya No. 25 Koja -
Jakarta Utara
Rute Kendaraan :
Dari Terminal Tg. Priok, Mambo, Permai & Plumpang (Ps. Ular) naik KWK 09 jurusan Walang Baru turun di lokasi.
Dari Pulo Gadung & Semper naik Metromini 41 turun di halte Apotik Dinar, naik KWK 09 jurusan Walang Baru turun di lokasi.
Dari Lagoa, Jaya & Islamic Center KWK 06 jurusan Walang Baru turun di lokasi.
Informasi :
Pustaka An Nuur : 021 7019 0901
Pustaka Ammar : 021 6845 8034
Dan apa yang terjadi? Hampir di tiap daerah buku ini dibedah dan jelas banyak yg datang.... Bukunya larisssss...... Apa akibatnya? Ya jelas, dalam keawaman masyarakat kita ttg astronomi, keraguan yang mereka dapatkan. Sungguh.. hal ini amat meresahkan karena tidak sedikit akhirnya masyarakat yang mempercayai fahaman tsb.! bakan lagi sebuah forum diskusi internet sudah mengarah kepada cap 'kafir' bagi yang tidak percaya dengan buku tsb. "Sebuah Kepastian Al Quran.." begitu kata penulis..! Bahkan saya banyak mendapat sms dari kawan2 yang menanyakan hal ini bahkan menantang saya diskusi! Saya juga sempat mendapat imel dari kawan dari USM Malaysia dengan judul: PENEMUAN BESAR DI INDONESIA " Matahari ternyata mengelilingi Bumi " (hehehe dalam nada canda tentunya....). Dan malu rasanya hal yang beginian menjadi topik bahasan lagi. Jelas... astronomi kita ketinggalan jauh dengan dengan negeri jiran... Mungkin sebaiknya buku ini dibredel sebab "meresahkan". Di Malaysia buku ini memang dilarang beredar begitu kata kawan di Malaysia.
Ini yang saya khawatirkan meresahkan itu :
"....Mengenai apa yang dikatakan ahli falaq sekarang ini (bahwa bumi mengelilingi matahari), keterangannya belum mengantarkan kami sampai tingkat yakin, sehingga tidak dapat menolak dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah nabi kami. Kami sampaikan bagi pengajar pelajaran geografi, jelaskan kepada para murid bahwa dzahir al-Qur'an al-Karim dan as-Sunnah menjelaskan bahwa malam dan siang terjadi akibat dari peredaran matahari terhadap bumi, bukan sebaliknya. Jika para murid bertanya, mana yang harus kami ambil, apakah dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah atau apa yang mereka (ahli falaq) anggap nyata bahwa (bumi mengitari matahari)? Jawabnya, kita mengambil dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah, karena al-Qur'an adalah Kalamullah I (ucapan Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu, alam beserta segala isinya dan keadaanya, geraknya, dan diamnya. Firman-Nya adalah sebenar-benar perkataan dan paling jelas. Dia menurunkan al-Qur'an sebagai penjelas segala sesuatu. Allah mengabarkan bahwa Dia menjelaskannya kepada hamba agar mereka tidak tersesat. Sedangkan as-Sunnah, ia adalah ucapan utusan Tuhan semesta alam. Makhluk yang paling tahu dengan hukum-hukum dan perbuatan Tuhan-Nya. Tidaklah berbicara tentang hal ini melainkan dengan wahyu dari Allah U, karena tidak ada jalan untuk mengetahuinya melainkan dengan wahyu. ...."
Berikut link yg juga membahas buku tsb:
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-22-1188 (link ini tidak berhasil saya akses pada tanggal 27 Juli 2006. "wahyu")
========= BELI SAJA BUKUNYA KALO PINGIN MALU.....==============
Saya jadi curiga jangan2 memang penulisnya sengaja membuat opini agar bukunya laris???? . Sebab 2 tahun lalu hoax seperti ini juga sempat muncul bahkan dikupas habis di milis Falak-Net. Tapiiiii?. inikan memalukan umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum?? Apalagi membawa embel2 "kepastian"??????. Nah buat penerbit dan pengarangnya? sudahkah anda fikirkan apa akibat dari larisnya buku yang anda terbitkan?. Anda memang mendapat banyak rezeki dari buku yg anda jual??? tapi masyarakat hanya akan mendapat pembodohan2 yang tiada guna, tolong?jangan bawa kata2 "KEPASTIAN" sungguh saya tidak terima? nabi saja tidak pernah demikian?. ( apa ini kebebasan jurnalisme?? trick dagang??? ).
Ohhh.. mengapa peristiwa memalukan ini bisa terjadi di Indonesia???? Seandainya astronomi memasyarakat di Indonesia mungkin hal ini tidak terjadi....! Maybe.
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club (JAC)
Yogyakarta - Indonesia
http://groups.yahoo.com/goup/jogja_astroclub/
"Turut Memasyarakatkan Astronomi di Indonesia"
---------------------
E-mail: 2. Tanggapan.
From: zugarsonic
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, July 27, 2006 4:54 AM
Subject: [FISIKA] Re: Terusan: [astronomi_indonesia] Matahari Mengelilingi Bumi...!!
Berhubung ini milis fisika, maka saya akan membahasnya dalam sudut pandang ilmu fisika. Saya berharap tulisan ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi rekan-2 yang mempelajari astronomi.
Artikel di bawah ini saya tulis pada tahun 2003 dan dimuat di majalah INTISARI bulan Mei th 2004 hlm 141, pada kolom FISIKAMANIA:
Gerak Relatif Bumi & Matahari
Selama ini kita meyakini bahwa Bumi bergerak mengelilingi matahari, sama yakinnya dengan para ilmuwan zaman dulu yang menganggap Mataharilah yang mengelilingi Bumi. Apa reaksi Anda kalau ternyata keyakinan kita itu salah? Ternyata Albert Einstein yang terkenal dengan teori Relativitas itu sudah memaparkan penjelasan ini 100 tahun yang lalu !
Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus mengerti dulu apa yang dimaksud dengan gerak dalam ilmu fisika. Jika kita menyatakan suatu benda bergerak, maka ada benda yang kedudukannya berubah relatif terhadap benda lain. Misalnya, pedagang rokok dalam kereta api yang bergerak relatif terhadap kereta, kereta bergerak relatif terhadap tanah (Bumi), Bumi bergerak relatif terhadap Matahari, Matahari bergerak relatif terhadap Galaksi Bintang, dan seterusnya. Dengan begitu, untuk menyatakan bahwa sesuatu bergerak, selalu menyangkut kerangka khusus sebagai acuan. Setiap kerangka yang diambil mempunyai keabsahan yang sama, meskipun kerangka yang satu bisa lebih memudahkan daripada kerangka yang lain untuk suatu kasus tertentu. Semua gerak adalah relatif, tidak ada gerak absolut. Jadi, sangat penting disini untuk menentukan suatu kerangka acuan tertentu
dalam perhitungan fisika.
Teori Relativitas muncul sebagai hasil analisis konsekuensi fisis yang tersirat oleh ketiadaan kerangka acuan universal. Teori yang dikembangkan tahun 1905 ini bersandar pada dua postulat. Salah satunya, semua hukum fisika sama dalam semua kerangka inersial. Postulat ini menyatakan ketiadaan kerangka acuan yang universal. Jika hukum fisika berbeda untuk pengamat yang berbeda dalam keadaan bergerak relatif, maka kita dapat menentukan mana yang dalam keadaan “diam” dan mana yang “bergerak” dari perbedaan tersebut. Namun, karena tidak ada kerangka acuan universal, perbedaan tadi tiada.
Jadi, apa arti itu semua? Kita sah-sah saja menyatakan bahwa Matahari bergerak mengelilingi Bumi jika acuannya adalah Bumi. Begitu pula sebaliknya. Kalau selama ini kita dipaksa “mengakui” bahwa "Bumilah yang mengelilingi Matahari", hal itu disebabkan karena lebih memudahkan dalam perhitungan fisika!!
Sumber Referensi:
- Buku Modern Physics (Arthur Beiser), terjemahan oleh The How Liong, PhD . Penerbit Erlangga
- Prof.Dr. Parangtopo (mantan Dekan FMIPA Universitas Indonesia, pada waktu memberikan sambutan kpd para mahasiswa baru di Balairung UI depok pd th 1988)
- Buku otobiografi Albert Einstein (Penerbitnya saya lupa karena bukunya dipinjam oleh teman saya I Nyoman Jamin (Fisika UI 88) pada sekitar th 1990-an dan belum dikembalikan sampai sekarang, jika anda membaca ini tolong dikembalikan ya)
Salam Fisika
Paulus Sugiharto B, S.Si
--------------------
E-mail: 3. Tanggapan.
On 7/27/06, A. Marconi
Logika formal dengan bersandar kepada postulat: "Salah satunya, semua hukum fisika sama dalam semua kerangka inersial". Postulat ini menyatakan ketiadaan kerangka acuan yang universal, tampaknya mendukung pengesahan pembenaran Ptolemeus (bumi dikelilingi oleh matahari.
Namun pembenaran demikian tidak memenuhi tuntutan logika dialektis yang menjadi ciri utama logika alam semesta. Tuntutan dialektika menyangkut suatu kelancaran logis formal dan relasi mekanika quantum, di mana berlaku gerak photon sebagai frame of reference yang oleh Einstein ditandai dengan huruf "c".
Analisis ini dapat kita temukan pada pola-pola pemikiran Einstein "The Meaning of Relativity", Albert Einstein and Leopold Infeld "The Evolution of Physics" dan Sir Arthur Eddington "New Pathways in Science" dan untuk fisika modern lebih cenderung meneliti pemikiran John Archibald Wheeler "Gravitation" di mana Wheeler banyak menekankan titik tolak anthropic.
Salam quantum,
A.M
------------------
Email: 4. Tanggapan
fisika_indonesia@yahoogroups.com
"Muhammad Hikam"
Thu, 27 Jul 2006 14:41:34 +0700
Re: [FISIKA] Re: Terusan: [astronomi_indonesia] Matahari Mengelilingi Bumi...!!
Tentu saja tidak ada larangan kalau ada yang berpendapat bahwa Matahari mengelilingi Bumi ketimbang Bumi mengelilingi Matahari. Kalau diambil Bumi sebagai frame of reference diam maka jadilah Matahari mengelilingi bumi, kalau Matahari dianggap sebagai titik diamnya maka jadilah Bumi mengelilingi Matahari.
The choice is yours. Pilihan Bumi sebagai frame of reference nol akan berakibat gerakan planet menjadi meliuk-liuk, tidak lagi "indah" seperti ellips, hitungan gerak bintang-bintang juga semakin susah. Dan fenomena Fisika tidak lagi mudah dan indah. Bayangkan saja anda sedang naik bus, lalu ambil bus sebagai frame of reference diam, maka semua yang lain berlarian, temasuk pohon-pohon di jalan. Tentu saja tidak ada larangan untuk membuat bus sebagai titik referensi diam, cuman ngitungnya jadi tambah rumit.
----------
Demikian diskusi tentang gerakan relatif Bumi dan Matahari.
Jadi, "Bumi Mengelilingi Matahari" atau "Matahari Mengelilingi Bumi"?
Salam dari Ancol, 27 Juli 2006
Wahyu
Tuesday, July 25, 2006
Merapi Mereda. Selanjutnya ?

Gambar 1. Pola seismisitas Gunung Merapi pada periode erupsi April - Juli 2006.
Di dalam gambar tersebut tampak bahwa ketika status aktifitas Merapi diturunkan pada tanggal 12 Juli 2006, aktifitas erupsi Merapi telah merada. Hal ini ditunjukkan oleh tidak ada lagi kejadian Gempa Multifase dan Awan Panas. Gempa Multi fase mengindikasikan naiknya magma ke permukaan. Dengan tidak adanya gejala tersebut maka dapat dikatakan telah tidak terjadi lagi proses naiknya magma di dalam tubuh gunungapi tersebut. Sementara itu, Awan panas yang merupakan indikasi dari keluarnya magma dari juga telah tidak terjadi lagi setelah tanggal 12 Juli 2006.
Sementara itu, Gempa Tektonik dan Guguran masih terjadi. Dalam hubungannya dengan erupsi gunungapi, Gempa Tektonik tidak memiliki hubungan sebab akibat secara langsung dengan erupsi gunungapi. Dalam pada itu, Guguran yang masih terjadi ada kemungkinan terjadi karena guncangan gempa pada kubah lava yang belum stabil.
Selanjutnya, bila kecenderungan ini terus berlanjut. Maka, dalam 2 minggu ke depan, setelah Guguran tidak terjadi lagi, tingkat peringatan bahaya Merapi kembali dapat diturunkan menjadi Waspada. Sayangnya, ketika tulisan ini dibuat, website dari VSI yang menjadi sumber utama data analisis ini, sedang down yang dimulai sejak 3 hari yang lalu, sehingga penulis tidak mengetahui perkembangan Gunung Merapi yang paling akhir.
-------
Akhirnya, dari Gambar 1 di atas dapat disimpulkan bahwa:
- Gempa Multifase dan Awan Panas adalah indikator penting dalam penentuan status erupsi Gunung Merapi.
- Gempa Tektonik dapat mempengaruhi aktifitas erupsi gunungapi. Hal ini terlihat jelas pada erupsi Gunung Merapi periode ini. Tampak aktifitas erupsi meningkat setelah gempa tanggal 27 Mei 2006.
------
Selanjutnya Apa?
Erupsi gunungapi itu dapat dipastikan menghasilkan sangat banyak endapan material volkanik di lerengnya dan kawasan sekitar puncaknya. Material tersebut adalah material yang lepas dan mudah longsor. Dikhawatirkan, bila musim hujan mendatang tiba, akan terjadi aliran LAHAR. Kewaspadaan perlu bagi penduduk yang melakukan aktifitas di sungai-sungai yang berhului di kawasan Gunung Merapi, serta bagi pemukiman yang ada di dekat aliran sungai-sungai itu.
Jadi, setelah lepas dari bahaya langsung dari erupsi Gunung Merapi, sekarang kita perlu kembali waspada terhadap bahaya yang tidak langsung, yang sangat mungkin akan datang dalam bentuk aliran Lahar dikala musim hujan tiba.
Salam dari Ancol, 25 Juli 2006
Wahyu
Monday, July 24, 2006
Berbagai Hal Tentang Tsunami
Untuk memahami lebih jauh tentang gempa dan tsunami, ada baiknya kita simak apa yang ditulis oleh Bapak Ma'rufin Sudibyo berikut ini:
--------------------
Sedikit catatan untuk gempa dan tsunami Samudera Hindia 2006.
1. Magnitude
Ada dua versi soal magnitude gempa ini. BMG menyebut angka 6,8 skala Richter sementara versi terakhir USGS malah lebih besar sampe 7,7. Mana yang benar ?
Keduanya benar. Analoginya sama dengan pertanyaan berapa suhu badan manusia yang sehat. Bila menggunakan termometer bersatuan derajat Celcius, jawabannya 36 - 37. Dan bila menggunakan satuan derajat Fahrenheit jawabannya 98 - 99.
Sama halnya dengan gempa. BMG selalu menggunakan magnitude bertipe body-wave magnitude (Mb), yang diberi satuan skala Richter (SR) karena mampu menyajikan hasil yang cepat (hanya 6 menit setelah gempa). Kelemahannya, nilai2 yang disajikan magnitude tipe ini memiliki level batas sehingga sulit untuk mendeskripsikan gempa2 besar. Sementara USGS memilih menggunakan magnitude bertipe moment magnitude (Mw) karena ketiadaan batas teratas, meski konsekuensinya membutuhkan waktu analisa lebih lama. Moment magnitude tidak memiliki satuan, namun di Indonesia biasa dikenakan ' satuan ' skala Magnitudo (SM) guna membedakannya dengan yang lain.
Jadi lengkapnya, gempa Samudera Hindia 17 Juli 2006 memiliki Magnitude Mb = 6,8 SR dan Mw = 7,7. Moment magnitude memang selalu lebih besar dari body-wave magnitude. Kalo di sejumlah media disebutkan berkekuatan 7,7 skala Richter, nampaknya informasi perbedaan tipe magnitude ini belum sampai ke tangan mereka.
2. Energi
Dengan Mw = 7,7 maka berdasarkan persamaan Kanamori : log E = 1,5 M + 4,8 didapatkan energi gempa sebesar 22.390 TeraJoule atau 5,35 megaton TNT. Jika dibandingkan dengan energi bom Little Boy yang diledakkan di atas Hiroshima (20 kiloton), gempa Samudera Hindia 2006 ini 268 kali lebih dahsyat.
3. Patahan
Adanya moment magnitude dalam gempa ini jelas menunjukkan sumber gempa berupa patahan. Dr. Hamzah Latif dkk (Tsunami Research Group, ITB) menyebut patahan ini memiliki panjang 80 km dan lebar 60 km. Sementara analisis fokal USGS Rapid Moment-Tensor Solution memastikan patahan ini adalah patahan naik (thrust) dengan arah barat laut - tenggara atau paralel dengan arah palung laut didekatnya. Lokasi patahan ada di lereng selatan pegunungan bawah laut yang membentang dari P. Timor - P. Sumba hingga Kep. Mentawai - P. Nias - P Simeulue dan disini memang biasa terjadi patahan2 naik.
Lokasi patahan hanya berjarak sekitar 50 km dari palung Jawa, tempat lempeng Australia menukik ke bawah lempeng Eurasia. Terhadap daratan terdekat (Pangandaran) patahan ini berjarak sekitar 200 km.
Dengan moment magnitude 7,7 dan luas patahan 5.600 km persegi, pergeseran total yang terjadi dalam patahan ini mencapai 1,97 meter. Sebagai pembanding, dalam gempa Yogya 27 Mei 2006 lalu, total pergeseran tidak melebihi 10 cm.
4. Kerusakan
USGS Community Internet Intensity Map menyebut guncangan gempa ini di Cilacap (300 km dari episentrum) memiliki skala 4 MMI, demikian pula di Yogya (500 km dari episentrum). Menggunakan persamaan intensitas Gutenberg - Richter dan persamaan atenuasi dengan koefisien atenuasi = - 0,0034. Dari sini didapatkan intensitas maksimal sebesar 4 - 5 MMI dengan dampak kerusakan bersifat minor dan diderita pantai selatan Jawa dari Pangandaran sampai Cilacap. Model komputer USGS Shake Map juga menyajikan hasil tak jauh berbeda. Bandingkan dengan gempa Yogya kemarin dimana tercatat intensitas maksimal sebesar 8 MMI di Bantul. Perbedaan ini bisa dipahami mengingat patahan Opak terletak di daratan, sementara patahan produk gempa Samudera Hindia 2006 ini jauh di tengah laut.
Intensitas gempa berkait erat dengan percepatan puncak yang diderita tanah akibat melintasnya gelombang gempa. Dengan persamaan Gutenberg - Richter diketahui percepatan maksimal di Cilacap sampai Pangandaran berada dalam rentang 2 - 6 % G (G = percepatan gravitasi Bumi = 981 cm.detik^-2). USGS Peak Acceleration Map memberikan nilai 2 % G untuk daerah yang sama. Dalam peta ini juga nampak distribusi gelombang gempa Samudera Hindia 2006 ini relatif homogen, mungkin karena tidak terpolarisasi seperti gempa Yogya yang menghasilkan distribusi gelombang 'berlekuk-lekuk'.
5. Tsunami
Agar tsunami bisa terjadi, magnitude gempa harus melebihi batas minimal yang diatur persamaan Iida : M = 6,42 + 0,01 H. Dengan kedalaman hiposentrum 33 km (versi USGS 48 km) magnitude minimal pencetus tsunami merusak adalah 6,7 - 6,9. Selain itu gempa juga harus menghasilkan deformasi vertikal yang besar di dasar laut, sehingga patahan sumber gempa harus berupa patahan naik (thrust) atau patahan turun (normal). Kedua syarat ini terpenuhi dalam gempa Samudera Hindia 2006.
Patahan naik yang menjadi sumber gempa membujur ke arah barat laut - tenggara, sehingga tsunami yang ditimbulkannya lebih mengarah ke timur laut – barat daya. Pergeseran total dalam patahan naik ini mencapai 1,97 meter. Menurut Dr. George Pararas - Carayannis, pergeseran patahan mengandung dua komponen : komponen mendatar (x) dan komponen vertikal (z). Umumnya gempa memiliki rasio x / z = 10 / 3, sehingga besarnya pergeseran vertikal dalam patahan ini mencapai 0,566 meter.
Anggap area pembangkitan tsunami identik dengan luas patahan naik yang terbentuk. Maka menurut persamaan Carayannis : E = (1/6) x rho x g x z^2, tsunami Samudera Hindia 2006 memiliki energi 3.242 Giga Joule atau 0,77 kiloton TNT, tidak berbeda jauh dengan energi tsunami dalam gempa Banyuwangi 2 Juni 1994 (Mw = 7,2). Karena itu tsunami ini bersifat lokal dan tidak bisa disandingkan dengan tsunami besar produk gempa megathrust 26 Desember 2004 yang energinya mencapai 2 megaton TNT.
Radius jangkauan tsunami ini mencapai 1.100 km. Ketinggian tsunami tercatat 20 cm di Bali. Di Pangandaran - Teluk Penyu, yang tepat berada di timur laut sumber gempa, tinggi tsunami disebut mencapai 1 - 2 meter (ada pula yang menyebut 5 - 7 meter). Sementara di Pulau Christmas dan Pulau Cocos yang terletak di sebelah barat daya sumber gempa, tinggi tsunami dilaporkan hanya 60 cm dan 10 cm saja. Nampaknya sebagian besar energi tsunami Samudera Hindia 2006 ini dihantarkan ke arah timur laut.
Kawasan Pangandaran - Teluk Penyu dilaporkan tergenangi air bah hingga 500 meter ke daratan. Menggunakan persamaannya Bretschneider dan Wybro : X max = 1400 (yo/10)^(4/3), tinggi tsunami di garis pantai (yo) memang sekitar 5 meter. Namun ada pula yang menyebut Cilacap timur tergenang air hingga 3.000 meter ke daratan, yang berkorelasi dengan yo = 18 meter. Bentuk garis pantai dari Pangandaran – Teluk Penyu yang berteluk membuat massa air laut lebih berdesakan disini dibanding pantai yang datar dan akibatnya tsunami mengalami penguatan (run-up) lebih besar hingga ketinggiannya di garis pantai pun jauh lebih besar. Hal yang sama dijumpai di Parangtritis, dimana dilaporkan dalam media lokal (WAWASAN) tergenang air hingga sejauh 300 m, yang berkorelasi
dengan yo = 3 meter.
Ada kemungkinan gempa Samudera Hindia 2006 ini juga diikuti dengan longsoran besar di dasar laut, yang melipatgandakan jangkauan dan daya rusak tsunami. Dalam sejarah, gempa yang lebih kecil seperti gempa Flores (12 Desember 1992, Mw = 7,2) diikuti longsoran dasar laut dan garis pantai utara P. Flores sehingga muncul tsunami dengan ketinggian maksimal luar biasa : 26 meter. Dalam gempa megathrust 26 Desember 2004, tingginya tsunami di pantai barat Aceh (yang mencapai 34 meter) juga disebabkan oleh terjadinya longsoran sangat besar di dasar laut. Makanya dalam gempa megathrust 28 Mei 2005 yang mengguncang Nias, karena tidak disertai longsoran dan juga pergeseran totalnya relatif mendatar, tsunami yang timbul " nyaris tidak seberapa ".
Periode tsunami Samudra Hindia 2006 ini mencapai 28 menit, berdasar catatan di Benoa (Bali). Dengan demikian, karena kecepatan rata2 tsunami 800 km/jam (di laut dalam), panjang gelombangnya adalah 370 km.
6. Fireball
Bersamaan dengan datangnya tsunami di pantai selatan Jawa, terdeteksi beberapa fenomena aneh. Sejumlah penduduk Pangandaran menyaksikan munculnya fireball (bola api raksasa) berwarna kemerahan di atas laut. Hal yang sama juga disaksikan penduduk pantai Petanahan (Kebumen). Di Parangtritis, kedatangan tsunami bahkan didahului dengan dentuman keras. Beberapa pihak berspekulasi fenomena ini merupakan pertanda adanya ujicoba nuklir di Samudra Hindia, yang salah satu dampaknya memang bisa membangkitkan tsunami.
Benar tidaknya biarlah pihak yang berkompeten (dalam hal ini BATAN atau LIPI) yang membuktikan. Namun tsunami produk ledakan nuklir, demikian juga tsunami produk letusan gunung berapi, memiliki sifat sangat berbeda dibanding tsunami produk gempa tektonik. Carayannis menyebut panjang gelombang awal tsunami produk letusan gunung berapi bergantung kepada diameter kaldera yang terbentuk. Dalam letusan dahsyat Krakatau 1883 yang menghasilkan kaldera berdiameter 7 km, periode tsunaminya tidak lebih dari 5 menit. Analisis menunjukkan dengan kecepatan penjalaran 90 km / jam (karena terjadi di laut dangkal), panjang gelombang tsunami Krakatau ini memang tidak lebih dari 7 km. Selain itu ketinggian tsunami mengalami penyusutan cukup drastis seiring dengan bertambahnya jarak. Tsunami Krakatau 1883 memiliki tinggi 30 meter di Anyer - Merak, namun menyusut menjadi 2 meter saja begitu tiba di Jakarta. Di Surabaya tinggi tsunami Karakatau tinggal 20 cm saja. Kedua sifat ini juga dimiliki tsunami produk ledakan nuklir.
Sementara tsunami Samudera Hindia 2006 jauh berbeda. Panjang gelombangnya mencapai 370 km dengan periode 28 menit. Jika tsunami ini diandaikan terbentuk oleh ledakan bom nuklir, bom itu harus mampu memproduksi kawah di dasar laut dengan diameter 370 km. Untuk keperluan itu dibutuhkan bom yang mampu melepaskan energi ledakan sebesar 160 juta megaton TNT. Energi sebesar itu hanya bisa dihasilkan oleh tumbukan asteroid raksasa. Sebagai gambaran, jika 27.000 hululedak berkepala nuklir yang ada di Bumi saat ini dikumpulkan dan diledakkan bersama-sama, energinya paling banter 'hanya' 20.000 megaton TNT.
Kemungkinan lain penyebab bola api itu bisa berupa terlepasnya gas alam (baca : metana) dalam jumlah besar ke angkasa. Pelepasan ini biasanya selalu beriringan dengan terbentuknya mud volcano alias banjir lumpur (seperti yang terjadi di Porong). Fenomena ini pernah teramati pada bulan Oktober 2001 di tepi Laut Kaspia, Azerbaijan, ketika api yang luar biasa besar (berdiameter 300 meter) mendadak keluar dari pucuk sebuah bukit yang dulunya gunung lumpur. Api menyala hingga 30 menit kemudian.
7. Epilog
Tsunami sebenarnya bukanlah fenomena asing di pantai selatan Jawa. Di tahun 1904 kawasan Pangandaran - Teluk Penyu pun pernah tergulung tsunami produk gempa dengan Mw 8 (menurut USGS) yang pusat gempanya di sebelah barat pusat gempa 2006 ini. Di timur, bekas2 tsunami juga pernah ditemui di Pacitan. Kasus paling gres terjadi di Banyuwangi, 1994 silam.
Suka atau tidak, kita yang hidup di Indonesia, selalu harus berurusan dengan gempa dan tsunami. Keduanya adalah siklus alam, hanya saja barangkali kita yang belum bisa memahaminya. Kepanikan yang muncul di Cilacap - Pangandaran, juga di Yogya dalam gempa kemarin, barangkali akan terus berulang di masa depan ketika kita tidak juga memahami siklus alam yang kita diami dan mencoba 'bersahabat' dengannya.
Harapannya, semoga ada diseminasi informasi yang lebih luas. Bagaimana melindungi diri dan orang lain dari gempa, dan juga dari terjangan tsunami. Bukan sekedar menanti munculnya ratap tangis.
Demikian, semoga catatan kecil ini berguna. Terima kasih sekali jika ada yang mau melengkapinya, hingga kita bisa belajar lebih banyak lagi akan Bumi dan jagat raya ini.
Salam
Ma'rufin
---------------------
Semoga bermanfaat.
Salam dari Ancol,
Wahyu
Catatan: Kutipan tulisan Bapak Ma'rufin tersebut dimuat atas izin yang diberikan kepada penulis via email tertanggal 21 Juli 2006.
Monday, July 03, 2006
Kapan Aktifitas Erupsi Gunung Merapi Mereda?
Aktifitas merapi terus meningkat. Aktifitas seismik semula didominasi oleh gempa multifase. Selanjutnya, sejak 12 April 2006 guguran lava terus meningkat jumlah kejadiannya. Akhirnya, pada tanggal 13 Mei 2006, seiring dengan munculnya Awan Panas (Wedus Gembel), status Gunung Merapi kembali ditingkatkan menjadi AWAS, yaitu tingkat peringatan bahaya yang tertinggi, tingkat 4. Mulailah hari-hari pengungsian yang penuh dengan ketidak-pastian bagi penduduk yang berdiam di lereng Merapi.
Pemerintah, baik pusat maupun daerah, dan masyarakat telah bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk dari erupsi Merapi. Tetapi, ke-engganan penduduk untuk mengungsi dan kejemuan menunggu di lokasi pegungsian menjadi masalah tersendiri yang tidak sederhana. Satu-satunya harapan utama adalah kabar baik dari Merapi tentang meredanya aktifitas erupsi gunungapi itu.
Pada tanggal 27 Mei 2006, terjadi gempa tektonik yang mengguncang kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gempa tersebut mempengaruhi aktifitas erupsi Merapi yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kejadian Awan Panas dan Gempa Guguran selama dua minggu.
Pada tanggal 13 Juni 2006, menyusul kecenderungan menurunnya kejadian Awan Panas sejak tanggal 8 sampai 12 Juni 2006, status kewaspadaan terhadap Merapi diturunkan menjadi SIAGA. Namun, pada tanggal 14 Juni 2006, status kembali ditingkatkan menjadi AWAS menyusul kembali meningkatnya aktifitas seismik kejadian Awan Panas di Merapi.
Beberapa hari terakhir ini, Gunung Merapi memperlihatkan aktifitas erupsi yang menurun. Jumlah kejadian Awan Panas, Gempa Multifase dan Gempa Guguran menunjukkan kecenderungan menurun. Meskipun demikian, belajar dari pengalaman sebelumnya, status AWAS tetap dipertahankan. Ini adalah langkah yang tepat, karena meskipun menunjukkan kecenderungan menurun, hadirnya ketiga parameter aktifitas erupsi itu masih menunjukkan bahwa Merapi masih aktif.
Gambar
Sekarang, pertanyaannya adalah “Kapan erupsi Gunung Merapi periode ini mereda, dan para pengungsi diperbolehkan pulang?”.
Jawaban atas pertanyan itu dapat kita peroleh dari gambaran aktifitas seismik dan kejadian Awan Panas di Merapi. Menurut hemat penulis, secara sederhana, “apabila kemunculan suatu fenomena dijadikan dasar bagi peningkatan status kewaspadaan terhadap erupsi Gunung Merapi, maka menghilangnya fenomena-fenomena itu harus pula dijadikan dasar bagi penurunan status kewaspadaan”.
Berdasarkan pernyataan di atas maka:
1). Status AWAS dapat diturunkan menjadi SIAGA bila tidak terjadi lagi Awan Panas, dan bersamaan dengan itu juga terjadi pengurangan jumlah kejadian Gempa Guguran secara signifikan.
2). Status SIAGA dapat diturunkan menjadi WASPADA bila kejadian Gempa Guguran terus menunjukkan kecenderungan terus menurun dan jumlah kejadiannya menjadi sangat rendah atau tidak ada kejadian sama sekali.
3). Status WASPADA dapat diturunkan menjadi NORMAL bila setelah dalam jangka waktu tertentu aktifitas Merapi berada dalam kondisi aktifitas normalnya seperti sebelum periode erupsi ini.
Dalam penurunan tingkat kewaspadaan, pengenalan kita akan sejarah erupsi Merapi menjadi penting. Perlu kita ketahui apakah dalam sejarah erupsi Merapi pernah ada kejadian “terjadi erupsi yang meningkat tiba-tiba setelah beberapa hari memperlihatkan tidak ada kejadian Awan Panas”. Kewaspadaan akan hal ini akan menentukan berapa hari harus menunggu setelah indikasi utama suatu status menghilang, sehingga penurunan status dapat ditetapkan.
Dengan kecenderungan aktifitas Merapi seperti sekarang, maka berdasarkan pada rekaman data seismisitasnya (Gambar), kita dapat berharap dalam 2 minggu ini status kewaspadaan dapat diturunkan dari AWAS menjadi SIAGA. Bila kecenderungan terus berlanjut, 2 minggu selanjutnya, status tersebut dapat diturunkan lagi menjadi WASPADA.
Semoga datang kabar baik dari Merapi.
Salam dari Ancol, 4 Juli 2006
WBS
Thursday, June 15, 2006
Wednesday, June 07, 2006
Gempa Meningkatkan Aktifitas Erupsi Gunung Merapi
Menurut Teori Tektonik Lempeng, Pulau Jawa adalah bagian dari suatu sistem penunjaman yang saat ini terjadi di Samudera Hindia, di sebelah selatan Pulau Jawa. Dalam sistem penunjaman itu, Pulau Jawa merupakan busur magmatik. Dengan demikian, kehadiran Gunung Merapi berkaitan dengan sistem penunjaman tersebut. Ilustrasi kondisi tersebut seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Sketsa sistem penunjaman yangmemperlihatkan hubungan antara penunjaman lempeng, gempa dan volkanisme (Sumber: Wikpedia).
Gempa yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 itu, berdasarkan pada lokasi pusat gempanya dapat dikatakan merupakan gempa tektonik. Guncangan gempa tersebut terasa sampai ke Semarang, dan Kudus di utara, Banyumas di barat, Blora dan Madiun di timur. Melihat lokasi pusat gempa dan luasnya daerah yang terpengaruh oleh guncangan gempa, dapat disimpulkan bahwa gempa tersebut telah mengguncang bagian tengah Pulau Jawa. Dengan demikian dapat pula dipastikan bahwa gempa itu juga telah mengguncang tubuh Gunung Merapi.
Dalam suatu proses erupsi gunungapi, meningkatnya erupsi gunungapi berkaitan erat dengan proses bergerak-naiknya magma di dalam tubuh gunungapi dan kemudian keluar melalui kawah gunungapi. Meningkatnya erupsi Gunung Merapi setelah terjadinya gempa menunjukkan bahwa sangat mungkin guncangan gempa tersebut telah mempengaruhi Gunung Merapi dalam bentuk pengaruh yang meningkatkan aktifitas magma yang bergerak naik. Kesimpulan ini diambil dari mengamati tingkat erupsi Gunung Merapi sebelum gempa terjadi yang cenderung menurun. Tercatat bahwa beberapa hari sebelum gempa, aktifitas erupsi Gunung Merapi meningkat sehingga statusnya ditingkatkan menjadi "Awas". Ketika itu terjadi luncuran awan panas mencapai jarak 4 km. Setelah itu, erupsi cenderung menurun. Ketika erupsi sedang menurun inilah gempa terjadi, dan kemudian disusul dengan kembali meningkatnya erupsi (Gambar 2).
Gambar 2. http://photos1.blogger.com/blogger/6033/2572/1600/Seismisitas%20Merapi-v03-verysmall.jpg
Salam,
Wahyu
Tuesday, May 23, 2006
Bumi dan Manusia
--- Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@gmail.com> wrote:
> > Bagaimana dengan geologist.
> Geologist sering terjebak dengan dimensi waktu ketika berbicara tuhan.
> Terutama ketika mengetahui bahwa dulu manusia itu belum ada, kemudian manusia itu ada.
Geologis ngak perlu bingung. Tidak ada ketentuan atau yang menyebutkan bahwa manusia harus ada bersamaan dengan adanya Bumi. Apa lagi bila manusia ada sebelum ada Bumi, sangat ngak logis.
Bagi seorang muslim, cukup jelas bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Artinya Bumi harus ada dahulu, baru manusia ada. Dan, Keberadaan Bumi bukan karena adanya manusia, tetapi sebaliknya, manusia ada karena ada Bumi yang memerlukan seorang khalifah untuk memakmurkannya.
Kalau kita pelajari kondisi lingkungan hidup sekarang.Dan, juga kita cermati waktu pemunculan manusia. Sangat jelas bahwa Bumi ini memang disiapkan untuk manusia. Manusia tidak ikut di dalam bagian sangat besar waktu dan proses pembentukan lingkungan hidup diBumi yang sekarang ini kita nikmati.
Yang menjadi persoalan mungkin adalah ketidak-tahuan manusia tentang bagaimana manusia muncul di Bumi.
Tentang pemunculan manusia, rasanya akan mudah dipahami bila kita mau mengamati bagaimana pertumbuhan pohon yang dimulai dari sebutir biji.
Salam,
Wahyu
Wednesday, April 26, 2006
Mengendalikan dan Memanfaatkan Alam
Tentang perubahan lingkungan akibat aktifitas manusia? Itu suatu pilihan. Bisa diperhitungkan neraca untung ruginya. Untuk Terusan Suez atau Panama misalnya. Bila tidak dibuat hanya karena takut lingkungan berubah atau rusak, sampai sekarang manusia yang berlayar masih harus berkeliling ujung Afrika dan Amarika Selatan. Kerusakan ada, tapi keuntungan jauh lebih besar.
Prinsipnya, alam itu harus dipelajari, dikonservasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Ketiga hal itu harus seimbang.
Tentang menaklukkan Gunung Merapi? Jangan mimpilah! Mengapa harus ditaklukkan? Saat ini Gunung Merapi sedang memenuhi kodratnya untuk "mengeluarkan" isi perutnya yang nanti akan menjadi lahan yang subur bagi manusia untuk bercocok tanam dan berternak. Toh apa pun yang akan dikeluarkan oleh Gunung Merapi nanti untuk kepentingan manusia juga. Karena itu, apa salahnya untuk sementara manusia "menyingkir" dahulu. Sebentar saja. Bayangkan, kalau Gunung Merapi mengikuti keinginan manusia.
Untung manusia hadir setelah gunung, laut dan segalanya siap untuk dimanfaatkan. Kalau tidak, mungkin manusia akan berkeinginan jangan ada letusan gunung api, jangan ada gempa, jangan ada erosi, jangan ada banjir, jangan ada badai, dan lain sebagainya yang oleh manusia sekarang dipandang sebagai bencana. Padahal semua itu bagian dari skenario memakmurkan bumi dari yang menciptakannya untuk kepentingan manusia.
Salam,
Wahyu
NB. Ketika tulisan ini dibuat, Gunung Merapi di Jawa Tengah sedang aktif dan dalam kondisi siaga. Penduduk telah diungsikan, dan berbagai pihak telah bersiap melakukan tindakan bila Gunung Merapi benar-benar meletus. Di dalam diskusi IAGI.net, sempat ada yang melontarkan gagasan agar gunungapi itu dibom agar tekanan magmanya berkurang sehingga letusan dahsyat yang dibayangkan tidak akan terjadi.
Saturday, April 22, 2006
Menunggu kabar baik dari Gunung Merapi
Dari berita-berita terakhir itu, tampaknya kita semua telah siap untuk menghadapi erupsi Gunung Merapi bilabenar-benar terjadi.
Selama "menunggu" perubahan status itu sebenarnya ada persoalan lain yang perlu perhitungkan. Pertanyaannya adalah "Berapa lama kita harus menunggu?". Berapa lama penduduk harus berada di pengungsian dengan segala ketidak-nyamanan dan ketidak-pastian?, Bagaimana dengan nafkah hidup mereka selama dipengungsian?, Bagaimana dengan pengawasan terhadap keamanan harta benda yang mereka tinggalkan selama mengungsi?
Setelah semua bersiaga dan menunggu. Tantangan terbesar sekarang ada dipundak para ahli volkanologi untuk memastikan apakah akan terjadi erupsi atau tidak. Mereka harus dapat menjawab pertanyaan yang nantinya akan muncul, yaitu: "Kapan kami boleh pulang?", dari para pengungsi bila mereka mulai jemu dan menjadi tidak sabar di pengungsian. Itulah tantang yang sedang kita hadapi sekarang. Daya tahan dan kesabaran penduduk untuk tetap dipengungsian. Kemampuan Pemerintah mengakomodasi mereka selama di pengungsian. Kemampuan para ahli membacaGunung Merapi. Dan, kredibilitas Pemerintah danIlmuwan serta keselamatan penduduk menjadi taruhannya.
Pada kasus erupsi gunung De Colima episode 1998-2000di Meksiko (Gavilanes-Ruiz, 2000), evakuasi dilakukansampai 3 (tiga) kali.
Semoga kita segera mendengar kabar baik dari Gunung Merapi, sebelum kesabaran habis dan kredibilitas runtuh.
Salam,
WBS
Thursday, April 20, 2006
Mitigasi Bencana Gunungapi yang Sukses: pelajaran dari Filipina dan Meksiko
Dari Filipina, Corpuz et al. (2000) menyebutkan sukses tersebut ditentukan oleh 4 hal:
1). pengamatan terus menerus sepanjang waktu,
2). asesmen bencana bertahun-tahun,
3). pemerintah pusat dan lokal yang responsif,
4). sedikit KEBERUNTUNGAN.
Dari Meksiko, Ganivales-Ruiz (2000) menyebutkan mitigasi bencana gunungapi tidak akan berhasil hanya dengan penelitian dan monitoring aktifitas gunungapi. Diperlukan juga pemahaman lingkungan sosial masyarakat setempat. Untuk mendapatkan partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana, pemerintah dan ilmuwan perlu memandang serius batas-batas bencana yang dapat diterima oleh masyarakat. Untuk itu diperlukan dukungan penelitian geo-sosial dan aktifitas komunkasi bencana dengan memasukkan spesialis yang ahli dalam kerentanan sosial dalam komite ilmiah gunungapi aktif.
Kemudian, dari Meksiko disebutkan pula bahwa: kemampuan memprediksi terjadinya erupsi gunungapi dan efeknya dalam bentuk suatu Peta Daerah Bahaya merupakan kunci utama keberhasilan kegiatan mitigasi. Kemampuan tersebut dikatakan sangat penting karena:
1). dengan kemampuan itu dapat ditentukan apa yang harus dilakukan dalam upaya mitigasi,
2). peta bahaya sangat diperlukan bagi penyusunan rancangan pengelolaan bencana ketika bencana ituterjadi,
3). kredibilitas pemerintah dan para ilmuwan dipertaruhkan di hadapan masyarakat yang terancam bahaya erupsi gunungapi, dan ini mempengaruhi sukses atau tidaknya upaya mitigasi bencana. Berkaitan dengan kondisi Gunung Merapi saat ini, yang perlu dilakukan adalah:
1). ilmuwan terus berupaya mengamati tingkah laku gunungapi dalam upaya memprediksi waktu terjadinya erupsi dan bahaya yang akan terjadi,
2). pemerintah pusat dan daerah terus melakukan persiapan untuk melakukan tindakan penyelamatan bila bencana itu benar-benar terjadi,
3). para ilmuwan beserta pemerintah (pusat dan daerah) hendaknya berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan berkaitan dengan prediksi waktu terjadinya erupsi untuk menjaga kredibilitas di mata masyarakat. Perlu disadari bahwa peringatan yang semu (false alarm) akan memunculkan masalah sosial-ekonomi bagi penduduk yang dievakuasi, dan dapat menghilangkan kredibilitas pemerintah serta ilmuwan di hadapan masyarakat yang perlu dievakuasi.
Salam,
WBS
Disarikan dari:
Setyawan, W.B., 2001. Mitigasi bencana gunungapi yang sukses: pelajaran dari Filipina dan Meksiko. Alami, vol. 6, no. 2: 42-46.

